DAERAH

Empat Tahun Jembatan Ambruk, Warga Nalung Aceh Timur Masih Menyeberang dengan Rakit

×

Empat Tahun Jembatan Ambruk, Warga Nalung Aceh Timur Masih Menyeberang dengan Rakit

Sebarkan artikel ini
Warga menunggu untuk menyebrang menggunakan rakit, Selasa (22/9/2026). Foto: Mitraberita

MITRABERITA.NET | Sudah empat tahun jembatan utama yang menghubungkan Gampong Simpang Lhee dengan Gampong Naleung, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, ambruk. Namun hingga Selasa (22/9/2026), akses tersebut belum juga diperbaiki.

Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat Desa Naleung hingga kini masih terkendala. Untuk keluar-masuk gampong, warga terpaksa mengandalkan rakit penyeberangan sederhana yang dibuat secara mandiri oleh masyarakat setempat.

Pantauan awak media MITRABERITA.NET, Selasa (22/9/2026), belum terlihat adanya aktivitas pembangunan maupun pekerjaan fisik untuk memperbaiki jembatan yang telah ambruk sejak 2022 tersebut.

Rakit kayu sederhana kini menjadi satu-satunya akses penyeberangan warga. Dalam sekali perjalanan, rakit tersebut hanya mampu membawa sekitar enam hingga delapan sepeda motor.

Warga juga harus membayar biaya setiap kali menggunakan rakit. Masyarakat umum dikenakan tarif Rp5.000 per orang, sedangkan pelajar membayar Rp2.000 per orang.

Bagi warga yang setiap hari harus bekerja, berdagang maupun menjalankan aktivitas lainnya, biaya tersebut menjadi pengeluaran tambahan. Kondisi yang sama dirasakan para pelajar yang harus menggunakan rakit untuk menuju sekolah.

Persoalan bukan hanya soal biaya. Keselamatan warga juga menjadi perhatian, terutama ketika debit air sungai meningkat dan arus menjadi lebih deras.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga mengaku kecewa. Setelah bertahun-tahun menunggu perbaikan, mereka mempertanyakan kapan pemerintah akan memberikan solusi permanen terhadap akses yang menjadi kebutuhan utama masyarakat Naleung.

Salah seorang warga Naleung yang ditemui di lokasi tersebut mengatakan, masyarakat sudah beberapa kali menyampaikan harapan agar jembatan tersebut segera diperbaiki. Bahkan, sejumlah anggota legislatif disebut pernah datang dan menyampaikan janji saat masa kampanye.

“Sudah beberapa kali anggota DPRA bahkan DPR-RI datang ke sini waktu kampanye. Janjinya manis sekali mau memperjuangkan jembatan ini. Tapi kenyataannya, sampai sekarang tidak ada realisasi sama sekali,” ujar salah satu warga Naleung dengan nada kecewa.

Menurut warga, kondisi tersebut tidak seharusnya berlangsung terlalu lama. Jembatan bukan hanya menjadi penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi jalur penting bagi aktivitas ekonomi, pendidikan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Ketergantungan pada rakit membuat mobilitas warga menjadi terbatas. Kendaraan tidak dapat melintas secara langsung seperti sebelum jembatan ambruk, sementara kapasitas rakit juga terbatas sehingga warga harus bergantian menyeberang.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, Pemerintah Aceh dan instansi terkait segera turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi tersebut dan mengambil langkah nyata.

Warga terutama berharap adanya pembangunan kembali jembatan permanen sehingga mereka tidak lagi bergantung pada rakit untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Perbaikan jembatan juga dinilai penting untuk memastikan anak-anak sekolah dapat pergi dan pulang dengan lebih aman, sekaligus membuka kembali akses ekonomi masyarakat yang selama ini terganggu akibat putusnya jalur penghubung tersebut.

Setelah menunggu sejak 2022, warga Naleung kini berharap penanganan jembatan tidak lagi sebatas janji, tetapi diwujudkan dalam pekerjaan nyata di lapangan.

Editor: Redaksi

Media Online