PERISTIWAUTAMA

Dugaan Malpraktik di RSUDZA, Gadis 12 Tahun Asal Aceh Besar Lumpuh dan Terpaksa Dibawa ke Malaysia

×

Dugaan Malpraktik di RSUDZA, Gadis 12 Tahun Asal Aceh Besar Lumpuh dan Terpaksa Dibawa ke Malaysia

Sebarkan artikel ini
Dugaan Malpraktik di RSUDZA, Gadis 12 Tahun Asal Aceh Besar Lumpuh dan Terpaksa Dibawa ke Malaysia. Foto: MITRABERITA.NET

MITRABERITA.NET | Sebuah kasus dugaan malpraktik medis kembali mencuat di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.

Dugaan malpraktik itu mencuat setelah adanya protes dari keluarga pasien yang tidak terima karena anaknya mengalami lumpuh setelah berobat di rumah sakit pelat merah tersebut.

Kasusnya, seorang pasien anak bernama Aliyatur Rahmah (12 tahun), siswi kelas I SMP yang merupakan santri dari Dayah Mudi Mesra Samalanga, Kabupaten Bireuen, diduga mengalami salah penanganan medis hingga akhirnya harus mengalami kelumpuhan.

Kasus ini bermula ketika Aliyatur, putri dari pasangan M. Ilyas dan Lili Suryani asal Gampong Lam Asan, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, mengalami sakit lambung pada awal Juli 2025.

Awalnya santriwati tersebut sempat dirawat di RS Pertamedika, sebelum kemudian dirujuk ke RSUDZA, karena dianggap fasilitas dan peralatan di RSUDZA lebih lengkap daripada seluruh rumah sakit lainnya di Aceh.

Namun, menurut keluarga, kondisi Aliyatur yang sebelumnya hanya mengalami sakit lambung justru memburuk dengan berbagai diagnosa yang berubah-ubah, dan terakhir membuat gadis itu harus mengalami kelumpuhan.

Keluarga Diminta Tandatangani Surat “Tidak Menuntut”

Ayah pasien, M. Ilyas, mengaku sangat kecewa dengan pelayanan rumah sakit yang disebut-sebut sebagai rumah sakit dengan fasilitas terbaik dan peralatan medis terlengkap itu.

Kepada wartawan, Kamis 28 Agustus 2025, M Ilyas menuturkan bahwa pihak keluarga sempat diminta menandatangani surat berisi pernyataan tidak akan menuntut pihak rumah sakit.

“Saya tidak percaya lagi rumah sakit ini. Kami bahkan diminta tanda tangan surat agar tidak menuntut rumah sakit,” ungkapnya dengan perasaan penuh kecewa.

Ilyas mengungkap, kondisi Aliyatur sempat membingungkan. Ia juga sempat divonis mengalami sakit kista, radang tenggorokan, bahkan disebutnya pernah diperiksa kejiwaan karena dianggap terlalu sering menangis saat di rumah sakit.

“Bagaimana tidak menangis, anaknya tubuhnya sakit karena salah penanganan. Sebelumnya baik-baik saja, hanya sakit lambung, bisa jalan. Tapi setelah ditangani oleh rumah sakit itu malah jadi seperti ini,saya tidak terima ini,” ungkapnya.

Dibawa ke Malaysia, Obat dari RSUDZA Diminta Dihentikan

Pada awal Agustus 2025, keluarga akhirnya memutuskan membawa Aliyatur ke rumah sakit di Penang, Malaysia, karena keluarga sudah tidak percaya lagi dengan penanganan rumah sakit milik pemerintah Aceh itu.

Namun, Ilyas mengaku sangat terkejut ketika dimintai oleh pihak dokter dan rumah sakit di sana agar obat yang diberikan oleh rumah sakit terbaik di Aceh itu jangan dikonsumsi lagi oleh pasien.

“Kami sangat terkejut, ternyata obat-obatan itu diminta jangan kasih minum lagi ke anak saya, padahal obatnya banyak berbagai macam. Tapi pihak dokter dan rumah sakit di sana tidak menjelaskan kenapa jangan dikasih lagi,” tuturnya.

Ilyas pun menganggap bahwa obat-obatan tersebut hanya untuk amprahan semata agar bisa mendulang banyak keuntungan dari BPJS. Padahal, kata dia, sebenarnya tidak dibutuhkan oleh pasien.

Kini, pasien hanya disarankan untuk melakukan terapi sepulang dari Malaysia, walaupun penyembuhannya membutuhkan waktu yang lama karena sarafnya telah rusak diduga salah penanganan pada saat di rumah sakit RSUDZA.

Saat ini, Aliyatur berada di Gampong Deyah, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, untuk menjalani pemulihan tanpa minum obat-obatan itu lagi.

Keluarga berharap ada keadilan dan pertanggungjawaban dari pihak rumah sakit maupun dari dokter yang menangani pasien, serta penanganan medis yang lebih baik bagi pasien di Aceh, sehingga hal serupa tidak terjadi lagi terhadap pasien yang lain.

“Saya menduga anak saya ini ada malpraktik ini, saya sudah tidak tahu mau bilang apa lagi, sekarang ini anaknya sudah tidak bisa jalan lagi, sedangkan atensi dari rumah sakit tidak ada sama sekali,” tegasnya.

Belum ada keterangan resmi dari pihak rumah sakit terhadap persoalan tersebut. Namun, keluarga berharap adanya tanggung jawab dan perhatian dari pemerintah.

Penulis: Hidayat | Editor: Redaksi

Media Online