MITRABERITA.NET | Kementerian Kehutanan bersama Polda Aceh dan Polres Aceh Besar menertibkan aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di kawasan Cagar Alam (CA) dan Taman Wisata Alam (TWA) Jantho, Kabupaten Aceh Besar.
Operasi yang dilakukan pada 28-29 September 2026 tersebut mengamankan 14 orang yang terdiri atas 11 pekerja dan 3 operator alat berat, serta 3 unit ekskavator yang diduga digunakan untuk mendukung aktifitas PETI.
Semua pihak yang diamankan saat ini masih menjalani pemeriksaan dan pendalaman di Polda Aceh. Penanganan perkara juga terus dikembangkan oleh aparat penegak hukum untuk mengungkap keterlibatan pihak lain berdasarkan fakta dan alat bukti yang ditemukan di lapangan.
Menurut informasi yang diperoleh MITRABERITA.NET, Rabu (7/10/2026), operasi gabungan melibatkan Balai KSDA Aceh, Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Sumatera, Polda Aceh, dan Polres Aceh Besar.
Dari tiga alat berat yang diamankan, satu unit telah berhasil dievakuasi dan dibawa ke Polda Aceh, sedangkan dua unit lainnya masih dalam proses pengamanan dan evakuasi secara bertahap karena mengalami kerusakan saat dikeluarkan dari lokasi.
Penertiban tersebut merupakan tindak lanjut Maklumat Bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh yang diterbitkan pada 23 Juli 2026 lalu sebagai respons terhadap maraknya PETI di sejumlah wilayah Aceh.
Maklumat memberikan batas waktu penghentian aktivitas dan pengeluaran peralatan tambang hingga 17 Agustus 2026. Setelah batas waktu tersebut berakhir, penindakan diarahkan kepada pihak-pihak yang masih terlibat dalam kegiatan pertambangan ilegal, termasuk pihak yang mendanai, menguasai, maupun menerima hasil kegiatan tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Para pelaku akan dijerat dengan pasal pengrusakan hutan konservasi dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun maupun denda. Pasalnya, lanskap ekosistem Jantho memiliki posisi penting dalam upaya konservasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii).
Kawasan ini menjadi salah satu lokasi reintroduksi orangutan hasil penyelamatan dan rehabilitasi untuk kembali hidup di alam. Program tersebut telah menghasilkan kelahiran generasi baru dari orangutan yang sebelumnya direhabilitasi dan dilepasliarkan.
Selain itu, lanskap ekosistem Jantho memiliki fungsi yang sangat krusial sebagai bagian wilayah hulu dari DAS Krueng Aceh yang memiliki fungsi ekologis terhadap sistem hidrologis.
Fungsi ini semakin penting karena Krueng Aceh merupakan salah satu sumber air baku bagi masyarakat Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh yang dimanfaatkan oleh penyedia layanan air baku, yaitu PDAM yang melayani sekitar 218.000 jiwa penduduk.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Satyawan Pudyatmoko, mengatakan upaya perlindungan kawasan konservasi membutuhkan perjuangan panjang.
“Lanskap ekosistem Jantho memiliki peran penting dalam upaya konservasi penyelamatan dan rehabilitasi orangutan. Banyak orangutan yang pernah diselamatkan dan direhabilitasi telah kembali ke hutan, bertahan hidup, bahkan melahirkan generasi baru di alam,” ujarnya.
“Semua itu membutuhkan waktu bertahun-tahun. Setiap gangguan terhadap habitat, dapat memengaruhi ruang hidup satwa yang sedang kita pulihkan. Selanjutnya, kami akan meningatkan patroli rutin agar aktivitas ilegal tidak terulang kembali,” sambungnya.
Sementara Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa penegakan hukum yang dilakukan, merupakan keberpihakan atas kelestarian alam dan keelamatan masyarakat.
“Ekskavator yang masuk ke kawasan konservasi menunjukkan persoalan serius. Kami berkomitmen untuk menelusuri siapa yang membiayai kegiatan, siapa yang menguasai alat, siapa yang mengendalikan pekerjaan, ke mana hasil tambang dibawa, dan siapa yang memperoleh keuntungan. Ada kepentingan masyarakat yang juga harus kita jaga,” katanya.
“Praktik pertambangan ilegal memiliki risiko terhadap tanah dan aliran air, terlebih ketika bahan berbahaya seperti merkuri atau sianida digunakan dalam pengolahan. Air yang mengalir melewati batas kawasan, akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat maupun satwa. Karena itu, penegakan hukum yang kami lakukan merupakan bentuk keberpihakan negara atas kelestarian alam dan keselamatan masyarakat,” tegasnya.
Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah, Polri, dan para pihak terkait terus memperkuat perlindungan kawasan konservasi Jantho melalui patroli, pengawasan, penegakan hukum, serta pemulihan kawasan yang terdampak.
Langkah tersebut diarahkan untuk mencegah kembali masuknya aktivitas ilegal, menjaga habitat dan kehidupan liar yang sedang dipulihkan, sekaligus melindungi fungsi ekologis kawasan bagi masyarakat di sekitarnya.
Jantho diharapkan tetap menjadi ruang yang aman bagi satwa liar, sumber kehidupan bagi masyarakat, dan warisan alam yang terjaga bagi generasi mendatang. Bukan terus dirusak oleh oknum rakus yang terus merusak alam dan lingkungan demi kepentingan pribadi.
Editor: Redaksi










