TREND

Sekali Tercium, Bikin Perut Keroncongan: Kuah Beulangong Meriahkan Kenduri Maulid di Leu Ue

×

Sekali Tercium, Bikin Perut Keroncongan: Kuah Beulangong Meriahkan Kenduri Maulid di Leu Ue

Sebarkan artikel ini
Warga Gampong Leu Ue menggelar kenduri dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pada Ahad (4/10/2026). Foto: Dok. Keuchik Leu Ue

MITRABERITA.NET | Sekali aroma rempahnya tercium, sulit untuk tidak menoleh. Wangi bumbu yang menyengat keluar dari belanga besar, menyebar ke seantero Gampong Leu Ue, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.

Di tengah suasana kenduri Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, kepulan kuah beulangong menjadi pemandangan yang akrab bagi warga.

Aroma daging dan rempah khas Aceh seolah menjadi penanda bahwa perayaan Maulid di gampong tersebut kembali digelar dengan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Kuah beulangong dimasak menggunakan daging sapi atau kambing yang dipadukan dengan racikan bumbu khas Aceh. Untuk menambah cita rasa, masakan tersebut biasanya dicampur dengan nangka muda, pisang muda, atau bagian inti batang pisang yang tumbuh liar di kawasan pegunungan.

Saat bumbu mulai menyatu dengan daging dan sayuran, aroma khasnya semakin kuat. Wanginya yang tajam bahkan sekilas mengingatkan pada masakan India, tetapi rasa dan karakter rempahnya tetap menunjukkan identitas kuliner Aceh.

Bagi masyarakat Gampong Leu Ue, kuah beulangong bukan sekadar menu untuk mengisi perut. Masakan yang dimasak dalam belanga besar itu menjadi bagian penting dari tradisi kenduri, sekaligus sarana mempererat silaturahmi dan kebersamaan warga.

Keuchik Gampong Leu Ue, Yusri, VE, ST, mengatakan tradisi memasak kuah beulangong pada kenduri Maulid telah berlangsung secara turun-temurun dan akan terus dipertahankan.

“Ini masakan khas Aceh, tidak ditemukan di daerah lain, sepintas aromanya hampir sama dengan masakan India, sangat menyengat. Masakan kuah beulangong pada kenduri maulid dan acara-acara besar lainnya sudah menjadi tradisi turun temurun disini dan akan selalu dipertahankan,” ujarnya, saat menggelar kenduri dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ahad (4/10/2026).

Menurut Keuchik Yusri, kuah beulangong juga menjadikannya salah satu identitas kuliner masyarakat Aceh Besar. Kuliner tersebut bahkan telah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia sejak 2018.

“Ini kuliner khas Aceh Besar yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda, menjadi menu favorit bagi masyarakat Aceh Besar,” jelas Keuchik Leu Ue.

Pada kenduri Maulid di Gampong Leu Ue, kuah beulangong disiapkan bukan hanya untuk disantap bersama di meunasah. Hidangan tersebut juga dibagikan kepada seluruh warga agar dapat dinikmati bersama keluarga di rumah.

Bagi warga, kenduri Maulid menjadi lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Ada gotong royong, silaturahmi dan warisan kuliner yang terus dirawat.

Di balik kepulan asap belanga dan aroma rempah yang menyengat, kuah beulangong menjadi cerita tentang bagaimana sebuah tradisi tetap hidup di tengah masyarakat Gampong Leu Ue.

Editor: Redaksi

Media Online