MITRABERITA.NET | Universitas Syiah Kuala memberikan pembekalan kepada 2.124 mahasiswa yang akan mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler periode XXIX dan Tematik Literasi Tahun 2026.
Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh, (1/7/2026).
Kepala Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata USK Hasanuddin S.P., M.Si mengatakan, 2.124 mahasiswa KKN ini akan ditempatkan pada empat kabupaten yaitu Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya dan Bireuen.
Hasanuddin mengungkapkan, KKN periode ini masih berfokus pada upaya membangkitkan kembali semangat masyarakat pascabencana melalui penggalian potensi yang dimiliki setiap gampong.
Untuk itulah, tema KKN kali ini adalah “Penguatan Capacity Development Kebencanaan melalui KKN di Wilayah Pascabencana”. Tema ini menjadi landasan bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana sekaligus mendukung proses pemulihan wilayah terdampak.
“Selain itu, mahasiswa juga diharapkan memberikan perhatian terhadap isu literasi, mengingat minat masyarakat terhadap membaca buku dinilai semakin menurun dan mulai tergeser oleh konsumsi konten digital seperti YouTube dan TikTok,” ucapnya.
Wakil Kepala Bidang Pengembangan Riset Kolaborasi dan Hilirisasi LPPM USK Prof. Dr.drh. Basri, M.Si mengatakan, KKN merupakan bagian dari transformasi USK dalam merespon berbagai kebutuhan masyarakat. tidak hanya di Aceh, tetapi juga pada tingkat nasional hingga kawasan ASEAN.
Komitmen tersebut tercermin melalui keterlibatan USK dalam program KKN Internasional, yang menjadi salah satu wujud penguatan jejaring dan kontribusi universitas di tingkat global.
Selanjutnya, dirinya berpesan kepada mahasiswa untuk menjunjung tinggi integritas sebagai bagian dari masyarakat akademik. Ia juga menegaskan pentingnya menjalankan seluruh program kerja KKN yang telah dirancang dan dipersiapkan sebelum mahasiswa diterjunkan ke lapangan.
Prof. Basri juga meminta mahasiswa untuk memusatkan perhatiannya pada program yang telah menjadi mandat KKN dan menghindari keterlibatan dalam aktivitas yang tidak berkaitan dengan tujuan pengabdian, terutama kegiatan yang berpotensi menimbulkan sensitivitas politik di masyarakat.
“Dengan demikian, program-program yang dijalankan benar-benar dapat menjadi warisan yang bermanfaat dan memperkuat keberlanjutan pembangunan di tingkat gampong,” ucapnya.
Selain menjalankan program utama, mahasiswa juga didorong untuk mengimplementasikan keilmuan sesuai bidang studi masing-masing. Misalnya, mahasiswa dari bidang teknologi informasi diharapkan dapat membantu masyarakat memperkuat sistem komunikasi, pemanfaatan teknologi di gampong.
“Karena kami berharap, Kehadiran mahasiswa tidak hanya dirasakan selama masa pengabdian berlangsung, tetapi juga memberikan dampak positif yang tetap dikenang masyarakat hingga bertahun-tahun kemudian,” ucapnya.
Selanjutnya, dr. Okta mengatakan, KKN merupakan momentum bagi mahasiswa untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat melalui implementasi ilmu pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
“Karena itu, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak boleh dipandang sebagai “menara gading” yang jauh dari kehidupan masyarakat, melainkan harus hadir lebih dekat dan mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat,” ucapnya.
Dr. Okta mengungkapkan, salah satu fokus pada KKN tahun ini adalah penguatan literasi. Di era digital, literasi menjadi kemampuan yang semakin penting karena dapat membuka wawasan serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan.
Selama ini USK telah menjalin kolaborasi dengan Perpustakaan Nasional dalam berbagai program literasi. Kerja sama tersebut semakin diperkuat setelah bencana siklon tropis yang melanda Aceh pada akhir tahun lalu.
“USK secara intensif menggalang donasi buku yang kemudian didistribusikan kepada anak-anak di wilayah terdampak bencana. Program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan literasi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemulihan psikososial (healing) bagi anak-anak pascabencana,” ucapnya.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk memahami kondisi lapangan dengan memperbanyak informasi mengenai situasi di wilayah penempatan. Meskipun bencana telah berlalu sekitar delapan bulan, kondisi masyarakat di sejumlah lokasi masih memerlukan perhatian dan pendampingan.
“Maka kami berharap kehadiran mahasiswa KKN dapat menjadi bagian dari upaya memulihkan semangat masyarakat serta sedikit meringankan luka yang masih dirasakan oleh para penyintas bencana,” ucapnya.[]






















