PERISTIWAUTAMA

Sekian Lama Terlantar di Aceh, Nur Evasari Akhirnya Kembali ke Blitar

958
×

Sekian Lama Terlantar di Aceh, Nur Evasari Akhirnya Kembali ke Blitar

Sebarkan artikel ini
Eva menjelang keberangkatan lewat Bandara Sultan Iskandar Muda menuju kampung halamannya, pada Ahad 9 November 2025. Foto: Dok. MB

MITRABERITA.NET | Nur Evasari (26), seorang wanita muda asal Blitar, Jawa Timur, akhirnya bisa kembali ke pangkuan keluarganya setelah sekian lama terlantar di Aceh. Ia dipulangkan oleh Anggota DPD RI H Sudirman alias Haji Uma, lewat Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), pada Ahad 9 November 2025.

Sebelumnya, Nur Evasari ditemukan warga dalam kondisi terlantar di sekitar terminal bus Banda Aceh. Warga yang prihatin dengan kondisi perempuan tersebut akhirnya melaporkannya ke Dinas Sosial Kota Banda Aceh.

Selanjutnya, Eva dievakuasi dan ditempatkan sementara di Rumah Singgah Dinas Sosial serta mendapatkan pendampingan dari Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Meuraxa.

Menurut penuturan Ketua TKSK Provinsi Aceh, Misra Yana, Nur Evasari datang ke Aceh pada tahun 2024 lalu setelah dijanjikan pekerjaan oleh seorang warga Kabupaten Aceh Jaya.

Namun kenyataan jauh dari harapan, pekerjaan yang dijanjikan tak kunjung datang, hingga ia berpindah-pindah ke Pekanbaru dan Medan, sebelum akhirnya kembali ke Aceh dan berujung terlantar di Banda Aceh.

“Eva datang dengan niat mencari rezeki, tapi nasibnya justru membuat ia terdampar tanpa pekerjaan dan biaya pulang,” ungkap Misra Yana., dalam keterangan tertulis yang diterima media, Senin 10 November 2025.

Beruntung, kisah Eva sampai ke telinga H. Sudirman (Haji Uma), anggota DPD RI asal Aceh yang dikenal aktif membantu warga di perantauan. Informasi itu diterimanya dalam forum silaturahmi bersama Dinas Sosial Aceh dan para relawan sosial, padavKamis 6 November 2025.

Tanpa menunggu lama, Haji Uma langsung menyatakan siap membantu biaya pemulangan Eva ke Jawa Timur. Seusai pertemuan, ia bahkan langsung mengunjungi rumah singgah tempat Eva ditampung.

Di sana, pertemuan singkat antara keduanya berlangsung penuh haru. Eva, dengan mata berkaca, mengucap terima kasih saat Haji Uma berjanji membiayai tiket pesawatnya menuju Surabaya.

Tak hanya itu, Haji Uma juga menanggung biaya perbaikan ponsel milik Eva agar bisa berkomunikasi dengan keluarga serta membantu kebutuhan hidup selama berada di rumah singgah.

Pada Ahad 9 November 2025 pukul 14.00 WIB, Eva akhirnya diterbangkan melalui Bandara SIM menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk transit, sebelum melanjutkan penerbangan ke Bandara Juanda, Surabaya.

Ia diantar langsung oleh tim Dinas Sosial Banda Aceh, TKSK Meuraxa, dan perwakilan dari tim Haji Uma yang turut melepas keberangkatannya.

Haji Uma menyampaikan rasa syukur atas selesainya proses pemulangan Eva dan mengapresiasi semua pihak yang ikut membantu.

“Saya merasa miris mendengar kisah Eva. Ia datang dengan harapan, tapi justru terlantar di negeri orang. Sebagai sesama manusia, kita tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan orang lain,” ujarnya.

Haji Uma menambahkan, kepedulian kepada sesama harus melampaui batas daerah dan suku. “Banyak warga Aceh yang juga hidup di perantauan. Jika kita menanam kebaikan di sini, insya Allah warga Aceh di luar sana pun akan mendapat bantuan dan empati yang sama ketika mereka tertimpa musibah,” tambahnya.

Kisah Nur Evasari menjadi potret nyata bagaimana kolaborasi antara masyarakat, relawan sosial, dan pejabat publik mampu mengembalikan martabat seseorang yang sempat kehilangan arah di tanah rantau.

Aksi Haji Uma bukan hanya bentuk bantuan personal, melainkan juga pesan moral bagi masyarakat luas bahwa kemanusiaan seharusnya tidak mengenal batas daerah maupun latar belakang.

“Bantuan kepada Eva adalah bagian dari solidaritas dan rasa kemanusiaan. Saya berharap ia bisa segera berkumpul dengan keluarganya dan memulai hidup baru,” tutup Haji Uma.

Kini, Nur Evasari telah tiba di tanah kelahirannya, Blitar. Ia kembali kepada ayahnya yang sudah lanjut usia, membawa kisah bahwa di tanah paling barat Indonesia, masih ada tangan-tangan yang peduli.

Editor: Redaksi

Media Online