MITRABERITA.NET | Kenaikan harga emas global yang terus menunjukkan tren positif dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak terlepas dari menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap mata uang kertas.
Pakar ekonomi dan bisnis mengatakan bahwa fenomena ini dipicu oleh berbagai ketidakpastian ekonomi global, mulai dari inflasi, konflik geopolitik, hingga fluktuasi nilai tukar mata uang.
Data pergerakan harga menunjukkan lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari 2020, harga emas Antam masih berada pada kisaran Rp704.000 hingga Rp780.000 per gram atau Rp2.800.000 per mayam.
Sementara itu, pada 8 Februari 2026, harga emas Antam ukuran 1 gram tercatat mencapai sekitar Rp3.200.000 per gram atau Rp9.000.000. Kenaikan tajam tersebut mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.
Pakar ekonomi dan bisnis dari Aceh, Dr. Amri, SE., M.Si., menilai emas masih menjadi instrumen investasi yang paling aman atau safe haven di tengah gejolak ekonomi dunia. Menurutnya, masyarakat dan pelaku pasar cenderung beralih ke emas ketika stabilitas mata uang kertas dianggap rentan.
“Emas memiliki nilai intrinsik yang relatif stabil dan tidak terpengaruh langsung oleh kebijakan moneter suatu negara. Ketika kepercayaan terhadap mata uang kertas menurun akibat inflasi atau ketidakpastian ekonomi, masyarakat biasanya akan mengalihkan asetnya ke emas,” ujar Dr. Amri, Ahad (8/2/2026).
Ia menjelaskan, tingginya inflasi global dalam beberapa tahun terakhir telah menggerus daya beli mata uang kertas di berbagai negara. Kondisi tersebut mendorong investor mencari instrumen yang mampu mempertahankan nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Selain faktor inflasi, meningkatnya tensi geopolitik dan ketidakstabilan ekonomi global juga memperkuat permintaan terhadap emas. Dalam situasi krisis, emas dinilai sebagai aset yang lebih tahan terhadap tekanan ekonomi dibandingkan instrumen investasi lain seperti saham maupun obligasi.
Dr. Amri menyebut, tren peningkatan harga emas juga dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral di berbagai negara yang meningkatkan cadangan emas sebagai langkah diversifikasi aset dan perlindungan nilai.
“Ketika bank sentral menambah cadangan emas, itu memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa emas masih dianggap sebagai aset strategis. Hal ini tentu ikut mendorong permintaan dan berdampak pada kenaikan harga,” jelasnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan masyarakat agar tetap bijak dalam berinvestasi. Meskipun emas dikenal sebagai instrumen yang relatif stabil, fluktuasi harga tetap bisa terjadi, terutama dalam jangka pendek.
“Investasi emas sebaiknya dipandang sebagai investasi jangka menengah hingga panjang. Masyarakat juga perlu menyesuaikan pilihan investasi dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing,” kata Dr. Amri.
Mantan Sekretaris Program Magister Manajemen USK itu menambahkan, pemerintah dan otoritas keuangan perlu menjaga stabilitas ekonomi untuk mempertahankan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional.
Stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, serta kebijakan fiskal dan moneter yang tepat dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan terhadap mata uang.
Dengan berbagai dinamika ekonomi global saat ini, Dr. Amri memprediksi permintaan terhadap emas masih berpotensi meningkat apabila ketidakpastian ekonomi dunia terus berlanjut.
Namun, Dr Amri menilai stabilitas ekonomi yang kuat dapat menjadi kunci untuk menyeimbangkan pergerakan investasi masyarakat antara emas dan instrumen keuangan lainnya.
Dr. Amri mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan rasional dalam menyikapi kondisi ekonomi dan geopolitik global yang penuh ketidakpastian.
Ia menekankan pentingnya meningkatkan literasi keuangan, mengelola pengeluaran secara bijak, serta memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Menurutnya, situasi global yang berfluktuasi tidak seharusnya menimbulkan kepanikan, melainkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, memperbanyak tabungan, dan mendiversifikasi aset secara sehat.
“Kunci menghadapi ketidakpastian ekonomi adalah perencanaan keuangan yang matang, sikap bijak dalam berinvestasi, serta menjaga optimisme dan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi nasional,” pungkasnya.














