GLOBALUTAMA

Amerika Serang Iran Demi Kepentingan Israel, Kongres AS Semprot Donald Trump

×

Amerika Serang Iran Demi Kepentingan Israel, Kongres AS Semprot Donald Trump

Sebarkan artikel ini
Donald Trump dan Netanyahu. Foto: Anadolu

MITRABERITA.NET | Donald Trump mengklaim serangan udara Amerika Serikat terhadap Iran sebagai langkah antisipatif untuk mencegah serangan balasan yang diyakini akan menargetkan pasukan AS. Penjelasan ini disampaikan di tengah perdebatan sengit di Kongres mengenai alasan dan tujuan operasi militer tersebut.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan Washington telah memperkirakan sejak awal bahwa konflik akan memicu respons dari Teheran, terutama jika Israel melancarkan serangan secara ilegal.

Rubio menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan di Capitol usai mengikuti pengarahan tertutup bersama Direktur Central Intelligence Agency (CIA) John Ratcliffe dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine.

Pertemuan tersebut menjadi pengarahan pertama pemerintahan Trump kepada anggota parlemen sejak kampanye udara terhadap Iran dimulai akhir pekan lalu. Rubio menegaskan bahwa risiko serangan balasan sudah diperhitungkan sebelumnya.

“Sudah sangat jelas bahwa jika Iran diserang oleh siapapun, Amerika Serikat atau Israel atau siapapun, mereka akan merespons, dan merespons terhadap Amerika Serikat,” ujarnya, dilansir The Guardian, Selasa 3 Maret 2026.

Menurut Rubio, pemerintah AS mengetahui kemungkinan Israel akan melakukan aksi militer yang dapat memicu serangan terhadap pasukan Amerika. Karena itu, Washington memilih untuk bertindak lebih dahulu guna menghindari korban yang lebih besar.

Wakil Presiden JD Vance menegaskan bahwa tujuan utama operasi militer tersebut adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Ia menyatakan presiden ingin menegaskan kepada dunia bahwa AS tidak akan berhenti sebelum memastikan Iran tidak mampu mengembangkan senjata nuklir.

Sejak konflik dimulai, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangkaian serangan udara di berbagai wilayah Iran. Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menyasar negara-negara sekutu AS di Timur Tengah.

Kampanye udara tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat militer dan politik penting Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ali Khamenei.

Militer AS mengakui enam personelnya tewas, sementara Bulan Sabit Merah Iran menyebut lebih dari 500 orang meninggal di dalam negeri akibat serangan. Namun Iran tetap membantah tuduhan bahwa negara itu tengah mengembangkan senjata nuklir.

Penjelasan pemerintahan Trump memicu perbedaan tajam di Kongres Amerika Serikat. Partai Republik cenderung membela langkah presiden, sementara Partai Demokrat menilai konflik tersebut tidak perlu dan tidak memiliki strategi yang jelas.

Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, bahkan menyebut konflik itu sebagai “perang pilihan” yang dilakukan tanpa rencana akhir yang jelas.

Setelah mengikuti pengarahan tertutup, Schumer mengatakan banyak pertanyaan yang diajukan anggota parlemen, namun jawaban yang diberikan pejabat pemerintah dinilai tidak memadai.

Kekhawatiran juga disampaikan Wakil Ketua Komite Intelijen Senat dari Partai Demokrat, Mark Warner, yang menilai AS berpotensi terseret ke konflik baru akibat dinamika hubungan dengan Israel.

Ia menilai belum ada ancaman langsung dari Iran terhadap Amerika Serikat yang dapat membenarkan eskalasi konflik tersebut.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan Iran tengah membangun fasilitas bawah tanah baru yang dalam beberapa bulan dapat membuat program rudal balistik dan bom atom mereka sulit dihentikan.

Menurutnya, jika tindakan tidak dilakukan sekarang, maka peluang untuk menghentikan program tersebut di masa depan akan semakin kecil. Sementara itu, Ketua DPR dari Partai Republik, Mike Johnson, membela langkah presiden dan menyebut operasi militer tersebut sebagai tindakan defensif.

Ia menegaskan Israel bertindak karena menghadapi ancaman eksistensial dan menyatakan optimisme bahwa resolusi pembatasan kewenangan perang terhadap presiden tidak akan lolos di DPR.

Meski demikian, perdebatan mengenai tujuan akhir konflik masih terus berlanjut. Banyak anggota Kongres menilai pemerintahan Trump perlu menjelaskan secara jelas strategi, sasaran utama, serta rencana keluar dari konflik yang kini berpotensi memperluas ketegangan di Timur Tengah.

Editor: Redaksi

Media Online