EKONOMI & BISNISUTAMA

Kemarau Terparah, Petani Pulo Aceh Menjerit Menanti Irigasi

×

Kemarau Terparah, Petani Pulo Aceh Menjerit Menanti Irigasi

Sebarkan artikel ini
Area persawahan di Gampong Blang Situngkoh Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar yang gagal panen akibat kemarau panjang. Foto: Mitraberita

MITRABERITA.NET | Hamparan sawah yang biasanya hijau kini berubah menjadi lahan kering kecokelatan di Gampong Ulee Paya dan Blang Situngkoh, Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar. Kemarau panjang yang melanda wilayah Kepulauan terluar bagian paling barat Indonesia itu membuat para petani terpaksa pasrah menghadapi gagal panen.

Pantauan di lapangan, pada Ahad 22 Maret 2026, tanaman padi tampak menguning sebelum waktunya, sebagian bahkan mati karena kekurangan air. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya sistem irigasi maupun penampungan air yang dapat menopang kebutuhan pertanian saat musim kemarau tiba.

Sejumlah petani memilih membiarkan sawah mereka terbengkalai karena tidak ada lagi sumber air yang bisa dimanfaatkan. Situasi ini disebut-sebut sebagai kemarau terparah yang pernah dirasakan warga dalam beberapa tahun terakhir di wilayah Aceh Besar.

Samsul, salah seorang warga yang prihatin dengan kondisi petani setempat, mengakui kondisi ini sangat memukul ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.

“Tidak ada air sama sekali. Petani terpaksa membiarkan sawah begitu saja karena tidak mungkin lagi dirawat dan dipastikan gagal panen. Tahun ini paling parah dirasakan petani Pulo Aceh khususnya di Pulo Breuh,” ujarnya.

Kondisi padi yang menguning sebelum waktunya akibat kekurangan air selama kemarau, yang membuat petani harus menghadapi gagal panen. Foto: Dok. Mitraberita

Menurutnya, ketiadaan irigasi menjadi persoalan utama yang selama ini belum teratasi di kawasan kepulauan tersebut. Padahal, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari hasil pertanian.

“Kami berharap ke depan ada perhatian serius dari pemerintah daerah, terutama pembangunan irigasi atau penampungan air agar petani Pulo Aceh tidak terus mengalami gagal panen setiap kemarau,” tambahnya.

Samsul juga menyampaikan harapan besar kepada kepemimpinan Bupati Aceh Besar, Muharram Idris bersama Wakil Bupati Syukri A Jalil, untuk menghadirkan solusi nyata bagi petani di Pulo Aceh.

“Masyarakat menaruh harapan besar pada masa kepemimpinan Bapak Muharram Idris dan Wakil Bupati Syukri A Jalil, agar ada pembangunan irigasi untuk membantu petani di Pulo Aceh,” katanya.

Samsul optimis bahwa kepemimpinan Syech Muharram dan Syukri A Jalil akan membawa perubahan bagi masyarakat khususnya para petani dan nelayan.

“Karena menurut kami dengar, Syech Muharram sangat fokus pada pertanian, mudah-mudahan nanti beliau berkunjung ke Pulo Aceh bisa melihat dan merencanakan pembangunan irigasi untuk petani Pulo Aceh,” harapnya.

Kondisi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah strategis dalam mengatasi krisis air di wilayah pesisir dan kepulauan. Tanpa solusi konkret, ancaman gagal panen dipastikan akan terus berulang, bahkan berpotensi memperparah kondisi ekonomi masyarakat setempat. []

Media Online