DAERAH

Badai Debu Ancam Kesehatan Penyintas Banjir di Aceh Timur

3
×

Badai Debu Ancam Kesehatan Penyintas Banjir di Aceh Timur

Sebarkan artikel ini
Debu pekat sisa lumpur banjir menyelimuti permukiman warga di Pante Bidari, Aceh Timur, mengancam kesehatan penyintas bencana, pada Rabu 11 Februari 2026. Foto: Mitraberita

MITRABERITA.NET | Dampak bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Timur masih menyisakan persoalan serius bagi masyarakat. Selain kerusakan infrastruktur dan permukiman, penyintas kini menghadapi ancaman baru berupa badai debu yang muncul akibat endapan lumpur sisa banjir yang mengering.

Fenomena tersebut terjadi di sejumlah desa, seperti Blang Seunong, Pante Labu, Sah Raja, serta Pante Rambong di Kecamatan Pante Bidari. Lumpur tebal yang tertinggal di jalan, rumah warga, dan lingkungan permukiman kini berubah menjadi debu halus setelah mengering selama tiga pekan terakhir akibat cuaca panas dan aktivitas kendaraan.

Seorang relawan kemanusiaan, Nuraki, mengatakan kondisi tersebut sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Saat cuaca panas, lumpur yang mengering berubah menjadi debu pekat yang mudah beterbangan, terutama ketika dilalui kendaraan.

“Ketika panas terik, lumpur kering berubah menjadi debu halus yang beterbangan. Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas warga,” ujar Nuraki, pada Rabu (11/2/2026).

Badai debu tersebut berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat, khususnya penyintas yang masih tinggal di tenda darurat milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Debu pekat berpotensi memicu gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, perempuan, dan anak-anak. Selain itu, paparan debu dan material sisa banjir juga meningkatkan risiko gangguan kulit.

Kondisi tersebut juga mengganggu aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat, termasuk pelaksanaan ibadah di masjid yang berada di pinggir jalan berdebu.

Nuraki menuturkan, hasil pelayanan kesehatan yang dilakukan tim medis menunjukkan mayoritas warga mengalami gangguan pernapasan. Dari 55 warga yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Dusun Peulalu, sebagian besar mengeluhkan batuk akibat paparan debu.

Selain menyalurkan obat-obatan, tim relawan juga telah membagikan masker kepada warga. Namun, bantuan tersebut dinilai belum mencukupi mengingat tingginya intensitas debu, terutama bagi anak-anak yang setiap hari harus melintasi jalan berdebu menuju sekolah darurat.

Upaya penanganan dengan penyiraman jalan secara rutin juga mengalami kendala karena warga kesulitan mendapatkan sumber air bersih. Banyak sumur warga masih tertutup material lumpur pascabanjir.

Penyintas bencana berharap pemerintah daerah melalui BPBD Aceh Timur segera melakukan pembersihan total material lumpur di kawasan permukiman. Selain itu, masyarakat juga meminta agar persoalan lingkungan dimasukkan dalam dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).

Masyarakat menilai penanganan lingkungan secara menyeluruh menjadi langkah penting agar proses pemulihan pascabencana tidak hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi juga memastikan kesehatan dan keselamatan warga yang terdampak dapat terjaga secara berkelanjutan.

Penulis: Samsu Bahri | Editor: Redaksi

Media Online