MITRABERITA.NET | Dunia internasional dihebohkan dengan klaim mengejutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa militer AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah operasi militer berskala besar yang dibarengi serangan langsung ke wilayah Venezuela, Sabtu 3 Januari 2026.
Klaim sensasional itu disampaikan Trump melalui akun media sosial Truth Social miliknya. Dalam unggahan tersebut, Trump menyebut penangkapan dilakukan melalui operasi gabungan militer dan penegak hukum Amerika Serikat.
“Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS,” tulis Trump, seperti dikutip BBC.
Ia juga menyatakan bahwa rincian lebih lanjut akan segera disampaikan dalam konferensi pers yang dijadwalkan berlangsung pukul 11.00 waktu setempat di Mar-a-Lago, resor miliknya di Florida.
Namun hingga kini, Trump tidak mengungkapkan secara rinci bagaimana operasi penangkapan itu dilakukan, lokasi penahanan Maduro, maupun kondisi Presiden Venezuela tersebut. Pemerintah Venezuela pun belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim penangkapan itu.
Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, justru menyatakan bahwa pemerintahannya tidak mengetahui keberadaan Presiden Nicolás Maduro maupun Ibu Negara Cilia Flores.
Rodríguez menegaskan pihaknya menuntut bukti konkret dari Pemerintah Amerika Serikat terkait klaim tersebut.
“Kami menuntut bukti keberadaan Presiden Maduro dan Ibu Negara sesegera mungkin,” tegas Rodríguez dalam pernyataan resminya.
Media Amerika Serikat, CBS News, mengutip seorang pejabat AS yang menyebut Maduro ditangkap oleh Delta Force, unit kontraterorisme elite Angkatan Darat Amerika Serikat. Informasi itu hingga kini belum dikonfirmasi secara independen.
Sejak lama, Pemerintah AS menuduh Nicolás Maduro sebagai pimpinan jaringan perdagangan narkotik internasional. Tuduhan tersebut selalu dibantah Maduro dan dinilai tidak memiliki kekuatan hukum yang sah.
Bahkan, Trump sebelumnya sempat menjanjikan hadiah sebesar 50 juta dolar AS atau setara Rp649 miliar bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro.
Klaim penangkapan ini muncul di tengah eskalasi militer besar-besaran Amerika Serikat di kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa jam sebelum klaim penangkapan disampaikan, Trump dilaporkan memerintahkan militer AS melancarkan serangan ke Venezuela, dengan sasaran utama fasilitas-fasilitas militer strategis.
Di ibu kota Venezuela, Caracas, sejumlah ledakan keras terdengar hampir bersamaan di berbagai titik. Asap tebal terlihat membumbung di langit kota, memicu kepanikan warga. Sejumlah saksi mata melaporkan ledakan terjadi di instalasi militer, termasuk Pangkalan Udara Militer La Carlota di pusat kota dan kompleks militer utama Fuerte Tiuna.
Video-video yang beredar di media sosial memperlihatkan dentuman ledakan dan kilatan cahaya di kawasan tersebut. Beberapa permukiman di sekitar pusat militer dilaporkan mengalami pemadaman listrik, sementara ada pula laporan yang belum terkonfirmasi mengenai aktivitas pesawat tempur yang terbang rendah di atas Caracas.
Menanggapi serangan tersebut, Pemerintah Venezuela mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras tindakan Amerika Serikat.
“Venezuela menolak, menyangkal, dan mengecam di hadapan komunitas internasional agresi militer yang sangat serius yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat saat ini terhadap wilayah Venezuela,” bunyi pernyataan tersebut.
Dalam perkembangan selanjutnya, Nicolás Maduro dilaporkan telah mendeklarasikan keadaan darurat nasional. Ia menyebut serangan militer AS sebagai upaya imperialis untuk merebut sumber daya strategis Venezuela, termasuk minyak dan mineral.
Maduro dikabarkan telah “menandatangani dan memerintahkan pelaksanaan dekrit yang menyatakan keadaan kekacauan eksternal di seluruh wilayah nasional” serta menginstruksikan seluruh rencana pertahanan nasional untuk segera diaktifkan sesuai kondisi.
Presiden Venezuela itu juga menyerukan kepada seluruh kekuatan sosial dan politik di negaranya untuk melakukan mobilisasi nasional dan bersatu mengutuk apa yang ia sebut sebagai “serangan imperialis” Amerika Serikat.
Hingga kini, situasi di Venezuela masih sangat dinamis. Komunitas internasional menunggu klarifikasi resmi dan bukti konkret atas klaim penangkapan Presiden Nicolás Maduro yang berpotensi memicu krisis geopolitik global.
Editor: Redaksi






















