EKONOMI & BISNIS

Dr. Amri: Gas Andaman Harus Jadi Lokomotif Kebangkitan Ekonomi Aceh

×

Dr. Amri: Gas Andaman Harus Jadi Lokomotif Kebangkitan Ekonomi Aceh

Sebarkan artikel ini

MITRABERITA.NET | Potensi besar cadangan gas di kawasan Andaman diharapkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi Aceh, bukan sekadar proyek eksploitasi sumber daya alam yang manfaatnya lebih banyak dirasakan di luar daerah. Hal itu disampaikan Pengamat Ekonomi dan Bisnis, Dr. Amri, SE., MSi.

Menurut Dr. Amri, Aceh memiliki pengalaman panjang dalam industri minyak dan gas bumi (migas), terutama saat menjadi salah satu pusat produksi gas alam cair terbesar di dunia melalui Arun LNG.

Namun, sejarah juga memberikan pelajaran penting bahwa kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat apabila nilai tambah ekonominya tidak dinikmati oleh daerah penghasil.

“Yang harus menjadi perhatian utama hari ini adalah bagaimana kekayaan alam Aceh, khususnya gas Andaman, mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh,” ujar Dr. Amri, Rabu (3/6/2026).

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK) itu menegaskan bahwa Aceh tidak pernah menolak investasi. Sebaliknya, investasi sangat dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun investasi yang masuk harus memberikan dampak langsung bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sektor usaha lokal, serta tumbuhnya industri turunan yang berkelanjutan.

Terkait rencana pengembangan gas Andaman, Dr. Amri menilai keinginan Pemerintah Aceh agar sebagian proses pengolahan dilakukan di daratan Aceh melalui pembangunan Onshore Processing Facility (OPF) merupakan langkah yang rasional dan memiliki dasar ekonomi yang kuat.

Menurutnya, keberadaan fasilitas pengolahan di darat akan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang besar bagi perekonomian Aceh. Selain membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal, keberadaan fasilitas tersebut juga akan mendorong pertumbuhan UMKM, meningkatkan aktivitas pelabuhan, serta membuka peluang berkembangnya industri hilir berbasis gas di Aceh.

“Yang diperjuangkan bukan sekadar lokasi proyek, tetapi bagaimana Aceh memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari sumber daya yang dimilikinya,” katanya.

Dr. Amri menekankan bahwa migas harus dipandang sebagai instrumen pembangunan daerah yang mampu memperkuat struktur ekonomi Aceh. Kekayaan alam, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi komoditas yang diambil dan dikirim keluar tanpa memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

Karena itu, ia mendorong adanya sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, investor, akademisi, dan masyarakat dalam merumuskan tata kelola migas yang berkelanjutan dan berkeadilan.

“Keberhasilan proyek migas tidak hanya diukur dari berapa banyak gas yang diproduksi, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat di daerah penghasilnya,” tegasnya.

Menurut Akademisi USK tersebut, pengembangan migas yang berkeadilan akan menjadi fondasi penting bagi masa depan Aceh, sekaligus memastikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki daerah benar-benar menjadi sumber kesejahteraan bagi rakyatnya.[]

Media Online