ADA anak-anak yang menghabiskan waktu luangnya dengan bermain. Ada pula yang memilih duduk tenang, mengulang ayat demi ayat yang telah dihafalnya.
Di antara mereka, ada Iffat Assyarif. Selasa, 8 September 2026, menjadi hari yang sulit dilupakan bagi bocah tersebut.
Hari itu, hasil Festival Anak Saleh Indonesia (FASI) Kota Banda Aceh 2026 diumumkan. Pada hari yang sama pula, Iffat tepat memasuki usia ke-11 tahun.
Usia baru itu datang bersama sebuah hadiah istimewa. Bukan mainan, bukan pesta meriah, melainkan sebuah prestasi yang lahir dari perjalanan panjangnya bersama Al-Qur’an.
Putra pertama pasangan Ismail, jurnalis Habanusantara.net, dan Mursyidah itu berhasil meraih juara II cabang Tahfidz Juz 30 tingkat Taman Quran Al-Qur’an (TQA).
Iffat tampil mewakili santri TPA As-Sa’adah Lamgugop dan harus bersaing dengan 60 peserta lainnya.
Ajang FASI tersebut digelar Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Syariat Islam bersama BKPRMI Kota Banda Aceh.
Bagi para peserta, perlombaan bukan hanya menjadi arena untuk meraih juara, tetapi juga kesempatan menguji sejauh mana hafalan yang selama ini dipelajari mampu dipertahankan ketika berhadapan dengan dewan juri.

Di hadapan dewan juri, Iffat menghadapi sejumlah rangkaian soal. Kemampuan peserta tidak hanya diuji melalui hafalan yang panjang, tetapi juga ketelitian, ketepatan, dan kemampuan mengingat ayat dalam berbagai pola pertanyaan.
Ada soal sambung cepat, sambung ayat, sambung surah, membaca ayat sebelumnya hingga menebak surah.
Tidak semuanya berjalan mudah bagi Iffat. Ia mengaku sedikit kesulitan ketika mendapat soal membaca ayat sebelumnya.
Namun, kesulitan itu tidak membuatnya berhenti. Ia tetap berusaha menjawab dan menyelesaikan setiap pertanyaan yang diberikan.
Di situlah perjuangan seorang penghafal Al-Qur’an benar-benar diuji.
Bukan hanya tentang seberapa banyak ayat yang tersimpan dalam ingatan, tetapi juga bagaimana menjaga ketenangan ketika hafalan harus dikeluarkan dalam situasi yang penuh tekanan.
Bagi Iffat, capaian tersebut tentu tidak lahir dalam satu malam.
Ada waktu yang diluangkan untuk mengulang hafalan, ada bimbingan para ustadz dan ustadzah, serta ada doa dan dukungan orang tua yang terus menyertai langkahnya.
Iffat pun menyampaikan terima kasih kepada Abi dan Umi yang selama ini memberikan dukungan.
Ucapan terima kasih juga ditujukannya kepada para ustadz dan ustadzah TPA As-Sa’adah yang telah membimbingnya jauh-jauh hari sebelum FASI dilaksanakan.
Perjalanan yang Belum Usai
Perjalanan Iffat bersama Al-Qur’an sebenarnya sudah memiliki cerita panjang.
Pada 2022, ketika usianya masih belia, ia pernah meraih juara I Lomba FASI tingkat Provinsi Aceh cabang Tartil tingkat TKA.
Setahun kemudian, pada 2023, prestasi kembali menghampirinya. Iffat meraih juara II lomba Tartil FASI tingkat Kota Banda Aceh.
Kini, tiga tahun berselang, namanya kembali tercatat sebagai salah satu juara FASI Kota Banda Aceh 2026. Kali ini melalui cabang Tahfidz Juz 30 TQA.

Namun, bagi seorang anak yang baru memasuki usia 11 tahun, piala bukanlah akhir dari perjalanan. Juara hanyalah tanda bahwa ada usaha yang telah dilalui.
Ada hafalan yang diulang berkali-kali, ada waktu bermain yang mungkin harus disisihkan, ada rasa lelah yang harus dilawan, dan ada keberanian untuk kembali mencoba ketika menemui kesulitan.
Sementara itu, Al-Qur’an tetap menjadi teman yang harus terus dibaca, dihafal dan diamalkan.
Mungkin, kelak Iffat tidak lagi mengingat setiap soal yang diberikan dewan juri pada hari itu.
Ia mungkin juga tidak lagi mengingat bagaimana persisnya setiap detik ketika namanya diumumkan sebagai juara.
Tetapi boleh jadi, ia akan selalu mengingat Selasa, 8 September 2026 sebagai hari ketika usia ke-11 dimulai bersama sebuah prestasi.
Hari ketika sebuah piala menjadi tanda dari perjuangan yang telah ia jalani.
Sebab, hadiah terbaik dari sebuah perjuangan terkadang bukanlah piala yang dibawa pulang, melainkan kenangan bahwa pernah ada masa kecil yang diisi dengan ayat-ayat suci.
Dan bagi Iffat, perjalanan itu baru saja dimulai.*







