MITRABERITA.NET | Pariwisata Aceh Besar tidak pernah kekurangan potensi. Bentang alam, kekayaan bahari, sejarah, budaya, kuliner, hingga kehidupan masyarakatnya merupakan modal besar yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi sekaligus identitas daerah.
Namun, potensi destinasi tidak akan bergerak maksimal tanpa sumber daya manusia yang mampu mengemas, menjaga, dan memperkenalkannya kepada publik. Di titik inilah anak muda memiliki posisi strategis.
Ikatan Duta Wisata Aceh Besar memandang Pemilihan Duta Wisata bukan sekadar agenda tahunan untuk memilih putra-putri terbaik daerah. Lebih dari itu, ajang tersebut merupakan ruang strategis untuk menyiapkan generasi muda yang memiliki kapasitas, wawasan, kreativitas, kemampuan komunikasi, serta kepedulian terhadap pembangunan daerah.
Setiap tahun, anak-anak muda Aceh Besar datang membawa gagasan dan kemampuan masing-masing. Mereka tidak hanya memiliki potensi sebagai promotor pariwisata, tetapi juga dapat menjadi penggerak budaya, kreator konten, penghubung komunitas, hingga representasi positif Aceh Besar di berbagai ruang.
Karena itu, keberadaan Duta Wisata semestinya ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan pariwisata daerah, bukan berhenti sebagai kegiatan seremonial atau kepemudaan yang berakhir setelah masa pemilihan selesai.
Semangat tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan yang menempatkan pemuda sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam pembangunan. Pemerintah dan pemerintah daerah juga memiliki peran dalam pelayanan, pemberdayaan, pengembangan, serta kemitraan dengan pemuda.
Dalam konteks pariwisata, keterlibatan generasi muda menjadi semakin penting. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, sebagaimana telah diubah terakhir melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2025, menempatkan pembangunan pariwisata dalam kerangka keberlanjutan, penguatan sumber daya manusia, promosi, budaya, serta partisipasi masyarakat.
Artinya, melibatkan anak muda dalam pembangunan pariwisata bukan sekadar pilihan tambahan. Mereka merupakan bagian dari sumber daya yang dapat menghidupkan ekosistem pariwisata, terutama di tengah perubahan pola promosi yang semakin bergeser ke ruang digital.
Seorang Duta Wisata hari ini tidak cukup hanya pandai berbicara di atas panggung. Mereka dituntut mampu menjadi storyteller destinasi, pembuat konten, promotor budaya, penggerak kegiatan masyarakat, sekaligus jembatan komunikasi antara pemerintah dan generasi muda.
Aceh Besar memiliki modal untuk itu. Melalui Ikatan Duta Rayeuk, para duta telah memiliki ruang untuk bergerak melalui berbagai kegiatan seperti Saweu Sikula, Meurunoe Budaya, Educamp, Rayeuk Trip, Haba Rayeuk, Aksi Sapta Pesona, hingga Ramadhan Inspiratif.
Program-program tersebut menunjukkan bahwa Duta Wisata dapat mengambil peran yang lebih luas. Mereka dapat mengedukasi masyarakat tentang sadar wisata, memperkenalkan budaya, mengeksplorasi destinasi, mengembangkan kapasitas pemuda, menjaga lingkungan, sekaligus terlibat dalam kegiatan sosial.
Karena itu, tantangan berikutnya bukan sekadar memastikan pemilihan Duta Wisata terlaksana setiap tahun. Yang jauh lebih penting adalah memastikan ada keberlanjutan setelah mahkota dan selempang diberikan.
Pemerintah Kabupaten Aceh Besar diharapkan terus memberikan ruang, pembinaan, fasilitasi, dan dukungan bagi Duta Wisata serta Ikatan Duta Rayeuk. Dukungan tersebut bukan semata-mata karena mereka membawa nama Duta Wisata, tetapi karena mereka merupakan potensi sumber daya manusia daerah yang masih dapat dikembangkan.
Ke depan, pembinaan perlu diarahkan pada peningkatan kemampuan public speaking, content creation, digital marketing, hospitality, storytelling, dan kepemimpinan. Duta juga dapat dilibatkan lebih aktif dalam promosi destinasi, festival budaya, desa wisata, agenda daerah, hingga kampanye pariwisata berbasis digital.
Pada saat yang sama, program kerja Ikatan Duta Rayeuk perlu disinergikan dengan agenda pemerintah daerah agar memiliki dampak yang lebih luas dan tidak berjalan sendiri. Kolaborasi dengan masyarakat, pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, serta pengelola desa wisata juga penting untuk membangun ekosistem pariwisata yang lebih kuat.
Pada akhirnya, Duta Wisata bukan tentang sebuah gelar. Lebih jauh, ini adalah kesempatan bagi anak muda Aceh Besar untuk belajar, berkembang dan mengabdi kepada daerah.
Setiap anak muda yang terpilih diharapkan tidak berhenti pada kebanggaan menjadi Agam dan Inong Duta Wisata, tetapi melanjutkan langkah dengan membawa nama Aceh Besar, mengenalkan kekayaan daerah, menjaga budayanya, sekaligus menciptakan manfaat bagi masyarakat.
Sebab pariwisata tidak hanya membutuhkan destinasi yang indah. Pariwisata juga membutuhkan manusia yang mampu mengenalkan, menjaga, mengembangkan dan menggerakkannya.
Aceh Besar memiliki potensi. Aceh Besar juga memiliki generasi muda. Tantangannya kini adalah bagaimana keduanya dipertemukan melalui ruang, pembinaan dan kesempatan yang berkelanjutan.
Pemilihan Duta Wisata Aceh Besar semestinya tidak berhenti pada menemukan duta. Lebih dari itu, ia harus menjadi investasi untuk menemukan, membina dan menggerakkan generasi terbaik Aceh Besar bagi masa depan pariwisata daerah.
Editor: Redaksi



















