MITRABERITA.NET | Pemerintah Kabupaten Aceh Besar melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus memperkuat peran puskesmas dan posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya percepatan penurunan angka stunting dan peningkatan kualitas generasi masa depan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, Agus Husni, SP, menyampaikan bahwa penguatan puskesmas dan posyandu menjadi strategi utama dalam mewujudkan Generasi Emas Aceh Besar yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
“Puskesmas dan posyandu adalah garda terdepan pelayanan kesehatan. Dari sanalah deteksi dini, pendampingan, dan intervensi stunting dapat dilakukan secara cepat dan tepat,” ujar Agus Husni saat ditemui di Kota Jantho, Kamis (22/1/2026).
Ia menegaskan, stunting masih menjadi tantangan serius di Aceh Besar karena tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berpengaruh terhadap kecerdasan dan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, penanganannya harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Dinkes Aceh Besar memfokuskan intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak balita. Program yang dijalankan meliputi pemantauan status gizi, pemberian makanan tambahan, suplementasi tablet tambah darah bagi ibu hamil, serta edukasi pola asuh dan gizi seimbang kepada keluarga.
Dalam rangka meningkatkan efektivitas layanan, Dinkes juga secara rutin memberikan pelatihan kepada kader posyandu agar mampu melakukan pemantauan tumbuh kembang anak dan mendeteksi lebih awal risiko stunting di wilayah masing-masing.
“Dengan kader yang terlatih, kita bisa mengetahui lebih cepat anak-anak yang berisiko stunting dan segera melakukan pendampingan sebelum kondisinya semakin berat,” jelas Agus.
Selain penguatan layanan kesehatan, Dinkes Aceh Besar juga mengedepankan kolaborasi lintas sektor. Kerja sama dilakukan dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong, Dinas Pendidikan, serta instansi terkait lainnya, termasuk dalam penyediaan sanitasi layak dan akses air bersih sebagai bagian dari intervensi sensitif.
Agus Husni menambahkan, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan ibu dan anak terus meningkat. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu serta kepatuhan ibu hamil dan balita dalam mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
“Sekarang ibu-ibu lebih rutin datang ke posyandu dan mau mengikuti arahan petugas. Ini menjadi modal penting dalam menekan angka stunting,” ujarnya.
Dalam upaya percepatan penurunan stunting, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar juga memperkuat peran camat dan keuchik. Camat berfungsi sebagai koordinator lintas sektor di tingkat kecamatan, sementara keuchik berperan langsung dalam menggerakkan masyarakat dan mengintegrasikan program pencegahan stunting ke dalam perencanaan dan anggaran gampong.
“Sinergi puskesmas, posyandu, camat, dan keuchik menjadi kunci keberhasilan. Dengan koordinasi yang kuat, intervensi stunting dapat dilakukan secara tepat sasaran dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Editor: Redaksi










