NUSANTARATREND

Pameran Tunggal “Jalur Rempah” Resmi Dibuka, Seni Lukis Hidupkan Kembali Jejak Peradaban Aceh dan Nusantara

×

Pameran Tunggal “Jalur Rempah” Resmi Dibuka, Seni Lukis Hidupkan Kembali Jejak Peradaban Aceh dan Nusantara

Sebarkan artikel ini
Pameran Tunggal "Jalur Rempah" karya perupa Aceh, Anni Kholilah, di Aula Museum Aceh, Banda Aceh, Jumat (17/7/2026). Foto: Dok. MB

MITRABERITA.NET | Jejak panjang peradaban Nusantara yang pernah menghubungkan berbagai bangsa melalui perdagangan rempah-rempah dihidupkan kembali lewat goresan kuas dalam Pameran Tunggal “Jalur Rempah” karya perupa Aceh, Anni Kholilah, di Aula Museum Aceh, Banda Aceh, Jumat (17/7/2026).

Pameran itu turut dihadiri oleh para seniman, akademisi, mahasiswa, komunitas seni, kurator, serta pecinta seni rupa dari berbagai daerah.

Pameran yang berlangsung hingga 19 Juli 2026 itu menjadi ruang refleksi tentang perjalanan sejarah Jalur Rempah melalui bahasa visual. Tidak hanya menyajikan karya seni bernilai estetika, pameran ini juga mengajak masyarakat memahami kembali posisi strategis Aceh sebagai salah satu simpul penting perdagangan rempah dunia.

Mengusung tema “Jalur Rempah”, pameran menghadirkan 25 karya seni lukis, terdiri atas 20 karya Anni Kholilah sebagai pengkarya utama dan lima karya dari para seniman undangan yang turut memperkaya perspektif mengenai sejarah, budaya, dan warisan Nusantara.

Dalam sambutannya, Anni Kholilah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya pameran tersebut, mulai dari dosen, mahasiswa, alumni, lembaga, Museum Aceh, hingga Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.

Menurut perempuan yang dikenal dengan julukan “Si Pelukis Beringin” itu, pameran tersebut merupakan sebuah ikhtiar artistik untuk menelusuri kembali jejak sejarah, budaya, dan peradaban yang tumbuh melalui Jalur Rempah di Nusantara.

Ia menjelaskan, Jalur Rempah bukan sekadar lintasan perdagangan yang menghubungkan berbagai wilayah di dunia, melainkan juga ruang pertemuan yang melahirkan pertukaran ilmu pengetahuan, tradisi, bahasa, seni, hingga nilai-nilai kehidupan yang masih terasa pengaruhnya hingga sekarang.

“Aceh memiliki posisi yang sangat strategis dalam sejarah Jalur Rempah dunia. Dari pelabuhan-pelabuhan kuno hingga pusat perdagangan yang ramai, rempah telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh sekaligus menjadi saksi perjalanan panjang hubungan antarbangsa,” ujar Anni.

Melalui karya-karya yang dipamerkan, ia berupaya menerjemahkan ingatan kolektif tersebut ke dalam bahasa visual yang menghubungkan masa lalu dengan realitas masa kini.

Menurutnya, tema “Jalur Rempah” juga menjadi ajakan untuk melihat kembali kekayaan budaya yang lahir dari keberagaman dan keterbukaan masyarakat Nusantara.

“Setiap karya dalam pameran ini merupakan refleksi atas perjalanan sejarah yang tidak hanya berbicara tentang komoditas rempah, tetapi juga tentang manusia, lingkungan, tradisi, dan warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Anni berharap pameran tersebut dapat menjadi ruang dialog, ruang belajar, sekaligus ruang apresiasi terhadap kekayaan sejarah dan budaya Nusantara.

Ia juga berharap karya-karya yang ditampilkan mampu menginspirasi masyarakat untuk lebih memahami pentingnya menjaga warisan budaya serta memperkuat kesadaran akan identitas bangsa yang dibangun melalui perjalanan panjang peradaban maritim dan Jalur Rempah.

Sementara itu, kurator pameran Heri Kris menjelaskan bahwa pameran ini tidak hanya menonjolkan aspek estetika karya seni, tetapi juga menghadirkan nilai edukatif yang menghubungkan masyarakat dengan sejarah melalui pendekatan seni rupa.

Menurutnya, setiap karya yang dipamerkan memiliki narasi yang mengajak pengunjung memahami bagaimana Jalur Rempah membentuk peradaban, identitas, dan hubungan antarbangsa yang berlangsung selama berabad-abad.

Karena itu, pameran tersebut diharapkan menjadi ruang apresiasi sekaligus media pembelajaran bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal sejarah Nusantara dari perspektif yang lebih kreatif.

Pameran ini terbuka untuk umum dan ditujukan bagi berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi, komunitas budaya, hingga masyarakat luas yang ingin menikmati karya seni sekaligus memperluas wawasan tentang sejarah Jalur Rempah.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP.

Penyelenggaraannya terlaksana melalui kolaborasi antara Museum Aceh, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, dan ASPEN sebagai bentuk sinergi dalam menghadirkan ruang apresiasi seni sekaligus memperkuat pelestarian sejarah dan kebudayaan Nusantara.

Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan pameran tersebut, karya-karya “Jalur Rempah” masih dapat dinikmati hingga 19 Juli 2026 di Museum Aceh.

Melalui pameran ini, pengunjung tidak hanya diajak menikmati keindahan seni lukis, tetapi juga menyusuri kembali jejak sejarah Aceh dan Nusantara sebagai kawasan yang pernah menjadi pusat perdagangan rempah dunia serta titik temu berbagai peradaban.[]

Media Online