GLOBAL

Tiga Negara Sepakat Jaga Selat Malaka Tetap Terbuka

×

Tiga Negara Sepakat Jaga Selat Malaka Tetap Terbuka

Sebarkan artikel ini
Peta Selat Malaka. Foto: Dok. MB - Ilustrasi

MITRABERITA.NET | Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan menegaskan komitmen bersama antara Singapura, Malaysia, dan Indonesia untuk menjaga Selat Malaka tetap terbuka dan bebas dilalui, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kekhawatiran internasional atas potensi gangguan jalur pelayaran strategis dunia, khususnya setelah meningkatnya tensi di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap kemungkinan penutupan Selat Hormuz.

Ia menekankan bahwa ketiga negara pesisir Selat Malaka memiliki kepentingan strategis yang selaras untuk memastikan jalur perdagangan vital tersebut tetap terbuka tanpa hambatan, termasuk tanpa pungutan biaya bagi kapal yang melintas.

“Kami tidak mengenakan tol. Kami semua adalah ekonomi yang bergantung pada perdagangan. Kami semua memahami bahwa menjaga jalur ini tetap terbuka adalah kepentingan bersama,” ujarnya, seperti dilansir, Liputan6.com.

Menurutnya, keselarasan kepentingan antara Singapura, Malaysia, dan Indonesia menjadi kekuatan utama yang menjamin stabilitas Selat Malaka, sesuatu yang tidak selalu ditemukan di kawasan lain di dunia.

“Ketiga negara memiliki kepentingan strategis yang sama dan selaras. Ini bukan hal yang bisa dianggap remeh di banyak tempat lain,” tambahnya.

Lebih lanjut, Balakrishnan menegaskan bahwa pendekatan kawasan Asia Tenggara tetap berlandaskan hukum internasional, khususnya United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), yang menjamin kebebasan navigasi bagi semua negara.

Ia menegaskan bahwa prinsip hak lintas transit akan tetap dihormati, dan negaranya tidak akan terlibat dalam upaya apa pun untuk menutup atau menghalangi jalur pelayaran internasional.

“Hak lintas transit dijamin bagi semua pihak. Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya menutup, menghalangi, atau mengenakan tol di kawasan kami,” tegasnya.

Dalam konteks rivalitas global, Balakrishnan juga menegaskan posisi negaranya yang tidak berpihak di antara dua kekuatan besar dunia, yakni Amerika Serikat dan China.

Ia mengutip prinsip yang pernah disampaikan oleh Lee Kuan Yew, bahwa Singapura akan menolak untuk memilih salah satu pihak dan tetap berfokus pada kepentingan nasional jangka panjang.

“Kami akan bermanfaat, tetapi tidak akan dimanfaatkan,” ujar Balakrishnan menegaskan posisi strategis negaranya.

Menurutnya, hingga saat ini belum ada tekanan signifikan dari Washington maupun Beijing terhadap Singapura. Namun, ia mengakui bahwa hubungan ekonomi dengan kedua negara tersebut sangat erat dan saling menguntungkan.

Amerika Serikat disebut memiliki investasi besar di Asia Tenggara, termasuk Singapura, sementara Singapura sendiri merupakan salah satu investor asing utama di China.

Meski demikian, Balakrishnan mengingatkan bahwa risiko terbesar bagi stabilitas global bukan hanya berasal dari Timur Tengah, tetapi juga potensi konflik di kawasan Pasifik jika rivalitas AS dan China meningkat.

“Jika mereka sampai berperang di Pasifik, apa yang kita lihat di Selat Hormuz saat ini hanyalah simulasi awal,” ujarnya.

Komitmen tiga negara menjaga Selat Malaka tetap terbuka menjadi sinyal penting bagi stabilitas perdagangan global, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi utama distribusi energi dan logistik dunia.

Editor: Redaksi

Media Online