MITRABERITA.NET | Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus bergerak cepat mengantisipasi dampak musim kemarau yang mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. Salah satunya di Kemukiman Lampanah, Kecamatan Seulimeum, yang saat ini mulai mengalami kekeringan dan krisis air bersih.
Kemukiman Lampanah yang terdiri atas lima gampong, yakni Gampong Beurunut, Ujong Keupula, Lampanah, Ujong Masjid Lampanah, dan Leungah, memiliki luas wilayah sekitar 93,22 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 3.000 jiwa. Sebagian besar masyarakat setempat bermata pencaharian sebagai petani, sehingga sangat bergantung pada ketersediaan air.
Memasuki musim kemarau, sebagian lahan persawahan mulai mengering. Sementara itu, warga Gampong Lampanah Leungah juga mulai mengalami kesulitan memperoleh air dan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagai upaya mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) bersama Perumdam Tirta Mountala Aceh Besar melakukan peninjauan lapangan untuk melihat langsung kondisi di wilayah terdampak sekaligus mencari solusi pemenuhan kebutuhan air irigasi dan air bersih bagi masyarakat.
Peninjauan dilakukan oleh Kepala Dinas PUPR Aceh Besar, Ir. Syahrial Amanullah, ST, bersama Direktur Teknik Perumdam Tirta Mountala Aceh Besar, Ir. Salman, ST, M.Si, didampingi Kabid Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Dinas PUPR Aceh Besar Muhammad Ikhsan, ST, MT, serta Keuchik Lampanah, Syakirin. Pada Senin (3/8/2026), rombongan meninjau langsung sumber air di Daerah Irigasi Bendung Blang Paseh, Gampong Lampanah, Kecamatan Seulimeum.
Kepala Dinas PUPR Aceh Besar, Ir. Syahrial Amanullah, mengatakan bahwa secara umum ketersediaan air di Bendung Blang Paseh masih mencukupi untuk mengairi lahan persawahan masyarakat, meski sebagian area mulai terdampak akibat kerusakan saluran irigasi.
“Hampir seluruh wilayah Aceh Besar saat ini mulai terdampak musim kemarau, termasuk Kemukiman Lampanah. Namun, sumber air di Bendung Blang Paseh masih mampu mengairi areal persawahan. Dari sekitar 50 hektare sawah, sekitar 20 hektare sempat mengalami gangguan pengairan akibat terputusnya saluran pembawa sepanjang kurang lebih 100 meter, namun telah ditangani secara darurat,” ujarnya.
Syahrial menegaskan, pihaknya akan terus melakukan penanganan agar pasokan air irigasi tetap terjaga sehingga produktivitas pertanian masyarakat tidak terganggu. “Dalam waktu dekat penanganan akan kita optimalkan agar suplai air ke persawahan tetap lancar dan petani terhindar dari risiko gagal panen,” katanya.
Sementara itu, Direktur Teknik Perumdam Tirta Mountala Aceh Besar, Ir. Salman, ST, M.Si, mengatakan meskipun Kemukiman Lampanah belum termasuk wilayah pelayanan Perumdam Tirta Mountala, kebutuhan air bersih masyarakat tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Sesuai arahan Bupati Aceh Besar, kebutuhan air bersih masyarakat harus menjadi prioritas. Walaupun Lampanah belum termasuk wilayah pelayanan Perumdam Tirta Mountala, kami tetap berupaya memberikan solusi agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi,” ungkapnya.
Menurut Salman, pihaknya telah meninjau sejumlah titik yang berpotensi menjadi sumber air baku di Gampong Lampanah Leungah. Selanjutnya, Perumdam Tirta Mountala akan berkoordinasi dengan Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Aceh serta pemerintah gampong untuk mendistribusikan air bersih ke lokasi-lokasi yang mudah dijangkau masyarakat.
“Ketersediaan sumber air baku menjadi faktor utama yang harus diperhitungkan. Untuk penanganan darurat, kami akan berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait agar distribusi air bersih dapat segera dilakukan,” katanya.
“Walaupun belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat, kami berharap kebutuhan dasar seperti air untuk memasak, mandi, dan keperluan rumah tangga lainnya dapat terpenuhi,” tutupnya.[]






















