MITRABERITA.NET | Keteladanan Nabi Muhammad SAW tidak hanya untuk ditiru ketika berada di masjid atau saat menjalankan ibadah. Nilai uswatun hasanah atau teladan yang baik harus hadir dalam setiap ruang kehidupan, kapan pun dan di mana pun manusia berada.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Tgk. Misran Fuadi, S.Ag., MAP., dalam ceramah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, yang turut dihadiri Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris, Plt Sekda Aceh Taufik, ST, M.Si., Ketua DPRK Banda Aceh, serta jajaran Forkopimda Aceh.
Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah memahami secara lebih luas makna uswatun hasanah yang disebut dalam Al-Qur’an. Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW tidak dibatasi oleh tempat maupun waktu sehingga harus menjadi pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.
“Uswatun hasanah tidak dibatasi oleh waktu. Uswatun hasanah tidak dibatasi oleh ruang dan tempat,” ujarnya.
Karena itu, keteladanan Nabi tidak hanya ditampilkan ketika seseorang berada di masjid dengan pakaian ibadah. Seorang pegawai harus menghadirkan uswatun hasanah di tempat kerja, seorang petani dalam pekerjaannya, aparat dalam menjalankan tugas, dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, uswatun hasanah merupakan semacam cetak biru kehidupan. Ia menjadi acuan untuk membangun perilaku yang baik dalam berbagai bidang, sebagaimana Rasulullah SAW memberikan teladan melalui perkataan, perbuatan, dan akhlaknya.
Ia kemudian mengutip penjelasan Sayyidah Aisyah RA ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW. Jawabannya menggambarkan betapa luasnya akhlak Nabi, yakni bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an.
Makna tersebut menunjukkan bahwa akhlak Rasulullah mencakup keseluruhan ajaran kehidupan. Mulai dari keteguhan akidah, ketaatan dalam beribadah, hingga cara berinteraksi dengan sesama manusia.
Belajar Menjaga Lisan di Era Media Sosial
Salah satu bentuk keteladanan yang dinilai semakin penting saat ini adalah cara berbicara dan cara menggunakan bahasa.
Penceramah mengingatkan bahwa masyarakat hari ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga ucapan dan tulisan, terutama di tengah derasnya penggunaan media sosial.
Kebencian tidak lagi hanya disampaikan secara langsung, tetapi dapat disebarkan melalui tulisan dan ruang digital yang dapat diakses banyak orang.
Padahal, menurutnya, tidak ditemukan keteladanan Rasulullah SAW dalam bentuk bahasa yang provokatif, menghujat, ataupun merusak. Sebaliknya, bahasa Nabi selalu produktif, konstruktif, dan membawa kebaikan.
Karena itu, memperingati Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki cara berbicara, menulis, dan menyampaikan informasi.
“Saring sebelum sharing,” katanya mengingatkan jamaah.
Nasihat tersebut menjadi sangat relevan di tengah kebiasaan masyarakat yang begitu mudah membagikan informasi. Setiap kata dan tulisan, menurutnya, harus dipertimbangkan agar tidak melukai, memprovokasi, atau merugikan orang lain.
Nabi Muhammad, Sang Problem Solver
Keteladanan Nabi juga terlihat dari kemampuannya menyelesaikan persoalan tanpa merugikan siapapun pun, tidak ada pihak yang merasa menang atau kalah.
Salah satu kisah yang disampaikan adalah ketika masyarakat Makkah berselisih mengenai siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad setelah Ka’bah mengalami kerusakan akibat banjir.
Perselisihan tersebut bahkan membuat kelompok-kelompok yang terlibat bertengkar selama beberapa hari. Masing-masing merasa paling berhak mendapatkan kehormatan mengangkat batu suci tersebut.
Nabi Muhammad SAW kemudian hadir sebagai sosok yang dipercaya untuk menyelesaikan persoalan. Beliau tidak memilih salah satu kelompok sebagai pemenang. Sebaliknya, Nabi menghadirkan solusi yang memungkinkan seluruh kelompok terlibat.
Sebuah kain dibentangkan, Hajar Aswad diletakkan di atasnya, kemudian setiap kelompok memegang bagian kain dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai di tempatnya, Nabi Muhammad SAW kemudian meletakkan Hajar Aswad pada posisinya.
Dari kisah tersebut, menurut penceramah, Rasulullah mengajarkan pentingnya kerja sama dan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan.
“Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah,” demikian inti pelajaran dari kisah tersebut. Semua pihak memperoleh bagian dan merasa dihargai.
Konsep itulah yang kemudian dikenal sebagai win-win solution, yakni penyelesaian yang tidak mengorbankan salah satu pihak demi kepentingan pihak lainnya.
Akhlak sebagai Bingkai Kehidupan
Dalam ceramahnya, ia juga membedakan antara akhlak, moral, dan etika. Moral dan etika dapat memiliki ukuran berbeda berdasarkan masyarakat, budaya, dan lingkungan masing-masing.
Namun, akhlak bagi seorang Muslim memiliki landasan yang lebih kuat karena bersumber dari Al-Qur’an dan hadis serta dicontohkan secara nyata oleh Rasulullah SAW.
Karena itu, perbedaan kebiasaan antardaerah tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Perbedaan budaya dan etika merupakan bagian dari keragaman kehidupan manusia.
Yang harus menjadi titik temu adalah akhlak, yakni bagaimana seseorang tetap mampu membedakan dan menjalankan kebaikan berdasarkan tuntunan agama.
Pada bagian akhir ceramah, jamaah diajak menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai kesempatan memperkuat persatuan.
Perbedaan disebut sebagai sunnatullah. Manusia memang diciptakan dengan latar belakang, budaya, profesi, dan karakter yang berbeda. Namun, agama mengajarkan agar perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk terpecah.
Persatuan dapat dibangun melalui tiga bentuk persaudaraan. Pertama, ukhuwah Islamiyah, yakni persaudaraan sesama umat Islam. Kedua, ukhuwah wathaniyah, persaudaraan sebagai sesama anak bangsa dan warga negara. Ketiga, ukhuwah insaniyah, persaudaraan sebagai sesama manusia ciptaan Allah SWT.
Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui perayaan Maulid. Kecintaan itu harus diterjemahkan dalam perilaku nyata: menjaga lisan, menghormati orang lain, menyelesaikan persoalan dengan bijaksana, bekerja sama, serta menjaga persatuan.
Sebab, uswatun hasanah bukan sekadar kisah tentang masa lalu. Ia adalah pedoman kehidupan yang tetap relevan di mana pun manusia berada dan kapan pun zaman berubah.
Editor: Redaksi






















