NUSANTARA

Menghidupkan Ruang Publik dan Gotong Royong Lewat Meuseuraya Maulid Nabi di Aceh Besar

×

Menghidupkan Ruang Publik dan Gotong Royong Lewat Meuseuraya Maulid Nabi di Aceh Besar

Sebarkan artikel ini
Cek Medya Hus menjadi pembicara pada Workshop Drama Musikal dan Pentas Budaya Meuseuraya Maulid Nabi di Kota Jantho, Aceh Besar, Kamis (3/9/2026). Foto: Dok. MB

MITRABERITA.NET | Dari lantunan shalawat, panggung drama musikal, pawai budaya, hingga aktivitas memasak dan makan bersama, tradisi Maulid Nabi dihadirkan dalam wajah yang lebih hidup di tengah masyarakat Aceh Besar.

Melalui Meuseuraya Maulid Nabi, Lapangan Beungong Jeumpa, Kota Jantho, pada 2–3 September 2026, tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan.

Ruang publik tersebut berubah menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, tempat masyarakat berkesenian, belajar, berbagi, sekaligus menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Aceh.

Mengusung tema “Pengelolaan Tradisi Religius sebagai Pilar Pemajuan Kebudayaan yang Inklusif, Harmonis, dan Berkelanjutan di Kabupaten Aceh Besar”, kegiatan ini memadukan nilai keagamaan dengan pemajuan kebudayaan melalui berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari seminar dan workshop, pawai budaya Islami, pembacaan shalawat, pertunjukan seni dan tradisi, drama musikal, hingga kenduri Maulid Nabi.

Program tersebut digagas dan dilaksanakan oleh Benni Andika, M.Sn., dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, dengan dukungan Program Dana Indonesiana Tahun 2025.

Pendanaan melibatkan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia Raya, dan LPDP, serta mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, ISBI Aceh, dan sejumlah sanggar komunitas di Aceh Besar.

Ketua Pelaksana Benni Andika mengatakan, Meuseuraya Maulid Nabi lahir dari kegelisahan sekaligus harapan agar tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi tetap menjadi sesuatu yang dilakukan, dirasakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, perayaan Maulid Nabi di Aceh memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar seremoni keagamaan. Di dalamnya terdapat praktik sosial dan kebudayaan yang mempertemukan masyarakat melalui shalawat, kenduri, memasak bersama, makan bersama, seni pertunjukan, serta berbagai bentuk interaksi antargenerasi.

“Meuseuraya bukan sekadar bekerja bersama. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, kepedulian, kebersamaan, tanggung jawab, dan rasa memiliki terhadap kehidupan bersama,” ujar Benni dalam sambutannya.

Ia menggambarkan, ketika masyarakat berkumpul untuk mempersiapkan kenduri, yang terlihat bukan hanya aktivitas memasak. Di sana berlangsung proses pewarisan pengetahuan.

Orang tua mengajarkan pengalaman kepada generasi muda, pemuda membantu orang tua, sementara anak-anak belajar melalui apa yang mereka lihat dan alami secara langsung.

Tradisi yang Dihidupkan, Bukan Sekadar Dipertontonkan

Salah satu daya tarik utama Meuseuraya Maulid Nabi adalah pertunjukan drama musikal berjudul “Meuseuraya”. Pertunjukan tersebut menjadi medium untuk menyampaikan nilai-nilai Maulid sekaligus menggambarkan kembali hubungan generasi muda dengan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

Penampilan tersebut mendapat perhatian masyarakat Kota Jantho. Antusiasme warga bahkan memunculkan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan tidak berhenti pada satu momentum.

Konsep kegiatan memang sengaja menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku kebudayaan. Generasi muda, komunitas seni, tokoh agama, pelajar, kelompok perempuan, kelompok disabilitas, hingga masyarakat umum diberi ruang untuk terlibat dalam proses kegiatan.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk memperluas fungsi ruang publik. Lapangan Beungong Jeumpa tidak hanya diposisikan sebagai ruang terbuka, tetapi sebagai tempat masyarakat bertemu, belajar, berekspresi, berkesenian, dan memperkuat identitas budaya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, Cut Jarita, turut memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut. Acara selanjutnya dibuka oleh Ketua Jurusan Seni Pertunjukan, Angga Eka Karina.

Mengembalikan Makna Ruang Bersama

Semangat Meuseuraya terasa semakin kuat melalui tradisi kenduri. Aktivitas memasak dan makan bersama memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk pertunjukan di atas panggung. Ia juga tumbuh dari aktivitas sederhana yang dilakukan bersama masyarakat.

Dari dapur kenduri, ruang belajar, panggung seni hingga lapangan tempat masyarakat berkumpul, seluruh rangkaian kegiatan memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menjadi media untuk memperkuat hubungan sosial.

Bagi generasi muda, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal tradisi bukan hanya melalui cerita, tetapi dengan terlibat secara langsung di dalamnya.

Ketua Pelaksana juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesia Raya, LPDP, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Besar, ISBI Aceh, para seniman, budayawan, komunitas, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, anak-anak, tim kreatif, aktor, penari, pemusik, panitia, relawan, serta seluruh masyarakat yang ikut menyukseskan kegiatan.

Menurut Benni, hal-hal yang tampak sederhana –memasak bersama, berkesenian bersama, duduk bersama dan makan bersama– justru dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan.

Karena itu, Meuseuraya Maulid Nabi bukan hanya tentang mempertahankan sebuah tradisi, tetapi tentang bagaimana tradisi terus hidup ketika masyarakat diberi ruang untuk mengalami, memahami, dan terlibat di dalamnya.

Editor: Redaksi

Media Online