MITRABERITA.NET | Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) dan Gelar Karya Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Besar resmi berakhir pada Kamis (15/10/2026) sore.
Penutupan kegiatan yang menjadi wadah pelestarian bahasa Aceh sekaligus pengembangan kreativitas seni generasi muda Aceh Besar itu berlangsung di halaman Kantor Camat Peukan Bada.
Asisten I Sekdakab Aceh Besar, Farhan AP, yang hadir mewakili Bupati Aceh Besar, menegaskan bahwa FTBI dan GSMS merupakan langkah nyata untuk menjaga keberlangsungan bahasa ibu serta memperkuat kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya daerah.
Kegiatan yang dirangkai dalam Piasan Aceh Rayeuk tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Besar selama empat hari, dengan melibatkan siswa-siswi jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) dari berbagai wilayah di Aceh Besar.
“Kami mengucapkan terima kasih dan mengharapkan kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) agar terus mendukung segala kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan seni dan budaya,” kata Farhan.
Menurutnya, pelestarian bahasa dan budaya tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, komunitas seni, dan masyarakat secara luas.
Melalui kegiatan seperti FTBI dan GSMS, generasi muda diharapkan semakin mengenal, mencintai, serta mampu mengembangkan warisan budaya daerah.
“Hal ini sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk terus menjaga serta melestarikan budaya dan mencintai tanah kelahiran Aceh Besar. Sudah sepatutnya kita memelihara warisan para indatu dan leluhur, yaitu seni dan budaya yang bernilai estetika tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Disdikbud Aceh Besar, M. Isa, S.E., M.Si., Ak., mengapresiasi suksesnya pelaksanaan FTBI dan GSMS. Ia menegaskan, pihaknya berkomitmen mendorong kegiatan pelestarian bahasa daerah dan pengembangan seni di lingkungan pendidikan sebagai agenda berkelanjutan.
Menurut M. Isa, FTBI dan GSMS bukan sekadar ajang perlombaan atau pertunjukan, melainkan sarana pembentukan karakter sekaligus penguatan identitas budaya anak-anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
“Ajang FTBI dan GSMS bukan sekadar pementasan atau perlombaan biasa, melainkan benteng pertahanan karakter anak-anak kita di tengah pesatnya arus digitalisasi. Kami di Dinas Pendidikan sangat mendukung penguatan muatan lokal ini agar anak-anak Aceh Besar bangga menggunakan bahasa ibunya serta memahami akar budayanya sendiri,” kata M. Isa.
Ia menambahkan, Disdikbud Aceh Besar tengah mengkaji formulasi program penerapan penggunaan bahasa daerah secara berkala di lingkungan sekolah. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian bahasa ibu melalui pembiasaan dalam kegiatan pendidikan.
M. Isa juga berharap kepala sekolah dan guru pendamping terus membina kemampuan berbahasa daerah serta bakat seni para siswa setelah kegiatan berakhir.
“Dengan demikian, hasil pembinaan tidak berhenti pada panggung festival, tetapi berlanjut dalam aktivitas belajar mengajar di sekolah masing-masing,” harapnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, menyampaikan bahwa pelaksanaan FTBI tingkat Provinsi Aceh telah memasuki penyelenggaraan keempat, sedangkan di Kabupaten Aceh Besar kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk ketiga kalinya.
“Merupakan kewajiban Balai Bahasa untuk melestarikan dan menjaga bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa daerah,” terangnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Cut Jarita, S.Pd., melaporkan bahwa seluruh rangkaian FTBI dan Gelar Karya GSMS berlangsung selama empat hari dengan partisipasi siswa-siswi SD dan SMP se-Kabupaten Aceh Besar.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada Balai Bahasa Provinsi Aceh, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Aceh, serta seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran kegiatan tersebut.
Berakhirnya Piasan Aceh Rayeuk yang merangkai FTBI dan GSMS diharapkan menjadi momentum untuk terus meningkatkan pembinaan bahasa Aceh dan kreativitas seni di sekolah.
Upaya berkelanjutan dari pemerintah, tenaga pendidik, seniman, dan masyarakat menjadi kunci agar bahasa serta kekayaan budaya Aceh Besar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.[]
















