DAERAH

Mengenang 21 Tahun Gempa Tsunami Aceh

795
×

Mengenang 21 Tahun Gempa Tsunami Aceh

Sebarkan artikel ini
Ribuan warga mengikuti zikir dan doa bersama yang dipimpin Imam Masjid Rahmatullah Lampu’uk, Tgk. Syamsuriadi, dalam peringatan 21 tahun tsunami Aceh, Jumat (26/12/2025). Foto: MC Aceh Besar

MITRABERITA.NET | Dua puluh satu tahun telah berlalu sejak bencana gempa bumi dan tsunami maha dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Tragedi kemanusiaan yang menelan ratusan ribu korban jiwa itu tak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga mengundang empati dunia internasional dan mengubah wajah Aceh untuk selamanya.

Masjid Rahmatullah Lampu’uk, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, kembali menjadi titik refleksi dan doa. Masjid yang dikenal sebagai saksi bisu kedahsyatan tsunami menjadi lokasi zikir dan doa bersama untuk mengenang para syuhada korban gempa dan tsunami, sekaligus mendoakan korban bencana banjir dan tanah longsor yang kembali melanda Aceh.

Kegiatan yang berlangsung khidmat pada Jumat (26/12/2025) ini dipimpin oleh Tgk. Syamsuriadi, Imam Masjid Rahmatullah Lampu’uk, dan diikuti ribuan warga yang larut dalam lantunan zikir dan doa.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris dan Wakil Bupati Drs. H. Syukri A. Jalil, unsur Forkopimda Aceh Besar, anggota DPRA dan DPRK Aceh Besar, para kepala OPD, Direktur PDAM Tirta Montala, perwakilan PT SBA Lhoknga, TP PKK Aceh Besar, para camat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, serta warga setempat.

Dalam sambutannya, Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris mengenang secara langsung detik-detik terjadinya gempa dan tsunami 21 tahun silam. Ia menggambarkan bagaimana gelombang raksasa menyapu daratan dan memusnahkan harta benda serta ribuan nyawa manusia, sementara Masjid Rahmatullah tetap berdiri kokoh hingga kini.

“Masjid ini menjadi saksi bisu. Saya menyaksikan sendiri, setelah gempa besar, air laut datang dengan suara gemuruh dan gelombang tinggi. Tiga kali gelombang besar menerjang, dan banyak yang mengira kiamat telah tiba,” kenang Syech Muharram.

Ia juga menyinggung bencana banjir dan tanah longsor yang kembali melanda Aceh pada 26 November 2025, yang memporakporandakan sejumlah wilayah di Aceh bagian utara, timur, dan tengah. Menurutnya, bencana tersebut harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.

“Bencana ekologis yang diduga akibat deforestasi harus menjadi pengingat bagi kita untuk lebih bijak menjaga kelestarian hutan dan lingkungan,” tegasnya.

Syech Muharram berharap peringatan tsunami tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi catatan sejarah dan sarana edukasi mitigasi bencana bagi generasi muda agar masyarakat semakin siap menghadapi potensi bencana di masa depan.

“Peristiwa demi peristiwa yang melanda Aceh harus dicatat sebagai pembelajaran. Saya juga berharap pihak terkait lebih selektif dalam pemberian izin serta pengawasan pengelolaan hutan agar terhindar dari pembalakan liar,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana H. Anwar Ahmad, SE, Ak, dalam laporannya menyampaikan bahwa peringatan tsunami di Masjid Rahmatullah Lampu’uk rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan dan pengingat kolektif.

“Selain zikir dan doa, kegiatan ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi anak cucu kita agar selalu ingat dan waspada terhadap bencana,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, panitia juga menyalurkan santunan kepada 20 anak yatim dari lingkungan setempat. Rangkaian acara ditutup dengan tausiah oleh Tgk. H. Zulbahri Lhoong, dilanjutkan doa penutup.

Peringatan 21 tahun tsunami Aceh ini kembali menegaskan bahwa duka dan pelajaran dari bencana besar tersebut akan selalu hidup dalam ingatan masyarakat Aceh, sekaligus menjadi penguat tekad untuk membangun masa depan yang lebih tangguh dan berdaya menghadapi bencana.

Editor: Redaksi

Media Online