MITRABERITA.NET | Di banyak tempat, kantor polisi kerap dipandang sebagai tempat yang menegangkan. Tidak sedikit warga yang merasa enggan datang, bahkan sekadar untuk menyampaikan laporan atau meminta bantuan. Namun perlahan, pandangan itu mulai berubah di Aceh.
Di bawah kepemimpinan Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M., institusi kepolisian di Tanah Rencong mengalami transformasi yang tidak hanya terlihat dari sisi pelayanan, tetapi juga dari hubungan emosional antara polisi dan masyarakat.
Jenderal bintang dua kelahiran Tangse, Pidie, 20 Juni 1968 itu dinilai berhasil menghadirkan wajah kepolisian yang lebih humanis, dekat, dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Berbekal pemahaman mendalam terhadap budaya dan karakter masyarakat Aceh, Marzuki mengedepankan pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada penegakan hukum, tetapi juga pada sentuhan sosial dan kearifan lokal.
Perubahan tersebut terlihat dari semakin terbukanya ruang komunikasi antara polisi dan masyarakat. Kantor polisi yang sebelumnya dianggap sebagai tempat yang “jauh” dari warga kini perlahan bertransformasi menjadi ruang publik yang ramah, tempat masyarakat merasa aman untuk mengadu, berkonsultasi, maupun mencari solusi atas persoalan yang dihadapi.
Transformasi itu bukan sekadar slogan. Di berbagai wilayah Aceh, kehadiran personel kepolisian kini semakin menyatu dengan kehidupan masyarakat. Polisi aktif terlibat dalam kegiatan sosial, keagamaan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, lahir hubungan yang lebih harmonis antara aparat dan warga. Polisi tidak lagi dipandang sebagai institusi yang berdiri di atas masyarakat, melainkan sebagai mitra yang hadir bersama masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.
Tidak hanya itu, Kapolda Aceh juga mendorong jajarannya untuk memperkuat hubungan dengan para ulama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat. Langkah ini dinilai efektif dalam menciptakan stabilitas keamanan yang berlandaskan nilai-nilai budaya dan agama yang kuat di Aceh.
Para ulama dan tokoh adat kini menjadi bagian penting dalam menjaga situasi kamtibmas. Pendekatan persuasif dan komunikasi kultural lebih diutamakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Di bidang sosial ekonomi, Polda Aceh juga aktif mendorong pengembangan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kehadiran polisi dalam berbagai kegiatan masyarakat tidak hanya memberikan rasa aman, tetapi juga membantu menggerakkan roda ekonomi di tingkat akar rumput.
Sementara itu, di bidang lingkungan hidup, Irjen Marzuki dikenal sebagai penggagas program Green Policing atau Kepolisian Hijau. Program tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan hidup Aceh yang selama ini menjadi salah satu kekayaan terbesar daerah.
Melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media massa, Polda Aceh berupaya membangun kesadaran kolektif untuk melindungi lingkungan sekaligus mencegah berbagai bentuk kejahatan kehutanan.
Komitmen terhadap pembangunan daerah juga terlihat melalui dukungan aktif terhadap program ketahanan pangan nasional. Di bawah arahannya, jajaran kepolisian hingga tingkat Polsek ikut terlibat mendampingi kelompok tani dan membantu mengoptimalkan lahan produktif untuk mendukung swasembada pangan.
Berbagai langkah tersebut membuat citra Polri di Aceh mengalami perubahan signifikan. Kehadiran polisi kini semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penggerak sosial, penjaga lingkungan, serta mitra pembangunan.
Transformasi yang dilakukan Irjen Marzuki Ali Basyah menjadi contoh bagaimana pendekatan humanis dapat memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Dengan memadukan ketegasan dalam penegakan hukum dan kedekatan dengan masyarakat, Kapolda Aceh berhasil menghadirkan wajah Polri yang lebih inklusif, dicintai, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan rakyat Aceh.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi institusi penegak hukum saat ini, perubahan tersebut menjadi bukti bahwa kepercayaan masyarakat dapat dibangun melalui keteladanan, kerja nyata, dan kehadiran yang tulus di tengah-tengah rakyat.
Editor: Redaksi






















