MITRABERITA.NET | Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman padat penduduk di Desa Kampung Jawa Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, pada Selasa (5/5/2026) sekitar pukul 12.30 WIB.
Menurut laporan, sedikitnya 77 unit rumah milik warga hangus terbakar, kebakaran juga menyebabkan puluhan keluarga harus kehilangan tempat tinggal mereka.
Kobaran api yang muncul pada siang hari itu dengan cepat membesar dan menjalar ke bangunan lain. Kondisi rumah warga yang berdempetan serta tiupan angin laut membuat proses pemadaman berlangsung sulit.
Berdasarkan laporan koordinasi dari Kepala SPPG Kota Lhokseumawe Banda Sakti Hagu Teungoh 3, Shelia Despita Marpaung, api pertama kali terlihat dari salah satu rumah warga sebelum merambat ke permukiman di sekitarnya.
Selain menghanguskan puluhan rumah, musibah tersebut turut menimpa dua anggota SPPI Batch 3, yakni Shelia Despita Marpaung dan Stefanus Sinurat. Rumah keduanya ludes terbakar hingga rata dengan tanah.
Warga sempat berupaya menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dievakuasi. Namun sempitnya akses jalan di kawasan padat penduduk membuat proses pemadaman dan evakuasi mengalami kendala.
Dugaan sementara, kebakaran dipicu korsleting listrik dari salah satu rumah warga. Dalam waktu singkat, api melahap puluhan bangunan dan meninggalkan kerugian besar bagi masyarakat terdampak.
Kareg Aceh, Mustafa Kamal, mengatakan pihaknya bersama tim koordinasi wilayah dan anggota SPPI langsung turun ke lokasi untuk memberikan bantuan kepada korban terdampak.
“Begitu menerima informasi kebakaran, kami langsung bergerak bersama anggota untuk menyalurkan bantuan darurat. Ini bentuk solidaritas dan kepedulian kami kepada korban, khususnya anggota SPPI yang terdampak musibah,” ujar Mustafa Kamal, Senin (11/5/2026).
Ia mengatakan bahwa bantuan berupa sembako dan uang tunai hasil donasi solidaritas anggota telah disalurkan guna membantu kebutuhan dasar para korban di pengungsian.
Menurut Mustafa Kamal, musibah tersebut tidak hanya menyebabkan korban kehilangan tempat tinggal, tetapi juga seluruh harta benda yang dimiliki. Karena itu, dukungan moril dan pendampingan dinilai sangat penting agar korban dapat kembali bangkit.
“Saat ini korban masih berada di pengungsian dan membutuhkan dukungan bersama. Kami berharap ada perhatian dan bantuan berkelanjutan agar mereka bisa segera pulih dan kembali menjalani aktivitas seperti biasa,” katanya.
Hingga kini, para korban masih bertahan di lokasi pengungsian sambil menunggu penanganan lebih lanjut dari pihak terkait. []






















