KECAMATAN Lhoong di Kabupaten Aceh Besar menyimpan kekayaan alam yang melimpah, dari durian bercita rasa khas, hamparan laut dan pegunungan nan elok, hingga potensi tambang, pertanian, dan perikanan yang belum tergarap maksimal.
Meski dianugerahi sumber daya yang menjanjikan, tetapi wilayah pesisir Aceh Besar ini masih masuk dalam kategori daerah 3T (Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Minimnya infrastruktur dan terbatasnya dukungan pembangunan membuat Lhoong bak permata yang menantikan sentuhan serius dari pemerintah.
“Lhoong bagaikan seorang putri yang menunggu lamaran,” kata Irda Junaidi, Camat Lhoong yang menggambarkan harapan warganya terhadap perubahan dan perhatian yang nyata.
Lhoong berada di jalur lintas barat selatan Aceh, sekitar 50 kilometer dari Kota Banda Aceh dan 100 kilometer dari Kota Jantho, Aceh Besar. Kawasan ini seolah tersembunyi di balik perbukitan dan gemuruh ombak Samudra Hindia. Namun di balik itu, tersimpan sejuta pesona yang belum sepenuhnya dipoles.
Lhoong bukan hanya dikenal sebagai sentra durian dengan cita rasa khas yang melegenda saat musim tiba, tetapi juga menyimpan kekayaan alam yang luar biasa.
Dengan luas wilayah mencapai 149,03 km² dan jumlah penduduk 5.632 jiwa (data BPS 2024), bagi masyarakat setempat, daerah ini bagaikan zamrud yang belum diasah.
Jika Anda pernah melintasi jalan pegunungan menuju Lhoong, menyusuri lereng Gunung Kulu dan Gunung Paro, Anda pasti paham kenapa kawasan ini layak disebut permata tersembunyi.
Jika melintas dari arah Banda Aceh ke barat selatan, di kiri jalan akan terlihat perbukitan hijau membentang. Di kanan jalan ada laut biru bergelombang memecah sunyi.
Namun di balik keelokan itu, Lhoong juga menyimpan cerita panjang tentang harapan dan keterbatasan. Irda Junaidi yang ditemui pada Jumat 25 Juli 2025, di Lhoong, mengungkapkan harapannya mewakili warga setempat.
Ia pun memaparkan kekayaan Lhoong, yang layak mendapatkan perhatian lebih. Daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Jaya tersebut memiliki potensi pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan, hingga pertambangan.
Namun, sayangnya, belum tergarap dengan optimal. Terbatasnya modal, infrastruktur, dan akses membuat potensi tersebut belum memberi dampak besar bagi kesejahteraan warga.
“Potensi kami luar biasa besar, tapi masyarakat masih kesulitan untuk menggarapnya dengan maksimal,” kata Irda serius.
Ia menambahkan, keberadaannya yang jauh dari kota dan pusat pemerintahan membuat Lhoong masih berada dalam kategori wilayah 3T. Ironisnya lagi, daerah ini kerap kali luput dari prioritas pembangunan.
Irda berharap pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat bisa membuka mata dan lebih memperhatikan Lhoong. Ia ingin ada intervensi serius, program pembangunan yang menyentuh langsung masyarakat, serta dukungan nyata bagi pengembangan ekonomi lokal.
“Selaku pimpinan kecamatan, saya terus memperjuangkan agar lebih banyak program pembangunan direalisasikan di Lhoong. Kalau digarap serius, Lhoong bisa menjadi salah satu penyumbang PAD terbesar bagi Aceh Besar,” tegasnya.
Ia juga mengajak semua pihak memberikan perhatian lebih untuk Lhoong, tidak hanya sebagai titik di peta melainkan sebagai peluang besar yang sedang menunggu untuk dipoles menjadi permata yang berharga.
Lhoong hari ini memang masih menunggu. Tapi siapa pun yang datang dan berinvestasi, akan menemukan sebuah “putri” dengan pesona yang tak tertandingi. Mulai dari duriannya yang melegenda, pesona laut dan gunungnya, hingga masyarakatnya yang ramah dan penuh semangat.
Kini, Lhoong menunggu “lamaran” dari mereka yang berani mencintai dengan tulus, membangun dengan hati, dan memimpikan masa depan Aceh Besar yang lebih inklusif dan merata.







