MITRABERITA.NET | Tahapan penanganan bencana hidrometeorologi basah di Provinsi Sumatera Barat resmi memasuki fase pemulihan sejak 22 Desember 2025. Upaya percepatan pemulihan terus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk unsur akademisi.
Sebanyak 400 mahasiswa Universitas Andalas dikerahkan untuk bergabung dalam tim verifikasi dan validasi rumah warga yang rusak akibat bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat. Para mahasiswa merupakan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang secara khusus dilibatkan untuk mendukung pendataan kerusakan rumah warga.
Pengerahan ratusan mahasiswa ini dimulai pada Jumat (2/1) dan menjadi bagian dari strategi percepatan pemulihan pascabencana yang diinisiasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Sekretaris Utama BNPB, Rustian, menegaskan bahwa penanggulangan bencana harus dilakukan secara multipihak melalui pendekatan kolaborasi pentaheliks, yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media.
“Termasuk di dalamnya akademisi dan para pakar. Maka dari itu BNPB selalu bekerjasama dengan pakar dan mahasiswa yang ada di Indonesia khususnya di Sumbar untuk penanganan bencana seperti yang akan kita lakukan hari ini,” jelas Rustian.
Menurutnya, para mahasiswa akan disebar ke 13 kabupaten/kota di Sumatera Barat untuk melakukan pendataan serta verifikasi kondisi rumah warga yang terdampak banjir bandang dan longsor. Proses pendataan akan mengklasifikasikan tingkat kerusakan rumah ke dalam tiga kategori, yakni rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat.
Rustian menambahkan, sistem kategorisasi kerusakan tersebut telah disiapkan oleh BNPB dan disesuaikan dengan ketentuan serta peraturan yang berlaku, sehingga hasil verifikasi dapat dipertanggungjawabkan secara administratif dan teknis.
Sebelum diterjunkan ke lapangan, seluruh mahasiswa akan mendapatkan pembekalan teknis terkait format, mekanisme, serta poin-poin penting dalam melakukan verifikasi dan validasi data. Selama proses pendataan, mahasiswa juga akan didampingi Babinsa dan Bhabinkamtibmas guna memastikan kelancaran dan keamanan kegiatan di lapangan.
Sementara itu, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Unand untuk berkontribusi langsung dalam proses percepatan pemulihan pascabencana di Sumatera Barat.
“Kami Universitas Andalas berkomitmen terus menerus menjadi mitra, untuk menjadi solusi dalam proses pemulihan ataupun dalam proses rekonstruksi pascabencana yang terjadi di negara kita,” tuturnya.
Ia juga berpesan kepada para mahasiswa agar menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab serta mematuhi ketentuan dan standar yang telah ditetapkan oleh BNPB.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menyampaikan hasil verifikasi dan validasi rumah rusak ini akan menjadi acuan utama dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Ia mengungkapkan bahwa jumlah rumah rusak di Sumbar mencapai lebih dari 20 ribu unit, sehingga ketepatan data menjadi sangat krusial.
“Ada 20 ribu lebih rumah rusak di Sumbar. Verifikasi tingkatan kerusakan, apakah rusak ringan, sedang, maupun berat ini penting untuk menjadi acuan dalam membangun hunian tetap nantinya,” jelas Mahyeldi.
Verifikasi dan validasi rumah rusak dijadwalkan mulai Sabtu 3 Januari dan ditargetkan rampung pada Rabu 7 Januari. Pemerintah berharap keterlibatan mahasiswa dan kolaborasi lintas sektor ini dapat mempercepat pemulihan dan memastikan bantuan tepat sasaran bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatera Barat.
Editor: Redaksi














