MITRABERITA.NET | Sebanyak 10 mahasiswa berprestasi dari Program Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK), sukses menyelesaikan program pertukaran pelajar (student exchange) di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).
Program yang berlangsung selama dua pekan, sejak 29 Maret hingga 13 April 2026 ini menjadi langkah strategis dalam memperluas jejaring internasional sekaligus memperdalam pemahaman terhadap ekosistem keuangan syariah di kawasan Asia Tenggara.
Selama mengikuti program, para mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik di ruang kelas, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan ilmiah.
Mereka mengikuti materi intensif seperti Konsep dan Prinsip Zakat, Asas Perniagaan dan Pembiayaan dalam Islam, serta Ekonomi Islam. Diskusi kelompok, presentasi, hingga pertukaran perspektif terkait implementasi ekonomi syariah di Indonesia dan Aceh turut memperkaya wawasan peserta.
Pengalaman lapangan menjadi salah satu poin penting dalam program ini. Para mahasiswa melakukan observasi langsung ke Pusat Pungutan Zakat (PPZ), yang dikenal memiliki sistem pengelolaan zakat modern dan terintegrasi.
Di sana, mahasiswa mempelajari praktik pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf berbasis digital yang dinilai efektif dan efisien.
“Kami mendapatkan wawasan luar biasa mengenai efisiensi pemungutan zakat di Malaysia yang sangat dimudahkan melalui integrasi saluran fisik dan aplikasi digital. Ini menjadi bahan komparasi yang menarik untuk pengembangan digitalisasi zakat di tanah air,” ujar Cut Ulya Husna, salah satu peserta.
Tidak hanya aspek akademik, suasana kampus UKM juga memberikan kesan mendalam. Kampus tersebut dinilai berhasil mengintegrasikan pembangunan infrastruktur modern dengan pelestarian lingkungan, sehingga menciptakan ekosistem kampus hijau yang berkelanjutan. Model ini dinilai relevan untuk menjadi inspirasi pengembangan kampus di Indonesia.
Program ini juga menghadirkan dimensi diplomasi budaya melalui seminar pertukaran budaya yang melibatkan mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Kegiatan ini menjadi ruang interaksi lintas budaya yang memperkuat pemahaman global sekaligus mempererat hubungan antarbangsa.
Interaksi dengan mahasiswa lokal UKM turut membantu peserta dalam proses adaptasi, mulai dari aktivitas akademik hingga kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus.
Bahkan, pengalaman kuliner atau “food hunting” menjadi bagian menarik yang membuka wawasan baru terkait inovasi makanan yang berpotensi dikembangkan di Aceh.
Program exchange ini ditutup dengan apresiasi tinggi kepada pihak Program Studi Ekonomi Islam FEB USK yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut. Para mahasiswa tidak hanya membawa pulang ilmu pengetahuan, tetapi juga jejaring internasional yang kuat dengan akademisi dan praktisi di Malaysia.
Ke depan, pengalaman ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan diri di tingkat global serta berkontribusi dalam penguatan ekonomi syariah di Indonesia, khususnya di Aceh.
Editor: Redaksi















