GLOBAL

Ditanya Kondisi Mental Trump di Tengah Perang Iran, Menhan AS Pilih Menghindar di Kongres

×

Ditanya Kondisi Mental Trump di Tengah Perang Iran, Menhan AS Pilih Menghindar di Kongres

Sebarkan artikel ini
Presiden Amerika Serika Donald Trump. Foto: AP

MITRABERITA.NET | Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menghindari pertanyaan terkait kondisi mental Presiden Donald Trump saat memberikan kesaksian di hadapan Kongres AS mengenai perkembangan perang dengan Iran, pada Rabu (29/4/2026).

Dilansir CNNIndonesia.com, pertanyaan tersebut dilontarkan oleh seorang anggota Kongres dari Partai Demokrat, Sara Jacobs, dalam sesi public questioning.

Ia menyoroti kekhawatiran sejumlah keluarga militer terhadap kondisi mental Trump, terutama dalam kapasitasnya sebagai panglima tertinggi di tengah konflik yang terus berlangsung.

Dalam sesi itu, Sara mengutip sejumlah unggahan Trump di platform media sosial Truth Social yang dinilai kontroversial dan memicu kecemasan publik. Selama perang, Trump beberapa kali melontarkan ancaman terhadap Iran serta mengklaim kemenangan tanpa bukti yang jelas.

“Saya sudah mendengar dari begitu banyak keluarga militer yang khawatir tentang kesehatan mental Presiden dan apakah dia layak untuk menjabat sebagai Panglima Tertinggi kita, mengingat dia mengirim orang-orang terkasih mereka ke medan perang,” kata Sara.

Ia menegaskan bahwa stabilitas mental seorang presiden sangat penting bagi keberlangsungan negara, terlebih dalam situasi konflik bersenjata.

“Saya sedih harus bertanya soal ini, soal presiden kita, tetapi nyawa orang-orang yang saya wakili dipertaruhkan. Apakah Anda percaya bahwa Presiden cukup stabil secara mental untuk menjadi Panglima Tertinggi?” tanya Sara dalam video yang diunggah di X.

Sebagai perwakilan dari San Diego, wilayah dengan komunitas militer besar, Sara menyebut sekitar 2.500 marinir dari daerahnya saat ini berada di lepas pantai Iran.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Hegseth justru membalas dengan pertanyaan balik yang membandingkan pemerintahan saat ini dengan era Presiden sebelumnya, Joe Biden.

“Apakah Anda mengajukan pertanyaan yang sama kepada Joe Biden selama empat tahun?” tanya Hegseth dengan nada tinggi.

Perdebatan antara keduanya pun tak terhindarkan. Sara menegaskan bahwa pertanyaannya merujuk pada kondisi pemerintahan saat ini, mengingat Trump telah menjabat selama satu setengah tahun.

“Saya bertanya kepada Anda sekarang..” kata Sara yang langsung disela Hegseth.

“Saya bahkan tidak akan menanggapi tingkat penghinaan yang Anda berikan ke Panglima Tertinggi,” kata Hegseth.

Ia kemudian membela Trump dengan menyebutnya sebagai pemimpin yang unggul dibandingkan pendahulunya.

“Dia adalah Panglima Tertinggi yang paling cerdas dan berwawasan luas yang pernah kita miliki dalam beberapa generasi,” ujar Hegseth.

Meski demikian, Sara terus mendesak jawaban terkait kondisi terkini, termasuk menyinggung unggahan Trump saat perayaan Paskah yang menampilkan ilustrasi dirinya menyerupai Yesus Kristus, yang menuai kritik dari sebagian kalangan.

“Saya Yahudi, jadi ini tak terlalu mengganggu saya, tetapi sepemahaman saya ini cukup menyinggung banyak orang Kristen. Jadi, bagaimana Anda menjelaskan postingan ini?” tanya Sara.

Hegseth menanggapi singkat, ” Saya di sini bukan untuk menjelaskan postingan.”

“Kita punya panglima tertinggi yang luar biasa yang mengutamakan pasukan kita. Saya di sini untuk sidang anggaran soal pasukan kita,” imbuhnya.

Hingga akhir sesi, Hegseth tidak memberikan jawaban langsung terkait pertanyaan utama mengenai kondisi mental Presiden.

Sementara itu, konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus berlanjut. Serangan militer yang dilancarkan AS bersama sekutunya, Israel, sejak 28 Februari lalu telah memicu eskalasi yang signifikan di kawasan Timur Tengah.

Iran merespons dengan serangan balasan, termasuk langkah strategis menutup jalur pelayaran minyak global di Selat Hormuz. Hingga kini, konflik telah berlangsung selama 60 hari.

Sesuai konstitusi, Presiden AS sebagai panglima tertinggi tetap memerlukan persetujuan Kongres untuk melanjutkan operasi militer dalam skala besar, menjadikan dinamika politik domestik turut memengaruhi arah konflik ke depan.

Editor: Redaksi

Media Online