GLOBAL

Perhitungan Trump Melawan Iran Salah Kaprah, Ternyata Diluar Ekspektasi

×

Perhitungan Trump Melawan Iran Salah Kaprah, Ternyata Diluar Ekspektasi

Sebarkan artikel ini
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Foto: www.npr.org (Chip Somodevilla/ Getty Images)

MITRABERITA.NET | Satu pekan sejak agresi militer AS yang dipimpin oleh Donald Trump bersama Israel terhadap Iran, situasi di Timur Tengah justru semakin memburuk. Alih-alih meraih kemenangan cepat seperti yang diperkirakan Washington, konflik tersebut berkembang menjadi krisis regional yang semakin sulit dikendalikan dan berpotensi menyeret Amerika Serikat dalam perang berkepanjangan.

Serangan besar yang menargetkan fasilitas militer Iran di darat, laut, dan udara bahkan disertai pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun langkah ekstrem itu ternyata tidak serta-merta melumpuhkan kekuatan Teheran. Sebaliknya, Iran menunjukkan kemampuan bertahan dan merespons serangan dengan strategi yang membuat konflik semakin meluas di kawasan.

Bagi Trump, kondisi ini merupakan skenario yang sebenarnya ingin dihindari selama masa kepemimpinannya. Ia selama ini dikenal lebih memilih operasi militer singkat dan terbatas, seperti serangan kilat terhadap target tertentu yang tidak memicu perang besar. Namun operasi militer terbaru terhadap Iran justru berubah menjadi kampanye yang jauh lebih kompleks dan berisiko.

Laura Blumenfeld dari Johns Hopkins School for Advanced International Studies di Washington menilai langkah Trump sebagai taruhan besar yang bisa berdampak luas. Menurutnya, perang tersebut bukan hanya mempertaruhkan stabilitas kawasan, tetapi juga ekonomi global serta masa depan politik Partai Republik dalam pemilu sela Amerika Serikat.

Ironisnya, Trump sebelumnya menjabat dengan janji untuk menjauhkan Amerika dari intervensi militer yang ia sebut sebagai “perang bodoh”. Namun banyak analis menilai operasi yang dinamakan “Epic Fury” justru menjadi salah satu operasi militer terbesar Amerika sejak invasi Irak tahun 2003, dan dilakukan tanpa ancaman langsung terhadap keamanan Amerika Serikat.

Sejumlah pengamat juga menilai pemerintah AS kesulitan merumuskan tujuan akhir yang jelas dari operasi tersebut. Trump dan para pembantunya memberikan alasan yang berbeda-beda mengenai tujuan perang, mulai dari menghancurkan kemampuan rudal Iran hingga melemahkan jaringan proksi di Timur Tengah.

Meski demikian, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly membantah kritik tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki tujuan yang jelas, yakni menghancurkan kapasitas militer Iran, melemahkan angkatan lautnya, serta mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.

Namun risiko politik tetap membayangi Washington. Jika perang berlarut-larut, jumlah korban tentara Amerika meningkat, dan aliran minyak dari Teluk terganggu, kebijakan luar negeri Trump dapat menjadi bumerang bagi Partai Republik. Sejumlah survei bahkan menunjukkan penolakan terhadap perang di kalangan pemilih independen yang berperan penting dalam pemilu sela.

Situasi semakin kompleks ketika Iran mulai memperluas respons militernya di kawasan. Kelompok milisi seperti Hizbullah kembali meningkatkan serangan terhadap Israel, memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi perang regional yang melibatkan lebih banyak negara.

Banyak analis menilai Trump telah salah menghitung kemampuan Iran. Jika sebelumnya operasi Amerika terhadap Nicolás Maduro di Venezuela berjalan cepat dan efektif, Iran terbukti jauh lebih tangguh dengan struktur militer dan dukungan politik domestik yang kuat. Bahkan setelah kematian Khamenei, Iran masih mampu melancarkan serangan balasan dan mempertahankan stabilitas internalnya.

Pernyataan Trump dalam wawancara dengan majalah Time yang menyebut kemungkinan “beberapa orang akan mati” juga memicu kekhawatiran publik Amerika. Jika korban di pihak AS meningkat, para analis meyakini tekanan domestik untuk menghentikan perang akan semakin kuat, sekaligus menjadi ujian terbesar bagi strategi geopolitik Trump di Timur Tengah.[]

Sumber: Republika | Editor: Redaksi

Media Online