TREND

PKGB USK Gelar FGD Konservasi Holistik Danau Lut Tawar Aceh Tengah di Gayo Belangi Resort

×

PKGB USK Gelar FGD Konservasi Holistik Danau Lut Tawar Aceh Tengah di Gayo Belangi Resort

Sebarkan artikel ini
PKGB USK menyelenggarakan FGD bertajuk “Konservasi Holistik Danau Lut Tawar, Aceh Tengah” di Gayo Belangi Resort, Aceh Tengah, Sabtu (24/10/2026). Foto: Dok. PKGB USK

MITRABERITA.NET | Pusat Riset Konservasi Gajah dan Biodiversitas Hutan (PKGB), Universitas Syiah Kuala (USK), menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Konservasi Holistik Danau Lut Tawar, Aceh Tengah” di Gayo Belangi Resort, Aceh Tengah, Sabtu (24/10/2026).

Kegiatan ini didanai melalui hibah dari lembaga internasional Re:Wild sebagai upaya mendorong kolaborasi lintas sektor dalam perlindungan ikan depik (Rasbora tawarensis) dan pelestarian biodiversitas Danau Lut Tawar.

Acara dibuka oleh Kepala Dinas Perikanan Aceh Tengah dan diikuti oleh perwakilan berbagai instansi, akademisi, peneliti, serta kelompok masyarakat.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bersama untuk mengidentifikasi tantangan lingkungan dan merumuskan rekomendasi pengelolaan Danau Lut Tawar secara berkelanjutan melalui pendekatan ekologi, budaya, dan pendidikan lingkungan.

FGD menghadirkan dua pemateri, yaitu Prof. Dr. Abdullah, S.Pd., M.Si, Ketua Departemen Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala, serta Iwan Hasri, S.Pi., M.Si dari Dinas Perikanan Aceh Tengah.

Dalam pemaparannya, Prof. Abdullah menekankan pentingnya menjaga kelestarian Danau Lut Tawar, terutama melalui perlindungan kualitas dan kuantitas air serta pengendalian pencemaran.

Upaya tersebut diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung kelestarian ikan depik sebagai ikan endemik yang menjadi salah satu kekayaan hayati dan identitas masyarakat Gayo.

Sementara itu, Iwan Hasri membahas pemanfaatan Danau Lut Tawar oleh berbagai pemangku kepentingan, perubahan kondisi danau pascabencana, penurunan kualitas air, serta dampak permasalahan lingkungan terhadap perekonomian masyarakat. Pembahasan ini menegaskan pentingnya ketersediaan data dan koordinasi antarpihak dalam mendukung pengelolaan danau.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Menjawab Tantangan Lingkungan

Peserta FGD berasal dari berbagai unsur, meliputi perwakilan pemerintah kecamatan, PKK Aceh Tengah, Dinas Perikanan Aceh Tengah, Puskesmas Aceh Tengah, pengelola Arung Jeram Lokop Badak, Majelis Adat Gayo, Ketua Forum Reje, kepala sekolah SMA di Aceh Tengah, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik Universitas Gajah Putih, serta peneliti dari PKGB USK.

Dalam sesi diskusi, persoalan sampah dan limbah rumah tangga menjadi salah satu perhatian utama. Peserta menyoroti perlunya penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, pengembangan bank sampah, pemberdayaan rumah tangga, serta peningkatan tanggung jawab pengelola wisata dalam menjaga kebersihan kawasan danau.

Selain itu, pemantauan kualitas air, termasuk melalui pengujian parameter Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biochemical Oxygen Demand (BOD), dinilai penting untuk memperoleh gambaran kondisi lingkungan dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Penanganan limbah domestik dan penataan jamban sehat di sekitar danau juga menjadi bagian dari rekomendasi untuk mencegah pencemaran perairan.

Peserta turut menekankan pentingnya penguatan kearifan lokal melalui revitalisasi lembaga adat, optimalisasi fungsi Pengulu Opat, serta menghidupkan kembali budaya malu terhadap perilaku yang merusak lingkungan. Pendekatan budaya ini diharapkan dapat memperkuat tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian Danau Lut Tawar.

Perlindungan Ikan Depik dan Pengembangan Wisata Berkelanjutan

Konservasi dan pengembangan budidaya ikan depik menjadi salah satu rekomendasi penting dalam FGD. Upaya tersebut perlu dilanjutkan melalui kerja sama antara pemerintah, akademisi, peneliti, dan masyarakat untuk mendukung pelestarian ikan endemik serta biodiversitas danau.

Di sektor pariwisata, peserta mendorong kemudahan perizinan dan peningkatan promosi wisata ramah lingkungan di sekitar Danau Lut Tawar dan sepanjang Sungai Peusangan.

Pemberdayaan kelompok masyarakat sadar wisata juga dipandang penting untuk meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Rekomendasi lainnya mencakup penyediaan data yang akurat, penetapan batas danau, peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan sampah dan limbah, serta integrasi materi lingkungan hidup dan ekosistem Danau Lut Tawar ke dalam kurikulum muatan lokal dan mata pelajaran yang relevan.

Selain itu, muncul gagasan untuk mendorong pengusulan Danau Lut Tawar sebagai Warisan Dunia (World Heritage) melalui penguatan kajian ilmiah dan kolaborasi para pemangku kepentingan.

Melalui FGD ini, PKGB USK bersama para peserta mendorong agar rekomendasi yang dirumuskan dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama lintas instansi dan partisipasi aktif masyarakat.

Pendekatan konservasi holistik diharapkan mampu menjaga keberlanjutan ekosistem Danau Lut Tawar, melindungi ikan depik sebagai kekayaan hayati daerah, serta mendukung kesejahteraan masyarakat di sekitar danau.

Kegiatan ini juga menegaskan bahwa pelestarian Danau Lut Tawar bukan hanya menjadi tanggung jawab satu instansi, melainkan membutuhkan komitmen bersama pemerintah, lembaga adat, dunia pendidikan, pelaku wisata, peneliti, dan masyarakat untuk memastikan keberlanjutan danau bagi generasi mendatang.[]

Media Online