GLOBALUTAMA

Iran Berikan 10 Syarat untuk Hentikan Perang dengan Amerika-Israel

×

Iran Berikan 10 Syarat untuk Hentikan Perang dengan Amerika-Israel

Sebarkan artikel ini
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi (Foto: Dok. X/Abbas Araghchi)

MITRABERITA.NETKetegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak krusial. Iran secara terbuka mengajukan 10 syarat tegas kepada Amerika Serikat dan Israel sebagai prasyarat menghentikan konflik bersenjata yang kian memanas di kawasan tersebut.

Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam kapasitasnya sebagai anggota Dewan Keamanan Nasional Iran. Proposal tersebut digadang-gadang menjadi kerangka awal menuju gencatan senjata, namun sekaligus memperlihatkan posisi tawar Teheran yang tidak bisa dianggap ringan.

Mengutip media pemerintah IRIB melalui Anadolu, Rabu (8/4/2026), Iran menuntut sejumlah poin strategis yang menyentuh langsung kepentingan militer, ekonomi, hingga kedaulatan negara.

Dalam proposal tersebut, Iran mengajukan 10 tuntutan utama, di antaranya:

  • Jaminan dari Amerika Serikat untuk tidak melakukan agresi militer,
  • Pengakuan atas hak Iran dalam pengayaan uranium,
  • Pencabutan seluruh sanksi ekonomi, baik primer maupun sekunder,
  • Pengakhiran resolusi Dewan Keamanan PBB dan badan nuklir internasional,
  • Pembayaran kompensasi atas kerugian yang dialami Iran,
  • Penarikan seluruh pasukan tempur AS dari kawasan,
  • Serta penghentian perang di semua front, termasuk konflik yang melibatkan kelompok perlawanan di Lebanon.

Tak hanya itu, Iran juga menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, sebagai bagian dari syarat strategis yang tidak bisa ditawar.

Di tengah memanasnya konflik, Teheran juga membuka celah diplomasi. Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran siap menghentikan operasi militernya, namun dengan satu syarat utama: serangan terhadap wilayah Iran harus dihentikan terlebih dahulu.

“Jika serangan terhadap Iran dihentikan, angkatan bersenjata kami akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” tegasnya, seperti dikutip dari metrotvnews.com.

Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Iran tidak sepenuhnya menutup pintu negosiasi, meskipun tetap berada pada posisi defensif yang tegas.

Respons Washington dan Tarik Ulur Kepentingan

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut telah merespons proposal tersebut dengan sikap hati-hati.

Washington bahkan mengisyaratkan penangguhan serangan selama dua pekan, sembari menyebut tawaran Iran sebagai “dasar yang dapat diterapkan” untuk negosiasi lebih lanjut.

Namun, langkah ini dinilai banyak pihak sebagai bagian dari strategi tarik-ulur, mengingat tuntutan Iran menyentuh isu-isu sensitif seperti sanksi ekonomi dan keberadaan militer AS di kawasan.

Salah satu poin paling krusial dalam proposal Iran adalah soal penguasaan dan pengamanan Selat Hormuz. Dalam periode dua minggu ke depan, Iran menawarkan jalur aman bagi pelayaran internasional, namun tetap di bawah koordinasi militer Iran.

Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Teheran memegang kendali strategis atas salah satu jalur energi paling vital di dunia, dan siap menggunakannya sebagai alat tekanan dalam negosiasi.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa proposal ini merupakan kerangka awal yang masih dapat berkembang dalam proses diplomasi.

Namun di balik itu, tersimpan pesan tegas bahwa Iran tidak akan mundur tanpa jaminan konkret atas kedaulatan dan kepentingannya.

Kini, dunia menanti apakah 10 syarat tersebut akan menjadi pintu menuju perdamaian, atau justru memperdalam jurang konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Di tengah eskalasi yang belum mereda, satu hal menjadi jelas: negosiasi ini bukan sekadar soal menghentikan perang, tetapi juga pertarungan kepentingan global yang jauh lebih besar.

Editor: Redaksi

Media Online