MITRABERITA.NET | Pengalaman kehilangan akibat bencana banjir di Aceh pada akhir November 2025 lalu diolah menjadi karya tari bertajuk The Soul oleh Ariol Dance Theatre.
Karya tersebut dikembangkan melalui pendampingan dramaturgi berbasis riset dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat di Studio Seni Tari ISBI Aceh, Kamis (20/8/2026).
Pendampingan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara Tahun Pendanaan 2026 yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
The Soul merupakan karya tari kelompok berdurasi sekitar 15 menit yang diciptakan Fifie Febryanti Sukman dan Fitra Airiansyah dengan melibatkan empat penari. Karya ini tidak menghadirkan banjir secara langsung di atas panggung, melainkan menerjemahkan pengalaman bencana melalui bahasa tubuh.
“Karya The Soul berangkat dari pengalaman kehilangan akibat bencana banjir. Kami mencoba menerjemahkan pengalaman tersebut melalui tubuh penari, bukan dengan menghadirkan banjir secara langsung, tetapi melalui rasa jatuh, terseret, kehilangan keseimbangan, hingga proses menerima kehilangan,” ujar Fifie.
Pendekatan dramaturgi digunakan untuk membantu tim menyusun gagasan, alur cerita, perkembangan emosi, hingga pesan yang ingin disampaikan melalui gerak.
“Melalui pendampingan ini, kami belajar bagaimana sebuah gerak tidak hanya menjadi bentuk, tetapi juga memiliki hubungan dengan cerita, emosi, dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton,” katanya.
Dalam karya tersebut, empat roh korban banjir digambarkan terbangun di sebuah ruang asing. Mereka perlahan berusaha memahami peristiwa yang telah terjadi, sementara tubuh mereka menjadi medium untuk menggambarkan jejak hantaman, tarikan, tekanan, kehilangan keseimbangan hingga usaha untuk saling meraih.
Cerita kemudian bergerak dari kebingungan menuju kesadaran dan penerimaan. Bagi para tokoh dalam karya ini, “pulang” tidak lagi sekadar kembali ke kehidupan sebelum bencana, tetapi menjadi proses menerima kehilangan sambil membawa ingatan tentang orang-orang yang telah pergi.
Selain penciptaan karya, program pendampingan juga memperkuat aspek dokumentasi dan pengarsipan proses kreatif Ariol Dance Theatre. Tim mendapat pendampingan dalam penyusunan dokumen dramaturgi, catatan eksplorasi gerak, arsip visual, portofolio karya hingga materi publikasi.
Pengembangan website dan press kit juga menjadi bagian dari program tersebut untuk memperkuat identitas kelembagaan Ariol Dance Theatre sekaligus membuka peluang jejaring seni yang lebih luas, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.
Program ini sekaligus menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara tim pelaksana, koreografer, penari, mahasiswa dan mitra. Metode yang diperoleh selama proses pendampingan diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam produksi karya-karya Ariol Dance Theatre berikutnya.
Melalui The Soul, Ariol Dance Theatre tidak hanya menawarkan pengalaman artistik, tetapi juga mengajak penonton melihat sisi lain dari sebuah bencana. Di balik kerusakan dan kehilangan, terdapat pengalaman emosional, keluarga yang ditinggalkan, serta perjalanan panjang untuk menerima kenyataan dan melanjutkan kehidupan.
Karya tersebut diharapkan mampu menumbuhkan empati dan kesadaran tentang pentingnya solidaritas terhadap masyarakat terdampak bencana.
Dengan bahasa tubuh yang simbolik dan reflektif, The Soul menjadi ruang untuk mengingat, merasakan sekaligus merefleksikan kembali pengalaman kemanusiaan yang pernah terjadi di Aceh.
Editor: Redaksi














