Penulis: Najla Alifa Raseuki (Mahasiswa Prodi Psikologi USK)
DI era perkembangan media sosial ketika layar ponsel menjadi “cermin kedua”, banyak remaja perempuan diam-diam sedang berperang dengan dirinya sendiri. Setiap hari, mereka disuguhi potret tubuh “ideal” –langsing, tinggi, tanpa cela– yang berulang kali tampil di media sosial.
Tanpa disadari, perbandingan pun dimulai. Dari sekadar “ingin seperti itu”, perlahan berubah menjadi “aku tidak cukup baik”. Di titik inilah persoalan menjadi serius. Rasa tidak percaya diri yang tampak sepele dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya: gangguan makan seperti Anoreksia Nervosa.
Anoreksia Nervosa adalah gangguan makan serius di mana seseorang sangat membatasi makan karena takut berat badannya naik, bahkan ketika tubuhnya sudah sangat kurus. Ini bukan sekadar ingin diet atau menjaga bentuk tubuh. Pada anoreksia, ada gangguan cara berpikir dan persepsi tubuh, penderita sering merasa dirinya gemuk, padahal secara medis sudah kekurangan berat badan.
Dalam dunia psikologi, kita mengenal istilah Self-esteem, yaitu cara seseorang menilai dirinya sendiri. Ini bukan sekadar tentang rasa percaya diri, tetapi tentang seberapa jauh seseorang merasa dirinya berharga.
Remaja dengan self-esteem yang sehat mampu menerima kekurangan tanpa membenci diri sendiri. Sebaliknya, mereka yang memiliki self-esteem rendah cenderung terjebak dalam lingkaran perbandingan sosial. Mereka melihat orang lain sebagai standar, dan dirinya sebagai kegagalan. Masalahnya, standar itu sering kali tidak realistis.
Media sosial tidak menampilkan kenyataan, melainkan versi terbaik –bahkan terkadang manipulatif– dari kehidupan seseorang. Namun bagi remaja yang sedang mencari jati diri, batas antara realita dan ilusi menjadi kabur.
Banyak orang keliru menganggap anoreksia sebagai “diet ekstrem”. Padahal, gangguan ini jauh lebih kompleks. Penderita anoreksia secara sadar membatasi makan karena ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan, bahkan ketika tubuhnya sudah berada di bawah batas sehat.
Lebih mengkhawatirkan lagi, mereka tidak melihat tubuhnya sebagaimana adanya. Di cermin, yang terlihat bukan tubuh kurus, melainkan bayangan “tidak cukup ideal”. Di sinilah tragedi psikologis itu terjadi: tubuh menjadi musuh, bukan rumah.
Gejalanya pun tidak hanya fisik, seperti penurunan berat badan drastis, kelelahan, atau gangguan hormon, tetapi juga mental: kecemasan, obsesi terhadap makanan, dan ketidakpuasan diri yang terus-menerus. Dalam banyak kasus, anoreksia bahkan bisa berujung pada kematian.
Tekanan Sosial yang Tak Terlihat
Masa remaja adalah fase paling rentan dalam kehidupan seseorang. Tubuh berubah, emosi tidak stabil, dan kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan menjadi sangat kuat.
Di tengah kondisi ini, media sosial hadir dengan standar kecantikan yang sempit: kurus, putih, tinggi, sempurna. Tanpa sadar, standar ini menjadi “patokan diam-diam” bagi banyak remaja perempuan.
Lebih parah lagi, industri kecantikan dan produk pelangsing turut memperkuat ilusi tersebut. Janji-janji instan tentang tubuh ideal menjadi jebakan yang sulit dihindari. Padahal, tubuh manusia tidak pernah diciptakan untuk seragam.
Remaja dengan self-esteem rendah sering merasa kehilangan kendali atas hidupnya. Dalam kondisi ini, tubuh menjadi satu-satunya hal yang bisa mereka “atur”.
Mengurangi makan, menghitung kalori secara obsesif, hingga olahraga berlebihan bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi cara untuk merasa berharga. Ada keyakinan yang diam-diam tumbuh: “Kalau aku lebih kurus, aku akan lebih dicintai.” Padahal, penerimaan diri tidak pernah datang dari angka di timbangan.
Penelitian dalam bidang Psikologi menunjukkan bahwa individu dengan anoreksia umumnya memiliki self-esteem yang rendah. Mereka terus mengejar kesempurnaan fisik sebagai bentuk validasi diri, sesuatu yang tidak pernah benar-benar tercapai.
Perbedaan antara remaja dengan self-esteem tinggi dan rendah sebenarnya sederhana, tetapi berdampak besar. Mereka yang memiliki self-esteem tinggi melihat tubuh sebagai bagian dari dirinya yang layak dihargai. Sementara mereka yang memiliki self-esteem rendah melihat tubuh sebagai masalah yang harus diperbaiki. Perbedaan cara pandang ini menentukan pilihan hidup, termasuk bagaimana seseorang memperlakukan tubuhnya.
Mengubah Cara Pandang, Menyelamatkan Generasi
Menghadapi persoalan ini, solusi tidak cukup hanya dengan kampanye kesehatan. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh penampilan.
Beberapa langkah sederhana bisa menjadi awal, di antaranya; mengurangi paparan konten yang memicu perbandingan tidak sehat, menggeser fokus dari “kurus” menjadi “sehat”, membangun lingkungan yang suportif, baik di keluarga maupun pertemanan, dan membuka ruang diskusi tentang kesehatan mental tanpa stigma. Dan yang paling penting, berani meminta bantuan ketika dibutuhkan.
Pada akhirnya, kita perlu mengakui satu hal: media sosial telah mempersempit definisi kecantikan. Ia membentuk standar yang tidak hanya sulit dicapai, tetapi juga tidak manusiawi.
Remaja perempuan hari ini tidak kekurangan potensi, mereka hanya terlalu sering diyakinkan bahwa dirinya tidak cukup. Tubuh bukan proyek yang harus disempurnakan. Ia adalah tempat kita hidup, tumbuh, dan bertahan.
Membangun self-esteem bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang menerima bahwa menjadi diri sendiri sudah cukup. Dan mungkin, dari situlah kita bisa menyelamatkan lebih banyak remaja dari jalan sunyi menuju anoreksia. (*)











