MITRABERITA.NET | Proses pemulihan pascabanjir di Kabupaten Pidie Jaya terus bergerak, tidak hanya menyasar perbaikan infrastruktur fisik, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Salah satu langkah nyata dilakukan melalui pembentukan Taman Baca Masyarakat (TBM) “Wareh” di Dusun Meunasah Lhoknga, Gampong Masjid Tuha, Kecamatan Meureudu.
TBM tersebut dibentuk melalui kolaborasi Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) bersama Natural Aceh (NA) sebagai bagian dari program pemulihan berbasis komunitas. Inisiatif ini sekaligus menjadi upaya menghadirkan kembali ruang belajar bagi anak dan remaja yang terdampak bencana banjir.
Nama “Wareh”, yang berarti warisan, dipilih sebagai simbol harapan agar taman baca tersebut menjadi sumber pengetahuan yang berkelanjutan bagi masyarakat desa, khususnya generasi muda.
Pembentukan TBM diawali dengan pelatihan kader yang difasilitasi tim GEN-A dan Natural Aceh. Para kader dibekali pengetahuan tentang pengelolaan operasional taman baca, mulai dari sistem administrasi, inventarisasi buku, pencatatan kunjungan, hingga pengelolaan layanan peminjaman dan program literasi.
Program ini merupakan bagian dari Pendampingan Percepatan Pemulihan Desa (P3D) yang dijalankan GEN-A melalui inisiatif Ruang Baca Harapan. Pendekatan tersebut menempatkan literasi sebagai salah satu fondasi pemulihan sosial pascabencana, selain layanan kesehatan dan dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak.
Project Officer Ruang Baca Harapan sekaligus relawan GEN-A, Sarah Salsabil, mengatakan kehadiran TBM menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk kembali membangun rutinitas belajar setelah bencana.
“TBM ini bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang belajar bersama. Karena itu, kader kami latih agar mampu mengelola taman baca secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya melalui keterangan tertulis kepada media, Rabu 4 Februari 2026.
Saat ini, TBM Wareh memiliki sekitar 250 koleksi buku dengan berbagai kategori, mulai dari bacaan anak, pengetahuan umum, hingga pengembangan diri. Koleksi tersebut berasal dari berbagai donasi, termasuk dari Duta Pemuda Indonesia, LPDP PK 230 Tandara, serta donatur individu.
Seluruh pengurus TBM merupakan pemuda dan remaja Gampong Masjid Tuha. Struktur kepengurusan telah dilantik oleh Kaur Keuangan Gampong Masjid Tuha, Musliadi, yang mewakili keuchik setempat. Kepengurusan terdiri dari pembina, ketua, sekretaris, bendahara, serta koordinator bidang koleksi, layanan, dan program.
Perwakilan Natural Aceh, Wahdini Husniyah Hajirah, menilai keberlanjutan taman baca sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat lokal.
“Kami mendorong kader lokal menjadi penggerak utama. Pendampingan hanya bersifat penguatan sistem dan kapasitas, sedangkan keberlangsungan TBM ditentukan oleh aktivitas masyarakat sendiri,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif GEN-A, Imam Maulana, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana harus dilihat secara komprehensif, termasuk membangun kembali ruang tumbuh bagi anak-anak dan masyarakat.
“Pemulihan tidak hanya membangun kembali bangunan yang rusak, tetapi juga memulihkan harapan dan kepercayaan diri masyarakat. TBM dapat menjadi pusat pembelajaran, diskusi, dan penguatan kapasitas warga,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan berbasis pemuda dipilih karena kelompok tersebut dinilai memiliki semangat adaptif dan mampu menggerakkan aktivitas komunitas secara konsisten. Ke depan, program ini akan dilanjutkan dengan monitoring jarak jauh dan pelatihan lanjutan bagi kader TBM.
Pembentukan TBM Wareh menjadi bagian dari rangkaian intervensi sosial di wilayah terdampak banjir Pidie Jaya. Sebelumnya, berbagai program juga telah dilakukan, seperti layanan kesehatan dasar, dukungan psikososial anak, dan penguatan kebersihan lingkungan posko.
Editor: Redaksi













