GLOBAL

Perang Iran dan Runtuhnya Dominasi Udara Amerika

×

Perang Iran dan Runtuhnya Dominasi Udara Amerika

Sebarkan artikel ini
Salah satu pesawat mata-mata canggih milik Amerika Serikat hancur diserang rudal Iran. Foto: Turkiye Today

MITRABERITA.NET | Dentuman perang antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas memasuki pekan keenam sejak pecah pada 28 Februari 2026. Di tengah eskalasi konflik, laporan terbaru menunjukkan perubahan mencolok di medan tempur udara.

Klaim dominasi militer AS yang selama ini nyaris tak tertandingi di segala medan mulai mendapat tantangan serius, ditandai dengan jatuhnya sejumlah pesawat tempur dan aset strategis Amerika.

Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa dalam kurun waktu lebih dari satu bulan operasi militer, Amerika Serikat mengalami kerugian signifikan di sektor udara, akibat tembakan dari sistem pertahanan Iran.

Salah satu kerugian terbesar tercatat pada jet tempur F-15E Strike Eagle. Sebanyak empat unit dilaporkan jatuh dalam rangkaian konflik ini, menurut laporan yang dirilis CNBCIndonesia.com.

Tiga di antaranya hancur pada 2 Maret 2026 di Kuwait akibat insiden salah tembak (friendly fire) oleh sistem pertahanan udara sekutu sendiri. Meski awak selamat, kerugian materiil tetap besar.

Tak berselang lama, pada 3 April 2026, satu unit F-15E lainnya ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Iran di wilayah udaranya. Insiden ini menjadi sorotan global karena menunjukkan kemampuan Iran dalam menjangkau dan melumpuhkan jet tempur berawak milik AS. Dari dua awak pesawat tersebut, satu berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya sempat dinyatakan hilang.

Selain itu, pesawat serang darat A-10 Thunderbolt II juga dilaporkan jatuh setelah terkena tembakan Iran pada hari yang sama. Pilot berhasil menyelamatkan diri, namun pesawat tidak dapat dipertahankan.

Kerugian juga terjadi pada pesawat pendukung vital. Satu unit KC-135 Stratotanker jatuh di Irak pada 12 Maret 2026 dan menewaskan enam personel di dalamnya.

Insiden ini diduga akibat tabrakan di udara, meski masih dalam penyelidikan. Peristiwa tersebut menjadi pukulan besar mengingat peran strategis pesawat tanker dalam mendukung operasi tempur jarak jauh.

Tak hanya itu, pesawat komando udara E-3 Sentry AWACS juga mengalami kerusakan berat setelah dilaporkan terkena serangan di Prince Sultan Air Base, Arab Saudi, pada 29 Maret 2026. Kerusakan pada pesawat ini dinilai sangat signifikan karena berdampak langsung pada kemampuan pengawasan dan kendali operasi udara AS.

Dalam operasi penyelamatan awak F-15E, dua helikopter UH-60 Black Hawk turut menjadi sasaran tembakan. Meski tidak jatuh dan berhasil keluar dari wilayah konflik, insiden ini menegaskan tingginya risiko bahkan dalam misi evakuasi.

Rangkaian insiden ini menandai tantangan serius bagi dominasi udara Amerika Serikat. Tidak hanya menghadapi tekanan biaya perang yang membengkak, Washington kini juga harus berhadapan dengan realitas baru, bahwa kemampuan pertahanan Iran yang mampu mengganggu bahkan merusak operasi udara mereka.

Dengan kerugian materiil yang ditaksir mencapai ratusan juta dolar AS serta meningkatnya risiko di setiap misi, konflik ini dipandang sebagai salah satu ujian terbesar bagi supremasi militer udara Amerika dalam beberapa dekade terakhir.

Editor: Redaksi

Media Online