MITRABERITA.NET | Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru bagi sektor perhubungan untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan, pengolahan data dan pelayanan publik. Namun, teknologi tersebut tetap ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti manusia dalam menentukan kebijakan.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam Rakornis Dinas Perhubungan se-Aceh yang diikuti para Kadishub kabupaten/kota se-Aceh serta pejabat struktural Dishub Aceh, di Aula Multimoda, Selasa (15/9/2026).
Kepala Dinas Perhubungan Aceh, T. Faisal, mengatakan perkembangan teknologi termasuk AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan di sektor perhubungan.
Menurut Faisal, penerapan teknologi tersebut antara lain dapat membantu manajemen lalu lintas, analisis data keselamatan jalan, pemetaan titik rawan kecelakaan, optimalisasi pelayanan hingga pekerjaan administratif.
“Kebutuhan terhadap pengolahan data yang lebih baik dinilai semakin penting melihat kompleksitas persoalan transportasi di Aceh,” kata Faisal.
Ia juga memaparkan, jumlah kecelakaan jalan raya di Aceh. Di mana ada 3.068 kasus kecelakaan lalu lintas terjadi sepanjang 2025, dengan 604 korban meninggal dunia, 366 luka berat dan 4.460 luka ringan. Mayoritas korban berada pada rentang usia produktif yaitu 18-40 tahun.
Di sisi lain, jumlah kendaraan bermotor terus bertambah. Pada 2026, kendaraan bermotor terdaftar di Aceh mencapai 3,02 juta unit, meningkat sekitar 709 ribu unit atau 31 persen sejak 2020.
Sementara panjang jalan pada 2025 tercatat 23.874 kilometer, dengan penambahan hanya 242 kilometer atau sekitar 1,02 persen dalam enam tahun.
Faisal juga menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi sektor perhubungan, antara lain angkutan tanpa kelengkapan perizinan serta penerapan zero Over Dimension Over Loading (ODOL) yang masih jauh dari harapan.
Dari sisi keselamatan, masih terdapat persoalan minimnya penerangan dan rambu, jalan berlubang hingga hewan ternak yang masuk ke jalan raya dan jalan tol.[]












