EKONOMI & BISNIS

OJK Ungkap Potret Ekonomi Aceh 2026, Pertumbuhan Terjaga dan Kemiskinan Terus Menurun

×

OJK Ungkap Potret Ekonomi Aceh 2026, Pertumbuhan Terjaga dan Kemiskinan Terus Menurun

Sebarkan artikel ini
Kepala OJK Provinsi Aceh Deddi Peryoga memaparkan kondisi perekonomian Aceh. Foto: Mitraberita

MITRABERITA.NET | Perekonomian Aceh terus menunjukkan tren pemulihan yang positif. Pada triwulan I 2026, ekonomi Aceh tumbuh 4,09 persen secara tahunan (year on year/yoy), disertai dengan penurunan tingkat kemiskinan menjadi 12,22 persen.

Meski demikian, laju pertumbuhan ekonomi Aceh masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 5,61 persen. Apalagi setelah bencana melanda pada akhir tahun 2025 lalu. 

Data tersebut dipaparkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh sebagai gambaran kondisi makroekonomi daerah yang menjadi landasan bagi penguatan sektor jasa keuangan dan peningkatan investasi di Aceh.

Kepala OJK Provinsi Aceh Deddi Peryoga dalam pertemuan dengan wartawan di kantor OJK Provinsi Aceh pada Kamis (9/7/20206) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Aceh menunjukkan arah yang positif, namun masih membutuhkan penguatan pada sektor-sektor produktif agar mampu mengejar pertumbuhan nasional.

“Ekonomi Aceh terus bertumbuh dengan tren yang baik. Namun kita tidak boleh berpuas diri karena masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan daya saing ekonomi daerah melalui penguatan investasi, produktivitas, dan sektor unggulan,” ujar Deddi.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Aceh saat ini masih ditopang oleh sektor-sektor utama yang menjadi kekuatan daerah, terutama sektor pertanian.

Berdasarkan data yang dipaparkan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh dengan kontribusi mencapai 31,70 persen.

Sementara itu, sektor perdagangan besar dan eceran memberikan kontribusi sebesar 15,92 persen, disusul administrasi pemerintahan 8,99 persen, konstruksi 8,72 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 6,53 persen.

Di sisi pertumbuhan, sektor konstruksi menjadi yang paling tinggi dengan laju pertumbuhan mencapai 15,95 persen, diikuti sektor informasi dan komunikasi 13,54 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum yang juga tumbuh 13,54 persen.

Kepala OJK Provinsi Aceh Deddi Peryoga memaparkan kondisi perekonomian Aceh. Foto: Mitraberita

Deddi menilai capaian tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pembangunan, digitalisasi, serta mulai pulihnya sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

“Pertumbuhan yang terjadi menunjukkan struktur ekonomi Aceh mulai bergerak lebih dinamis. Namun sektor pertanian tetap harus menjadi perhatian karena kontribusinya terhadap perekonomian masih sangat dominan,” katanya.

Selain pertumbuhan ekonomi, OJK juga mencatat perkembangan positif dari sisi kesejahteraan masyarakat. Tingkat kemiskinan di Aceh terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Per September 2025, jumlah penduduk miskin di Aceh tercatat sebanyak 703,33 ribu jiwa atau 12,22 persen dari total penduduk. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya dan menunjukkan tren perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Meski demikian, Deddi mengingatkan bahwa angka kemiskinan tersebut masih relatif tinggi sehingga diperlukan upaya bersama untuk mempercepat penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa kemiskinan di Aceh masih didominasi oleh wilayah perdesaan dengan tingkat kemiskinan mencapai 14,51 persen, sedangkan di wilayah perkotaan sebesar 8,15 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pembangunan ekonomi harus semakin difokuskan pada penguatan ekonomi desa, peningkatan produktivitas sektor pertanian, serta pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kita berharap pertumbuhan ekonomi yang terjadi benar-benar berkualitas, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya pendapatan, terbukanya lapangan kerja, dan terus menurunnya angka kemiskinan,” ujar Deddi.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi. Perbankan, lembaga pembiayaan, dan industri jasa keuangan lainnya diharapkan terus memperluas akses pembiayaan kepada sektor-sektor produktif agar mampu mendorong investasi dan aktivitas usaha.

Ke depan, OJK optimistis perekonomian Aceh akan terus menguat apabila didukung oleh stabilitas sistem keuangan, peningkatan investasi, pengembangan hilirisasi sektor unggulan, serta kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia usaha, dan sektor jasa keuangan.

“Momentum pertumbuhan ini harus terus dijaga. Dengan sinergi yang kuat, Aceh memiliki peluang besar untuk mempercepat pembangunan ekonomi yang inklusif, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mengejar ketertinggalan dari pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Deddi.

Editor: Redaksi

Media Online