MITRABERITA.NET | Ancaman narkotika kini semakin sulit dikenali. Jaringan peredaran gelap narkoba bahkan mulai memanfaatkan tren rokok elektrik dengan menyamarkan zat berbahaya dalam bentuk liquid vape.
Modus tersebut menjadi perhatian Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh saat memberikan pembekalan kepada 635 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA).
Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., menyampaikan pembekalan tersebut dalam rangka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2026/2027, pada Selasa (8/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Dedy mengingatkan mahasiswa mengenai bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, perkembangan modus baru narkoba, wawasan kebangsaan, hingga ancaman radikalisme dan intoleransi.
Menurutnya, narkotika merupakan ancaman serius bagi generasi muda karena dampaknya tidak hanya menyentuh kesehatan. Penyalahgunaan narkoba juga dapat menghancurkan pendidikan, produktivitas, masa depan generasi muda, hingga ketahanan bangsa.
Salah satu modus yang disorot adalah penyalahgunaan liquid vape atau rokok elektrik. Perkembangan teknologi dan gaya hidup anak muda dinilai dapat dimanfaatkan jaringan narkotika untuk menyamarkan zat berbahaya dalam produk yang secara kasatmata menyerupai liquid vape biasa.
Liquid ilegal tersebut berpotensi mengandung berbagai zat psikoaktif dan narkotika, antara lain sabu dalam bentuk cair, cannabis atau ganja cair, etomidate, hingga ketamin. Kondisi ini membuat masyarakat, terutama generasi muda, perlu lebih berhati-hati terhadap produk vape yang tidak jelas asal-usul dan kandungannya.
“Jangan mudah menerima, membeli, apalagi mencoba liquid vape yang tidak jelas asal-usul dan kandungannya. Modus penyalahgunaan narkotika terus berkembang dan memanfaatkan tren yang digemari generasi muda,” pesan Dedy.
Tak hanya dari produk yang beredar di pasaran, mahasiswa juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai tawaran narkotika melalui media sosial maupun lingkungan pertemanan. Literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dinilai menjadi benteng penting agar mahasiswa tidak mudah terjebak.
Dedy juga mengingatkan mahasiswa terhadap ancaman radikalisme dan intoleransi yang dapat berkembang melalui propaganda maupun informasi di media sosial. Sebagai kelompok intelektual dan calon pemimpin bangsa, mahasiswa diminta tidak menerima informasi secara mentah, tetapi melakukan verifikasi dan memahami konteks sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
“Mahasiswa perlu memiliki jiwa nasionalisme yang kuat agar tidak mudah dipengaruhi atau dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Perkuat rasa cinta tanah air, pahami nilai-nilai Pancasila, dan tetap kritis terhadap setiap informasi maupun ajakan yang diterima,” tegasnya.
Ia menambahkan, bela negara tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan pertahanan secara fisik. Bagi mahasiswa, bela negara dapat dilakukan dengan belajar sungguh-sungguh, berprestasi, disiplin, menjaga integritas, menghormati perbedaan, mempertahankan persatuan, serta menjauhi narkotika.
BNNP Aceh juga mendorong 635 mahasiswa baru UNMUHA menjadi agent of change yang mampu memberikan pengaruh positif di kampus maupun masyarakat.
Sinergi dengan UNMUHA diharapkan semakin memperkuat upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), sekaligus membangun generasi muda Aceh yang sehat, berkarakter, nasionalis, dan berprestasi.
Editor: Redaksi






















