GLOBALUTAMA

Iran Diserang Lagi, Selat Hormuz Kembali Ditutup

×

Iran Diserang Lagi, Selat Hormuz Kembali Ditutup

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Selat Hormuz kembali ditutup. (Ist)

MITRABERITA.NET | Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Pemerintah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz setelah Israel melancarkan serangan ke Lebanon, sebuah langkah yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan sekaligus mengancam jalur perdagangan energi dunia.

Keputusan Teheran menutup salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia itu segera memicu perhatian internasional. Amerika Serikat menyatakan tetap siaga dan terus memantau situasi di kawasan strategis tersebut.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) dalam pernyataannya, Sabtu (20/6/2026), menegaskan bahwa pasukan AS tetap berada di kawasan untuk memastikan seluruh ketentuan perjanjian yang telah disepakati dengan Iran tetap dijalankan.

“Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, dipatuhi, dan berlaku penuh,” demikian pernyataan CENTCOM, seperti dilansir Detikcom.

CENTCOM yang mengawasi operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah juga mengungkapkan bahwa sebanyak 55 kapal komersial masih berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu. Hingga saat ini, jalur aman pelayaran internasional disebut masih dapat digunakan meski situasi keamanan terus dipantau secara ketat.

Pengumuman Iran menutup Selat Hormuz dilakukan beberapa jam setelah Israel menggempur wilayah Lebanon. Teheran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan yang selama ini dijaga bersama Amerika Serikat dan sejumlah pihak terkait.

Langkah Iran tersebut menambah ketidakpastian di kawasan yang dalam beberapa bulan terakhir berupaya menjaga stabilitas pasca-serangkaian konflik bersenjata dan ketegangan diplomatik.

Situasi menjadi semakin sensitif karena pada saat yang sama Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan melanjutkan pembicaraan terkait implementasi perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Negosiasi lanjutan itu diperkirakan berlangsung di Swiss dalam beberapa hari mendatang.

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, bahkan telah menyatakan rencananya untuk menghadiri perundingan tersebut.

“Saya memperkirakan akan melakukan perjalanan ke Swiss dalam beberapa hari ke depan untuk mengambil bagian dalam negosiasi,” ujar Vance dalam wawancara dengan Fox News sebelum pengumuman penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Penutupan Selat Hormuz kembali menimbulkan kekhawatiran pasar global. Jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk melewati kawasan tersebut sebelum dikirim ke berbagai negara tujuan.

Ironisnya, keputusan Iran diambil saat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz justru sedang meningkat. Data perusahaan pelacak maritim menunjukkan lalu lintas kapal di kawasan itu pada Jumat (19/6/2026) mencapai tingkat tersibuk dalam dua bulan terakhir.

Pengamat menilai perkembangan terbaru ini berpotensi memengaruhi harga energi global serta memperbesar risiko konflik regional apabila tidak segera diikuti langkah diplomasi yang efektif dari seluruh pihak terkait.

Dunia kini menunggu hasil negosiasi yang akan berlangsung di Swiss, sembari mencermati apakah penutupan Selat Hormuz akan berlangsung sementara atau berkembang menjadi krisis baru yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Editor: Redaksi

Media Online