EKONOMI & BISNIS

Kepala OJK Aceh: El Nino Berpotensi Ganggu Perekonomian Daerah, Antisipasi Harus Dilakukan Sejak Dini

×

Kepala OJK Aceh: El Nino Berpotensi Ganggu Perekonomian Daerah, Antisipasi Harus Dilakukan Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh, Deddi Peryoga saat pertemuan dengan wartawan di kantor OJK Aceh pada Kamis (9/7/2026). Foto: Mitraberita

MITRABERITA.NET | Potensi terjadinya fenomena El Nino diperkirakan dapat menjadi salah satu ancaman terhadap stabilitas perekonomian Aceh.

Ketergantungan daerah terhadap sektor pertanian membuat dampak perubahan iklim berpotensi meluas, mulai dari penurunan produksi pangan, berkurangnya pendapatan petani, hingga meningkatnya tekanan inflasi.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh, Deddi Peryoga mengatakan Aceh perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko El Nino karena struktur ekonomi daerah masih didominasi oleh sektor pertanian yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.

“El Nino bukan hanya persoalan iklim, tetapi juga berpotensi menjadi tantangan bagi perekonomian Aceh. Oleh karena itu, mitigasi harus dipersiapkan sejak dini agar dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan,” ujar Deddi saat pertemuan dengan wartawan, di Kantor OJK Aceh, pada Kamis (9/7/2026).

Ia menjelaskan, sektor pertanian memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian Aceh sekaligus menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat di berbagai kabupaten dan kota.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan kepada wartawan terkait informasi perubahan iklim yang diperoleh OJK bahwa ketika curah hujan menurun akibat El Nino, risiko kekeringan akan meningkat sehingga dapat memengaruhi produktivitas pertanian.

Menurutnya, apabila produksi pertanian menurun, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga akan menjalar ke sektor perdagangan, distribusi, industri pengolahan, hingga daya beli masyarakat.

“Penurunan hasil panen dapat mengurangi pendapatan petani, sementara pasokan pangan yang berkurang berpotensi memicu kenaikan harga bahan pokok. Kondisi seperti ini perlu diantisipasi bersama agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi daerah,” katanya.

Deddi mengungkapkan, Aceh memiliki karakteristik ekonomi yang cukup rentan terhadap perubahan iklim karena sebagian besar aktivitas ekonomi masyarakat masih bertumpu pada sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Jika tidak diantisipasi, gangguan pada sektor-sektor tersebut dapat memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi Aceh dan meningkatkan tekanan inflasi, terutama kelompok volatile food atau komoditas pangan yang harganya mudah bergejolak.

Karena itu, OJK mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam menghadapi potensi El Nino, mulai dari pemerintah daerah, lembaga keuangan, pelaku usaha, hingga masyarakat.

Menurut Deddi, sejumlah langkah strategis perlu dilakukan, di antaranya memperkuat sistem irigasi, meningkatkan pemanfaatan teknologi pertanian, menyediakan informasi cuaca yang akurat kepada petani, serta memperkuat akses pembiayaan bagi sektor pertanian agar mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.

“Kesiapsiagaan menjadi kunci. Semakin cepat langkah mitigasi dilakukan, semakin kecil dampak ekonomi yang akan ditimbulkan,” ujarnya.

Ia juga menilai sektor jasa keuangan memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan ekonomi daerah melalui penyediaan pembiayaan yang produktif bagi sektor pertanian dan UMKM, sehingga pelaku usaha tetap memiliki kemampuan untuk bertahan di tengah risiko perubahan iklim.

Deddi berharap semua pihak tidak memandang El Nino hanya sebagai fenomena cuaca, tetapi juga sebagai tantangan ekonomi yang memerlukan langkah antisipasi secara terpadu.

“Kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan agar produksi pangan tetap terjaga, inflasi dapat dikendalikan, dan pertumbuhan ekonomi Aceh tetap berkelanjutan meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim,” pungkasnya.

Editor: Redaksi

Media Online