NUSANTARA

Mukim Akob, Pelaku dan Saksi Hidup Sejarah Perjuangan Bangsa Aceh

×

Mukim Akob, Pelaku dan Saksi Hidup Sejarah Perjuangan Bangsa Aceh

Sebarkan artikel ini
Cutbang Abulis bersama Muhajir Al Fairusy dan sejumlah rekannya bersilaturahmi di kediaman Tgk. Yakob Usman (Mukim Akob) di Gampong Datai Gaseu, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar, Sabtu (20/6/2026). Foto: Mitraberita

MITRABERITA.NET | Cutbang Abulis bersama Muhajir Al Fairusy dan sejumlah rekannya bersilaturahmi dengan Tgk. Yakob Usman atau yang lebih dikenal sebagai Mukim Akob, salah seorang tokoh perjuangan Aceh, di kediamannya di Gampong Datai Gaseu, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar, Sabtu (20/6/2026).

Menurut Cutbang Abulis, sosok Mukim Akob merupakan salah satu saksi hidup berbagai peristiwa penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Saat ini, usianya diperkirakan telah mencapai 95 tahun.

“Tgk. Yakob Usman tercatat pernah menjadi prajurit Kompi I dalam perjuangan DI/TII Aceh. Beliau juga merupakan adik kandung dari salah satu tokoh besar DI/TII Aceh, yaitu Ayah Ghani Seulimeum. Meski usia beliau telah sangat lanjut, daya ingat Mukim Akob masih tergolong kuat walaupun usia semakin senja,” ujarnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut, Mukim Akob banyak menceritakan berbagai pengalaman sejarah yang pernah disaksikan dan dijalaninya secara langsung semasa muda.

Mulai dari masa perlawanan rakyat Aceh terhadap penjajahan Belanda dan Jepang, proses kemerdekaan Republik Indonesia, peran Aceh sebagai daerah modal bagi NKRI, hingga posisi Aceh sebagai ujung tombak pertahanan kedaulatan negara pada masa agresi militer Belanda.

Ia juga menceritakan perjalanan panjang Aceh pada masa DI/TII hingga periode konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Negara Republik Indonesia.

“Mukim Akob membagikan berbagai kisah yang menjadi gambaran berharga tentang dinamika perjuangan dan perjalanan politik Aceh sepanjang abad ke-20, ” ungkapnya.

“Dalam pertemuan tersebut, beliau juga mengenang pertemuannya dengan sejumlah tokoh besar Aceh pada masanya, di antaranya Teungku Chik Muhammad Ali Tanoh Abee, Abu Wahab Keunaloe Seulimeum, Teuku Bakhtiar Panglima Polem, Teungku Daud Beureueh, Teungku Hasan Saleh, Teungku Husen Yusuf, Pak Majid Ibrahim, dan Teuku Bit yang dikenal sebagai tokoh yang membunuh kontrolir Belanda di Seulimeum, hingga Teungku Hasan Muhammad di Tiro atau Wali Hasan Tiro,” jelas Abulis.

Tokoh muda Seulimeum tersebut juga menyoroti ketokohan Mukim Akob di tengah masyarakat Seulimeum hingga saat ini. Menurutnya, Tgk. Yakob Usman atau Mukim Akob merupakan salah satu tokoh penting bagi masyarakat Aceh Besar khususnya warga Seulimeum.

“Sosok seperti Mukim Akob tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga pelaku langsung dalam berbagai fase perjuangan bangsa. Beliau merupakan pelaku sekaligus saksi sejarah perjuangan rakyat Aceh dalam mempertahankan kedaulatan bangsa. Dari kisah beliau, kita dapat memahami betapa besarnya jasa rakyat Aceh terhadap kemerdekaan dan kehadiran negara NKRI,” tegasnya.

Menurut Cutbang Abulis, sudah sepatutnya masyarakat menghargai perjuangan beliau serta jasa para pendahulu yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, dan hidupnya demi bangsa dan daerah ini.

Sementara itu, Muhajir Al Fairusy mengatakan bahwa kunjungan tersebut tidak hanya bertujuan untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk mendokumentasikan berbagai kisah dan pengalaman sejarah yang masih tersimpan dalam ingatan Mukim Akob.

“Selain mendengar langsung sejarah hidup beliau, kami juga berupaya mengabadikan dan mendokumentasikan setiap cerita yang beliau sampaikan. Ini sangat penting untuk disimpan dan dipublikasikan kepada generasi Aceh di masa depan agar mereka memahami perjalanan panjang dan pengorbanan para pendahulu,” kata Muhajir.

Silaturahmi tersebut menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian sejarah lisan Aceh. Di tengah semakin berkurangnya saksi-saksi hidup perjuangan masa lalu, dokumentasi terhadap pengalaman para tokoh senior seperti Mukim Akob menjadi warisan berharga yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Editor: Redaksi

Media Online