MITRABERITA.NET | Seni pertunjukan tradisional Aceh kini mendapat sentuhan teknologi melalui program “Eksplorasi Topeng LED di Kabupaten Pidie”.
Tim Inovasi Nusantara menyerahkan tujuh set kostum dan perlengkapan pertunjukan kepada Sanggar Bungoeng Juempa, Kecamatan Grong-Grong, Kabupaten Pidie, pada Kamis (13/8/2026).
Penyerahan berlangsung di sekretariat Sanggar Bungoeng Juempa. Tim Inovasi Nusantara yang menyerahkan bantuan terdiri atas Magfhirah Murni Bintang Permata, Rahmawati, dan Indra Setiawan, yang merupakan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.
Dukungan tersebut merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program ini diarahkan untuk mendorong pengembangan seni pertunjukan melalui perpaduan antara kekayaan budaya lokal, kreativitas dan teknologi.
Selama ini, Sanggar Bungoeng Juempa aktif mengembangkan kegiatan seni sekaligus melibatkan generasi muda. Namun, keterbatasan fasilitas, terutama kostum pertunjukan, masih menjadi salah satu kendala dalam pengembangan sanggar.
Setiap kali menerima undangan tampil, sanggar kerap harus menyewa kostum dari pihak lain. Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat dan pada akhirnya dapat mengurangi pendapatan yang diterima sanggar.
Dengan tersedianya perlengkapan yang dapat digunakan secara berkelanjutan, Sanggar Bungoeng Juempa diharapkan semakin mandiri. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk pertunjukan, latihan, penciptaan karya, hingga proses regenerasi seniman muda.
Tujuh set perlengkapan yang diserahkan masing-masing terdiri atas topeng LED, kepala dan hiasan kepala, hiasan bahu, baju putih, serta sayap berukuran sekitar enam meter.
Selain kostum, Tim Inovasi Nusantara juga menyerahkan alat tata rias dan perangkat pemutar musik sebagai perlengkapan pendukung pertunjukan.
Kehadiran fasilitas tersebut membuka ruang bagi Sanggar Bungoeng Juempa untuk mengembangkan konsep pertunjukan yang lebih beragam. Kostum dan elemen seni tradisional Aceh dapat dipadukan dengan teknologi pencahayaan LED sehingga menghasilkan pertunjukan yang tetap berakar pada budaya lokal, namun memiliki tampilan yang lebih kontemporer.
Topeng LED Jadi Media Ekspresi Artistik
Bagi Tim Inovasi Nusantara, Topeng LED bukan sekadar elemen visual dalam sebuah pertunjukan. Teknologi pencahayaan dipandang sebagai medium baru untuk memperkaya bahasa tari dan memperluas kemungkinan artistik.
Cahaya LED dapat menjadi bagian dari narasi pertunjukan. Gerak, musik, kostum, warna, dan pola cahaya disusun sebagai satu kesatuan artistik untuk menyampaikan pesan maupun simbol kepada penonton.
“Harapan kami, Topeng LED ini tidak berhenti sebagai kostum pertunjukan. Kami ingin melihat bagaimana cahaya, gerak, musik, simbol dan unsur budaya Aceh dapat terus dieksplorasi menjadi karya-karya baru. Teknologi menjadi bagian dari bahasa artistik, sementara identitas budaya tetap menjadi pijakannya,” ujar Tim Inovasi Nusantara.

Eksplorasi Topeng LED bersama Sanggar Bungoeng Juempa sebelumnya telah diperkenalkan pada 22 Juli 2025. Saat itu, Topeng LED dipadukan dengan Tari Ranup Lampuan dan mendapat perhatian masyarakat.
Pertunjukan tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat dari Pidie Jaya, termasuk Bupati Pidie Jaya.
Untuk pengembangan selanjutnya, Topeng LED akan kembali dieksplorasi dengan penggunaan sayap berwarna cokelat. Elemen tersebut diharapkan dapat memperkuat karakter visual sekaligus memperkaya dramaturgi pertunjukan.
Membuka Ruang Kreativitas Generasi Muda
Sanggar Bungoeng Juempa tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga tempat belajar dan berekspresi bagi generasi muda. Dengan pembina yang berlatar belakang guru seni budaya, sanggar menjadi ruang latihan, penciptaan karya, sekaligus proses regenerasi.
Personel sanggar berasal dari kalangan siswa sekolah maupun pemuda di sekitar Kecamatan Grong-Grong. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan seni di tingkat komunitas.
“Harapannya sanggar semakin mandiri, semakin berani menciptakan karya, dan mampu menjadikan fasilitas ini sebagai modal untuk mengembangkan potensi anak-anak muda. Jangan hanya digunakan ketika ada undangan pentas, tetapi terus digunakan untuk latihan, eksplorasi, riset artistik, dan penciptaan karya baru,” kata Tim Inovasi Nusantara.
Pembina Sanggar Bungoeng Juempa berharap dukungan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi keberlangsungan sanggar.
Dengan memiliki kostum dan perlengkapan sendiri, para anggota sanggar diharapkan dapat lebih sering berlatih, meningkatkan kemampuan, sekaligus menjadikan seni sebagai ruang untuk belajar, berprestasi dan mencintai budaya Aceh.
Dari keterbatasan menuju kreativitas. Dari tradisi menuju inovasi. Dari Pidie, seni pertunjukan kini menemukan ruang baru untuk berkembang melalui cahaya Topeng LED.(*)







