MITRABERITA.NET | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyasar pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta berbagai pelaku usaha pangan di daerah.
Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Aceh, Mustafa Kamal, mengatakan kebutuhan bahan pangan untuk pelaksanaan MBG dapat menciptakan pasar yang lebih luas bagi produk pertanian dan pangan lokal.
“Program MBG ini bukan hanya soal pemenuhan gizi. Ada dampak ekonomi yang kita harapkan dirasakan masyarakat, termasuk petani dan UMKM. Bahan pangan yang dibutuhkan SPPG dapat diperoleh dari daerah sehingga ikut menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujar Mustafa Kamal, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar menjadi peluang bagi petani dan pelaku usaha lokal untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas pemasaran.
Berbagai komoditas seperti beras, sayuran, buah-buahan, telur, ikan dan bahan pangan lainnya dapat menjadi bagian dari rantai pasok program apabila memenuhi persyaratan kualitas, keamanan pangan dan kebutuhan SPPG.
Mustafa mengatakan keterlibatan pelaku usaha lokal juga dapat membantu membangun ekosistem pangan yang lebih kuat di daerah. SPPG tidak berdiri sendiri, tetapi membutuhkan dukungan rantai pasok agar pelayanan MBG dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Kalau bahan pangan bisa diserap dari petani dan pelaku usaha di daerah, maka uang yang berputar dari program ini juga dapat memberikan manfaat bagi ekonomi masyarakat setempat,” katanya.
Selain petani, UMKM juga memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam rantai pasok MBG, terutama usaha yang bergerak di sektor pangan dan kebutuhan pendukung lainnya.
Namun, Mustafa menegaskan bahwa peluang ekonomi tersebut tetap harus berjalan seiring dengan standar yang ditetapkan. Kualitas bahan pangan, keamanan pangan, kontinuitas pasokan dan kemampuan memenuhi kebutuhan SPPG menjadi hal yang harus diperhatikan.
BGN Regional Aceh terus mendorong pengelola SPPG untuk membangun koordinasi dengan berbagai pihak sehingga kebutuhan bahan pangan dapat dipenuhi dengan baik, sekaligus membuka ruang bagi pelaku ekonomi lokal.
Menurut Mustafa, jika ekosistem tersebut berjalan dengan baik, manfaat MBG dapat dirasakan lebih luas, bukan hanya oleh penerima manfaat program, tetapi juga oleh masyarakat yang berada dalam rantai produksi dan penyediaan pangan.
“Harapannya, MBG memberikan manfaat berlapis. Anak-anak mendapatkan makanan bergizi, sementara petani, UMKM dan pelaku usaha lokal juga mendapatkan peluang untuk mengembangkan usahanya,” ujar Mustafa.
Dengan keterlibatan masyarakat dalam rantai pasok, Program MBG diharapkan dapat berjalan sebagai program pemenuhan gizi sekaligus ikut mendorong aktivitas ekonomi daerah.[]






















