ARTIKEL

Teuku Nyak Arief: Rencong Aceh yang Berjuang dengan Pendidikan, Politik, dan Keteguhan Jiwa

×

Teuku Nyak Arief: Rencong Aceh yang Berjuang dengan Pendidikan, Politik, dan Keteguhan Jiwa

Sebarkan artikel ini
Makam Pahlawan Nasional dari Aceh, Teuku Nyak Arief. Foto: Budaya Aceh / MB

MITRABERITA.NET | Di sudut Lamreung, Kabupaten Aceh Besar, makam Teuku Nyak Arief menjadi saksi bisu perjalanan seorang putra Aceh yang menghabiskan hidupnya untuk rakyat dan perjuangan kemerdekaan.

Namanya tidak hanya tercatat sebagai pahlawan perang, tetapi juga sebagai pemimpin politik, penggerak pendidikan, dan tokoh yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan dirinya.

Teuku Nyak Arief lahir di Ulee Lheue, Kutaraja, pada 17 Juli 1899. Ia merupakan putra Teuku Nyak Banta, Panglima Sagi XXVI Mukim di Aceh Besar, dan Cut Nyak Rayeuk. Sejak muda, Arief dikenal memiliki keberanian, kecerdasan, serta jiwa kepemimpinan yang kuat.

Pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan hidupnya. Setelah menempuh pendidikan dasar di Kutaraja, ia melanjutkan ke Kweekschool di Bukittinggi dan kemudian OSVIA di Serang, Banten.

Dari lingkungan pendidikan inilah wawasan Teuku Nyak Arief mengenai pemerintahan, politik dan kehidupan masyarakat semakin berkembang. Namun, pendidikan bagi Teuku Nyak Arief bukan sekadar jalan untuk membangun dirinya sendiri.

Ia melihat pengetahuan sebagai senjata penting untuk membebaskan masyarakat dari keterbelakangan dan penjajahan. Karena itu, sejak usia muda ia mulai terlibat dalam pergerakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Pada 1919, ia dipercaya memimpin cabang National Indische Partij di Banda Aceh. Setahun kemudian, ia menggantikan ayahnya sebagai Panglima Sagi XXVI Mukim. Jabatan tersebut menjadikannya salah satu tokoh penting dalam kehidupan masyarakat Aceh pada masa kolonial.

Perjalanan perjuangannya kemudian memasuki panggung politik yang lebih luas. Pada 1927, Teuku Nyak Arief menjadi wakil Aceh di Volksraad atau Dewan Rakyat. Di lembaga bentukan pemerintah kolonial itu, ia tidak memilih diam.

Ia menyuarakan kepentingan rakyat dan ikut mendorong gagasan persatuan. Dikutip dari berbagai sumber, ia juga tercatat sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam Fraksi Nasional di Volksraad.

Di tengah ruang politik yang dikuasai pemerintah kolonial, keberanian Teuku Nyak Arief menjadi ciri khas perjuangannya. Ia dikenal sebagai sosok yang berani menyampaikan sikap dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Perjuangannya juga menyentuh bidang pendidikan dan sosial, termasuk dukungan terhadap pengembangan pendidikan bagi masyarakat Aceh.

Memasuki dekade 1930-an, perjuangan Teuku Nyak Arief bergerak semakin dalam. Sumber sejarah mencatat bahwa sejak 1932 ia memimpin gerakan bawah tanah untuk menentang penjajahan Belanda di Aceh. Artinya, perjuangannya tidak berhenti di ruang sidang atau panggung politik, tetapi berlanjut melalui gerakan perlawanan terhadap kolonialisme.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, perjuangan itu kembali memasuki babak baru. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Teuku Nyak Arief dipercaya menjadi Residen Aceh pertama.

Pemerintah Aceh mencatat pengangkatannya sebagai Residen dilakukan pada 3 Oktober 1945, menempatkannya sebagai salah satu tokoh penting dalam fase awal pemerintahan Republik Indonesia di Aceh.

Posisi tersebut datang ketika republik masih sangat muda dan situasi politik Aceh penuh gejolak. Teuku Nyak Arief menghadapi berbagai persoalan, termasuk dinamika politik dan konflik internal yang kemudian berkembang menjadi Peristiwa Cumbok. Namun dalam situasi yang sulit, ia tetap berusaha mempertahankan kepentingan pemerintahan dan rakyat Aceh.

Pada awal 1946, dalam kondisi kesehatan yang menurun, Teuku Nyak Arief ditawan dan dibawa ke Takengon. Ia kemudian wafat di sana pada 4 Mei 1946, dalam usia 46 tahun.

Jenazahnya dibawa kembali ke Kutaraja dan dimakamkan di Lamreung, Aceh Besar, yang mana ini menjadi tempat yang hingga kini menjadi salah satu ruang penting untuk mengenang perjalanan hidupnya.

Pemerintah Republik Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Teuku Nyak Arief melalui Keputusan Presiden RI Nomor 071/TK/Tahun 1974, tertanggal 9 November 1974. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan negara atas jasa dan perjuangannya dalam perjalanan panjang menuju kemerdekaan Indonesia.

Warisan Penting Teuku Nyak Arief

Kisah Teuku Nyak Arief menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu berlangsung dengan mengangkat senjata. Ia berjuang melalui pendidikan, politik, organisasi, pemerintahan dan keberpihakan kepada rakyat.

Ia hidup dalam tiga zaman perjuangan –masa Hindia Belanda, pendudukan Jepang dan awal revolusi kemerdekaan– sehingga dalam kajian sejarah ia dikenal sebagai pejuang Aceh tiga zaman.

Warisan terbesar Teuku Nyak Arief bukan hanya nama yang terukir pada jalan, gedung atau buku sejarah. Warisan itu adalah keberanian untuk berpikir, keberanian menyampaikan sikap dan kesediaan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Karena itu, mengunjungi makam Teuku Nyak Arief seharusnya tidak berhenti pada ritual ziarah dan tabur bunga. Di balik pusara tersebut tersimpan pesan sejarah bagi generasi hari ini.

Pesan tegas yang perlu diingat, kemerdekaan tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi dibangun oleh keberanian orang-orang yang bersedia mengorbankan waktu, pikiran, harta bahkan hidupnya untuk masa depan bangsa.

Dan bagi Rakyat Aceh, Teuku Nyak Arief bukan sekadar nama dari masa lalu. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif tentang bagaimana seorang putra Aceh dengan penuh keberanian dan kecerdasan berdiri di tengah perubahan zaman.

Teuku Nyak Arief telah membawa pendidikan dan keberanian politik sebagai jalan perjuangan, sehingga sampai dengan hari ini namanya menjadi bagian dari sejarah besar Republik Indonesia.

Editor: Redaksi

Media Online