MITRABERITA.NET | Media pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam wilayah Iran. Serangan tersebut dilaporkan terjadi di kantor Khamenei, setelah sebelumnya sejumlah pejabat Amerika Serikat dan Israel mengklaim kematiannya.
Pemerintah Iran juga mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari atas wafatnya pemimpin yang telah memimpin negara itu selama puluhan tahun.
Konfirmasi pada Ahad itu muncul setelah sebelumnya kantor berita Iran, termasuk Tasnim News Agency dan Mehr News Agency, sempat melaporkan bahwa Khamenei masih “teguh dan tetap memimpin di lapangan”.
Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui unggahannya di platform Truth Social lebih dulu menyatakan bahwa Khamenei tewas dalam serangan gabungan yang dimulai sejak Sabtu dini hari.
Menurut Trump, operasi tersebut menggunakan sistem intelijen dan pelacakan canggih yang memungkinkan pasukan Amerika Serikat bekerja sama erat dengan Israel. Ia juga menyebut momen tersebut sebagai peluang besar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negaranya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya juga mengungkapkan adanya “tanda-tanda kuat” bahwa Khamenei telah terbunuh. Kantor berita Reuters bahkan melaporkan, mengutip pejabat senior Israel, bahwa jasad Khamenei telah ditemukan.
Kematian Khamenei diperkirakan akan membawa ketidakpastian baru dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Sejak lama, otoritas Iran sebenarnya telah menyiapkan skenario jika pemimpin tertinggi mereka terbunuh dalam perang dengan Amerika Serikat dan Israel.
Khamenei menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh yang memimpin Revolusi Iran 1979. Dalam sistem pemerintahan Iran, pemimpin tertinggi memiliki kekuasaan penuh atas pemerintahan, militer, serta lembaga peradilan, sekaligus berperan sebagai pemimpin spiritual negara.
Menurut analis dari Stimson Center di Washington, Barbara Slavin, Iran kemungkinan telah menyiapkan mekanisme transisi kekuasaan jika kematian Khamenei dikonfirmasi.
Ia menyebutkan bahwa sebuah dewan kemungkinan akan dibentuk untuk menjalankan pemerintahan, dan bahkan mungkin sudah bekerja di balik layar sejak konflik memanas.
Serangan Besar dan Ancaman Eskalasi
Serangan udara yang dilancarkan pada Sabtu kemarin menargetkan 24 provinsi di Iran dan menewaskan sedikitnya 201 orang, menurut laporan media Iran yang mengutip Bulan Sabit Merah.
Di antara serangan tersebut, Israel dilaporkan menyerang dua sekolah di Iran. Serangan di sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab menewaskan sedikitnya 108 orang, sementara serangan lain juga terjadi di sebuah sekolah di timur ibu kota Teheran.
Netanyahu menyatakan bahwa sejumlah tokoh penting Iran telah “dieliminasi” dalam gelombang serangan tersebut, termasuk komandan Garda Revolusi dan pejabat senior dalam program nuklir Iran.
Di sisi lain, Trump juga mengisyaratkan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut dengan pengeboman presisi yang intensif selama beberapa hari ke depan, atau selama dianggap perlu.
Iran pun melancarkan serangan balasan. Gelombang serangan tersebut memicu sistem pertahanan udara di sejumlah negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat, termasuk Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Korps Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa gelombang ketiga dan keempat serangan balasan terhadap posisi Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung.
PBB Serukan De Eskalasi
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres dalam sidang darurat Dewan Keamanan menyatakan penyesalannya karena peluang diplomasi telah hilang.
Ia memperingatkan bahwa aksi militer berisiko memicu rangkaian peristiwa yang tidak terkendali di kawasan paling rentan di dunia, serta menyerukan penghentian permusuhan dan de-eskalasi segera.
Dalam forum yang sama, duta besar Iran untuk PBB mengatakan Amerika Serikat dan Israel melakukan agresi yang direncanakan dengan menyerang wilayah sipil di sejumlah kota besar Iran. Ia menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sebaliknya, duta besar Amerika Serikat untuk PBB menegaskan bahwa tindakan militer tersebut sah dan menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir karena menyangkut keamanan global.
Sementara itu, perwakilan China dan Rusia di PBB menyatakan keprihatinan serius atas meningkatnya ketegangan di kawasan serta mendesak penghentian segera aksi militer.
Kematian Ayatollah Ali Khamenei kini diperkirakan akan menjadi titik balik besar dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, sekaligus meningkatkan kekhawatiran dunia akan kemungkinan meluasnya perang di Timur Tengah. []
Sumber: Aljazeera | Editor: Redaksi






















