DAERAH

Aktivis Lingkar Tambang Tanggapi Pernyataan Medco: Kondisi Aman Versi Siapa jika Warga Trauma?

×

Aktivis Lingkar Tambang Tanggapi Pernyataan Medco: Kondisi Aman Versi Siapa jika Warga Trauma?

Sebarkan artikel ini
​Aktivis lingkar tambang Aceh Timur, Nuraqi. Foto: Dok. Pribadi

MITRABERITA.NET | Pernyataan manajemen PT Medco E&P Malaka mengenai kondisi fasilitas Central Processing Plant (CPP) Blang Nisam yang telah kembali normal dan aman usai insiden gemuruh Flare Stack memicu tanggapan dari warga.

​Aktivis lingkar tambang Aceh Timur, Nuraqi, menilai pernyataan normatif tersebut sebagai upaya pengalihan isu yang berpotensi merampas hak publik atas informasi keselamatan dan kualitas lingkungan.

Insiden suara gemuruh keras yang menyerupai dentuman pesawat jatuh itu terjadi pada Jumat (17/10/2026) dan memicu kepanikan hebat di Desa Blang Nisam, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur. Sejumlah ibu-ibu dan anak-anak dilaporkan berlarian keluar rumah dalam kondisi trauma.

“Pernyataan ‘kembali normal dan aman’ itu menyembunyikan fakta lapangan. Yang dipersoalkan warga bukan kondisi hari ini, melainkan mengapa insiden itu bisa terjadi hingga memicu kepanikan massal selama 15 menit. Kalau memang aman, mengapa ibu-ibu harus menggendong anak sambil menangis ketakutan? Aman versi siapa?” tanya Nuraqi, Sabtu (18/10/2026).

Ia menegaskan bahwa sesuai UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Pasal 65 Ayat 2), masyarakat lingkar tambang memiliki hak konstitusional untuk mendapatkan informasi yang jujur dan transparan mengenai.

Pertama soal status darurat dan bahaya. Kejelasan apakah suara gemuruh tersebut merupakan pengoperasian normal atau tindakan penanganan darurat (emergency blowdown).

​Selanjutnya, soal baku mutu lingkungan. Menurutnya, harus ada transparansi data tingkat kebisingan (desibel) serta potensi paparan gas kimia seperti H₂S, CO, dan HC saat insiden berlangsung.

Ia juga mempertanyakan Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan.  Ia meminta penjelasan terkait kepastian mengenai langkah evakuasi, titik kumpul (assembly point), serta skema mitigasi bencana bagi pemukiman terdekat.

​Nuraqi juga menyampaikan empat poin krusial untuk membantah klaim sepihak dari manajemen Medco E&P Malaka. Pertama, ia nenilai klaim keamanan internal Medco tidak valid tanpa adanya verifikasi dan audit independen dari Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh Timur.

Kedua, ​ketidakjelasan Penyebab Teknis (Root Cause) pihak perusahaan dinilai mengabaikan standar internasional API 521 yang mewajibkan transparansi penyebab gangguan teknis, seperti kemungkinan Emergency Blowdown, kegagalan system assist steam, atau High-Rate Flaring.

Ketiga, soal absennya transparansi data kebisingan dan emisi udara. Ia mendesak Medco untuk tidak hanya mengeluarkan klaim verbal, melainkan membuka data riil dari Continuous Emission Monitoring System (CEMS) dan Noise Monitoring saat kejadian terjadi.

Keempat, ia menyinggung soal k​elalaian sistem EWS dan sosialisasi mitigasi. Menurutnya, tidak adanya sirene peringatan dini (Early Warning System) maupun sosialisasi SOP penanganan darurat kepada masyarakat terdekat dinilai sebagai bentuk kelalaian serius perusahaan terhadap keselamatan warga sekitar.

​Guna menyelesaikan polemik ini, Nuraqi bahkan menantang manajemen Medco E&P Malaka untuk bertemu langsung dengan masyarakat Desa Blang Nisam guna memberikan penjelasan secara rinci dan terbuka.

​Selain itu, BPMA Aceh diminta tidak hanya menerima laporan sepihak dari pihak operator, melainkan segera menerjunkan tim independen untuk melakukan Process Safety Audit pada fasilitas CPP Blok A.

​”Jika BPMA hanya diam dan mengamini pernyataan aman dari Medco tanpa pengujian independen, institusi tersebut patut dipertanyakan integritasnya. Masyarakat membutuhkan audit yang independen dan objektif demi menjamin keselamatan jiwa mereka,” kata Nuraqi.

Sebelumnya, Suasana mencekam dan kepanikan hebat melanda warga Gampong (Desa) Blang Nisam, Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur, pada Jumat (16/10/2026).

Suara gemuruh dahsyat yang diduga berasal dari cerobong api (flare stack) Central Processing Plant (CPP) PT Medco E&P Malaka itu membuat kaum wanita berhamburan keluar rumah sambil menggendong anak-anak mereka yang menangis histeris.

Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 10.48 WIB dan berlangsung selama kurang lebih 15 menit. Dentuman keras yang disertai kobaran api membumbung tinggi ke langit itu digambarkan warga mirip seperti suara pesawat terbang yang mau jatuh tepat di atas atap pemukiman mereka.

PT Medco E&P Malaka memastikan kondisi fasilitas Central Processing Plant (CPP) kembali aman dan beroperasi normal setelah mengalami gangguan operasional pada Jumat (16/10/2026) sekitar pukul 10.40 WIB.

Gangguan tersebut menyebabkan operasional fasilitas pengolahan gas itu dihentikan sementara sebagai bagian dari langkah pengamanan.

Medco menjelaskan, dalam sistem keselamatan fasilitas minyak dan gas bumi (migas), terdapat sistem pembakaran gas pengaman atau flare yang berfungsi membakar gas secara aman dan terkendali ketika terjadi kondisi tertentu.

Perusahaan memastikan, saat ini operasional fasilitas CPP telah kembali berjalan normal. Hasil pemantauan lingkungan di sekitar lokasi juga dinyatakan aman.

Senior Manager Communications Medco E&P, Leony Lervyn, menegaskan bahwa keselamatan masyarakat, pekerja, dan lingkungan menjadi prioritas utama perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional.

“Keselamatan masyarakat, pekerja dan lingkungan menjadi prioritas kami. Perusahaan terus berkoordinasi dengan perangkat desa dan pemangku kepentingan setempat untuk memastikan kondisi lingkungan tetap aman,” ujar Leony Lervyn.

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Redaksi

Media Online