Penulis: Liyana Alima Athallah (Mahasiswa Prodi Psikologi USK)
REMAJA akhir merupakan masa periode transisi yang membawa kita dari dunia remaja menuju kehidupan dewasa. Anak merasakan di masa ini sangat berbeda dengan masa yang sudah ia lalui yaitu masa anak-anak.
Di masa ini anak bisa mengambil keputusan sendiri yang berkaitan untuk masa depan, memikirkan karir kedepannya bagaimana. Namun, itu semua tidak bisa terjadi secara instan. Harus mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar, contoh terdekat adalah keluarga kita sendiri.
Keluarga memiliki peran yang sangat penting pada kematangan psikologis pada remaja masa-masa akhir seperti ini. Ketika orang tua bekerja, interaksi anak dengan orang tuanya berkurang. Tetapi kekurangan ini mempunyai dampak baik dan dampak buruk.
Dampak baiknya adalah si anak menjadi pribadi yang tangguh, mampu mengatur waktu sendiri, dan juga lebih bertanggung jawab. Dampak ini juga akan mendorong terbentuknya kemapuan anak untuk dapat bisa mengendalikan emosi atau mengendalikan situasi kehidupannya secara pribadi.
Di sisi lain, dampak buruk dari kurangnya berinteraksi dengan orang tua yaitu: anak bisa merasakan rasa kesepian yang mendalam, memiliki rasa bingung untuk mengambil keputusan, dan terkadang di dalam pikiran anak, orang tuanya tidak menyayangi dia. Mungkin kita harus bisa membuang pikiran-pikiran yang seperti dampak buruk itu.
Orang tua mana yang mau berjauhan dengan anak-anaknya, karna waktu dan kondisi inilah yang memaksa mereka seperti itu. Anak dan orang tua harus banyak memiliki interaksi positif seperti makan bersama, belanja bersama dan juga sesekali bisa deep talk bersama sang anak.
Dengan adanya suasana yang harmonis di dalam keluarga, anak dapat bebas mengekspresikan dirinya tanpa melupakan norma-norma agama. Orang tua bisa juga menjadi pendengar yang baik ketika mereka mempunyai waktu bersama anak-anaknya.
Orang tua harus selalu meningkatkan kualitas interaksi bersama anak melalui segala jenis pendekatan, seperti memberikan contoh perilaku yang positif, mendukung segala aktivitas anak, memberikan reward kepada si anak setiap pencapain yang sudah ia dapatkan.
Menurut Teori Ekologi dari Urie Bronfenbrenner, dapat kita simpulkan bahwa kematangan psikologis pada remaja akhir tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui banyaknya interaksi yang kompleks antara anak dan lingkungannya. Kondisi orang tua yang bekerja masuk dalam teori ekologi yaitu sistem ekosistem, yang secara langsung memengaruhi perkembangan pada remaja.
Situasi seperti ini memberikan dua kemungkinan yaitu: tantangan dalam kurangnya dukungan emosi pada anak, serta peluang untuk mengembangkan kemandirian dan juga adaptasi. Dengan demikian, orang tua yang bekerja bukan jadi penghalang untuk proses kematangan psikologis remaja.
Kematangan psikologis pada remaja (anak) akan tetap perkembang dengan baik jika kualitas hubungan dengan orang tua baik, komunikasi berjalan dengan lancar. Remaja yang mampu beradaptasi dengan kondisi seperti ini bisa menjadi anak yang mandiri, tangguh, dan bisa lebih bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. (*)













