MITRABERITA.NET | Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) selaku Ketua Komite Memory of the World (MoW) Indonesia memberitahukan kepada Zawiyah Kuno Teungku Chik Tanoh Abee bahwa pada tahun 2026, Perpustakaan Kuno Teungku Chik Tanoh Abee kembali memperoleh pengakuan sekaligus undangan untuk berpartisipasi dalam Program Warisan Dokumenter Memori Kolektif Bangsa dan Memory of the World.
Undangan ini merupakan bagian dari program partisipasi UNESCO bagi negara anggota untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang sejalan dengan mandat dan prioritas UNESCO, khususnya di bidang kebudayaan serta komunikasi dan informasi.
Program tersebut dinilai relevan dengan upaya perlindungan, pelestarian, dan penguatan warisan dokumenter bangsa dan dunia melalui penguatan program Memori Kolektif Bangsa dan Memory of the World.
Pada tahun sebelumnya, 2025, ANRI bersama Asian Culture Center dan UNESCO telah menetapkan Perpustakaan Kuno Teungku Chik Tanoh Abee beserta seluruh koleksinya sebagai warisan dunia yang harus dijaga, dilestarikan, dan dipertahankan keberlanjutannya.
Seluruh koleksi tersebut merupakan milik pribadi keturunan Teungku Chik Tanoh Abee yang saat ini dipertanggungjawabkan kepada pimpinan Zawiyah Teungku Chik Tanoh Abee, yakni Cut Fid atau Teungku Abdul Hafidz al Fairusy al Baghdady.
Menanggapi undangan dan pengakuan tersebut, Cutbang Abulis selaku ponakan Cut Fid pimpinan Zawiyah sekaligus penanggung jawab Pustaka menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas perhatian yang kembali diberikan oleh ANRI dan UNESCO.
Ia menyebutkan bahwa masuknya kembali Perpustakaan Kuno Teungku Chik Tanoh Abee dalam daftar nominator dan undangan Program MoW merupakan bentuk pengakuan atas nilai penting manuskrip dan arsip yang tersimpan di dalamnya.
Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir dukungan terhadap pelestarian dan perawatan manuskrip Teungku Chik Tanoh Abee terus menguat.
“Dukungan tersebut datang dari berbagai pihak, di antaranya Arsip Nasional Republik Indonesia, Asian Culture Center, UNESCO, UIN Ar-Raniry, Balai Pelestarian Kebudayaan Republik Indonesia Wilayah I Aceh, serta sejumlah institusi lainnya,” ungkapnya, dalam keterangan tertulis kepada media, Selasa (3/2/2026).
Ke depan, Cutbang Abulis berharap adanya perhatian yang lebih besar dari Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dan Pemerintah Provinsi Aceh terhadap warisan sejarah dan situs Zawiyah serta Perpustakaan Kuno Teungku Chik Tanoh Abee.
Ia menegaskan bahwa sejak masa lalu hingga saat ini, kawasan tersebut merupakan situs penting bagi masyarakat Aceh dan Indonesia, sehingga perlu dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan untuk generasi mendatang. []













