MITRABERITA.NET | Karier birokrasi Taufik ST MSi kembali bergerak ke posisi strategis setelah sebelumnya sukses memimpin Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh yang kemudian dipercaya sebagai Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Aceh.
Kini, Taufik mendapat amanah baru sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, posisi strategis yang menuntut kemampuan mengelola birokrasi sekaligus menjembatani beragam kepentingan di pemerintahan Aceh.
Surat Keputusan (SK) pengangkatan Taufik sebagai Plt Sekda Aceh diserahkan pada Senin (24/8/2026) dalam prosesi yang berlangsung secara hybrid.
Taufik menerima SK tersebut di Aula Badan Kepegawaian Aceh (BKA), Banda Aceh, sementara Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau Dek Fadh menyaksikan secara daring dari Aula Kantor Badan Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta.
Penunjukan tersebut menjadi babak baru bagi Taufik, sekaligus menunjukkan tingkat kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya untuk mengisi posisi sangat penting dalam roda pemerintahan Aceh.
Selama menjalankan tugas di sejumlah organisasi perangkat daerah, Taufik dikenal menempuh jalur birokrasi yang relatif tenang. Ia mampu membangun komunikasi dengan berbagai pihak dan menjaga hubungan kerja tetap kondusif.
Karakter komunikasi yang cair dan pendekatan yang tidak konfrontatif menjadi salah satu kekuatan Taufik dalam menjalankan tugas. Ketika muncul persoalan, ia cenderung memilih meredakannya melalui komunikasi dan penyelesaian secara langsung, sehingga persoalan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Kini, pola kerja tersebut akan diuji dalam ruang yang jauh lebih besar. Sebagai Plt Sekda Aceh, Taufik tidak hanya dituntut memastikan administrasi pemerintahan berjalan, tetapi juga harus mampu menjembatani kepentingan lintas organisasi perangkat daerah, kepala daerah, legislatif, pemerintah pusat hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) juga meminta Taufik agar menjalankan tugas secara profesional dan menjaga integritas selama mengemban amanah sebagai Plt Sekda Aceh.
“Selamat bekerja, jaga integritas, dan bangun komunikasi yang baik dengan mitra Pemerintah Aceh,” kata Dek Fadh melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi.
Pesan tersebut menjadi penting mengingat posisi Sekda merupakan salah satu simpul utama dalam pemerintahan daerah. Sekda tidak hanya bertugas mengoordinasikan birokrasi, tetapi juga menjadi penghubung penting antara pimpinan daerah dengan jajaran aparatur pemerintahan.
Taufik kini berada di posisi yang menuntut kemampuan komunikasi sekaligus ketegasan. Gaya tenang yang selama ini menjadi cirinya tentu harus mampu diterjemahkan menjadi kekuatan untuk menjaga ritme pemerintahan tetap stabil.
Pergeseran Jabatan Nasir
Penunjukan Taufik sebagai Plt Sekda Aceh berlangsung bersamaan dengan pelantikan M Nasir Syamaun sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.
Pelantikan tersebut juga dilakukan secara hybrid. Dek Fadh mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem dari Jakarta, sementara Nasir mengikuti prosesi pelantikan dari Aula BKA Banda Aceh.
Nasir sebelumnya menjabat sebagai Sekda Aceh. Ia diberhentikan dengan hormat berdasarkan keputusan Presiden pada Jumat pekan lalu sebelum kemudian dipercaya menduduki jabatan baru sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.
“Saya melantik Saudara Nasir atas perintah Gubernur Aceh Muzakir Manaf,” kata Dek Fadh.
Menurut Dek Fadh, selama menjabat Sekda Aceh, Nasir telah memberikan banyak kontribusi dalam pemerintahan. Namun, pergantian jabatan merupakan bagian dari dinamika birokrasi.
“Namun itulah keputusan Bapak Gubernur dan beliau ditunjuk dan diberi jabatan yang baru,” ujarnya.
Dek Fadh meminta pergantian tersebut tidak dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa. Menurutnya, penyegaran dan pergantian jabatan merupakan hal yang biasa dalam birokrasi pemerintahan.
“Penyegaran dan memberi jabatan. Bagi ASN ini hal yang biasa, dan tak perlu dibesar-besarkan. Kepada Bang Nasir yang telah menjabat sebagai sekda selama ini kita ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya,” kata Dek Fadh.
Kini, setelah Nasir menempati posisi baru, Taufik mendapat ruang untuk menunjukkan kemampuannya di posisi strategis sebagai Plt Sekda Aceh.
Pertanyaan berikutnya bukan lagi soal apakah Taufik mampu bekerja tenang, tetapi apakah ketenangan, komunikasi dan kemampuannya meredam persoalan itu cukup kuat untuk menjembatani beragam kepentingan di tengah kompleksitas pemerintahan Aceh.
Jawabannya akan terlihat dari cara Taufik mengelola birokrasi dalam beberapa waktu ke depan.
Editor: Redaksi






















