DAERAH

Inisiator Pemekaran Aceh Raya Dikukuhkan Jadi Guru Besar USK

×

Inisiator Pemekaran Aceh Raya Dikukuhkan Jadi Guru Besar USK

Sebarkan artikel ini
Ketua Panitia Pemekaran Aceh Raya, Abdurrahman Ahmad bersama Sekjen Aceh Raya menghadiri prosesi pengukuhan Prof. Dr. Drs. Ir. Tarmizi, M.Sc. sebagai Guru Besar Bidang Matematika Komputasi di Aula FMIPA USK, Banda Aceh, pada Selasa (12/5/2026). Foto: Mitraberita

MITRABERITA.NET | Perjalanan panjang penuh perjuangan dan pengabdian mengantarkan Prof. Dr. Drs. Ir. Tarmizi, M.Sc. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Matematika Komputasi.

Pengukuhan digelar di Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, pada Selasa (12/5/2026). Ketua Panitia Pemekaran Aceh Raya, Abdurrahman Ahmad ikut hadir langsung bersama Sekjen Aceh Raya, menyaksikan prosesi pengukuhan.

Pengukuhan tersebut bukan sekadar pencapaian akademik tertinggi bagi seorang dosen, tetapi juga menjadi penanda pengakuan atas dedikasi panjang Tarmizi dalam dunia pendidikan tinggi, pengembangan kelembagaan universitas, hingga kontribusinya dalam pembangunan Aceh, termasuk sebagai salah satu inisiator pemekaran Aceh Raya.

Di balik toga profesor yang kini disandangnya, tersimpan kisah perjuangan seorang anak kampung dari Desa Aneuk Paya, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, yang tumbuh dalam keterbatasan namun berhasil menembus dunia akademik internasional.

Tarmizi lahir pada 5 Juli 1964 dari pasangan Usman bin Ismail dan Halimah binti Saman. Masa kecilnya tidak berjalan mudah. Saat usianya sekitar lima tahun, ia kehilangan ibunda tercinta dan kemudian dibesarkan oleh kakak perempuannya.

Kehidupan sederhana di kampung menjadi bagian penting yang membentuk karakter dan semangat hidupnya. Masa kecilnya diwarnai kehidupan bersahaja, mulai dari berjalan kaki ke sekolah hingga menikmati kehidupan desa bersama teman-temannya di Lhoknga.

Namun keterbatasan ekonomi dan berbagai hambatan pendidikan tidak pernah menghentikan langkahnya untuk terus belajar.

Setelah menamatkan pendidikan di SMP Negeri Lhoknga, Tarmizi sempat bercita-cita masuk sekolah kesehatan agar dapat menjadi perawat. Namun keinginan tersebut gagal terwujud karena tidak lulus seleksi.

Di tengah keterbatasan sistem rayonisasi pendidikan saat itu, ia akhirnya melanjutkan pendidikan di SMA Swasta Mughayatsyah Banda Aceh dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 1984.

Titik balik hidupnya terjadi ketika diterima di Universitas Syiah Kuala melalui jalur SIPENMARU pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik.

Namun perjalanan akademiknya berubah ketika Universitas Syiah Kuala membuka program ikatan dinas calon dosen bidang MIPA untuk mempersiapkan tenaga akademik menuju pembentukan FMIPA.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan Tarmizi untuk melanjutkan studi Matematika di FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dengan dukungan beasiswa penuh dari Universitas Syiah Kuala.

Program itu menjadi pintu awal pengabdiannya di dunia akademik.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana pada tahun 1990, Tarmizi kembali ke Aceh dan mulai mengajar di Fakultas Teknik serta Koordinatorat MIPA Universitas Syiah Kuala yang saat itu menjadi embrio lahirnya FMIPA.

Sebagai dosen muda, ia dikenal aktif mengajar berbagai mata kuliah dasar, mulai dari matematika, metode numerik, hingga aljabar linier.

Tidak hanya fokus di ruang kuliah, Tarmizi juga terlibat dalam berbagai program pengembangan pendidikan tinggi dan penguatan kelembagaan kampus.

Semangatnya untuk terus berkembang kemudian membawanya melanjutkan pendidikan ke Jepang melalui program fellowship dari Overseas Economic Cooperation Fund (OECF) Jepang pada tahun 1993.

Sebelum berangkat ke Jepang, ia menjalani pelatihan bahasa Jepang intensif di IPB Bogor. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan bahasa di Tokyo sebelum diterima di Universitas Tohoku.

Di Jepang, Tarmizi menempuh pendidikan magister di bawah bimbingan Prof. Dr. Junji Kato.

Usai meraih gelar magister, ia melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Tokushima dalam bidang System Engineering di bawah bimbingan Prof. Dr. Hitoshi Imai dan berhasil menyelesaikan studi doktoralnya pada tahun 2000.

Sekembalinya ke Indonesia, Tarmizi kembali mengabdi di Universitas Syiah Kuala dengan semangat baru.

Selain aktif mengajar dan meneliti, ia dipercaya memegang berbagai jabatan strategis di lingkungan kampus, mulai dari Direktur Program Diploma III FMIPA, Wakil Dekan III FMIPA, Kepala Laboratorium Komputasi Numerik, Kepala Laboratorium Komputasi Dasar, hingga menjadi Asesor BAN-PT.

Ia juga terlibat dalam berbagai proyek strategis pengembangan kampus, termasuk sebagai Direktur Eksekutif PIU 7 in 1 USK dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk berbagai proyek pembangunan sarana dan prasarana universitas.

Pengabdiannya yang besar terhadap pembangunan kelembagaan kampus membuat perjalanan menuju jabatan profesor berlangsung lebih panjang dibanding sebagian akademisi lainnya.

Namun dedikasi tersebut justru memperlihatkan bahwa kontribusi Tarmizi tidak hanya terfokus pada pengembangan karier pribadi, melainkan juga pada pembangunan institusi pendidikan secara menyeluruh.

Di luar dunia akademik, Tarmizi juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang ikut menggagas pemekaran Aceh Raya, sebuah gagasan yang lahir dari semangat memperkuat pemerataan pembangunan dan pelayanan masyarakat di wilayah Aceh Besar dan sekitarnya.

Pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Aceh, khususnya warga Lhoknga dan Aceh Besar.

Perjalanan hidup Tarmizi menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pencapaian besar, selama disertai kerja keras, disiplin, dan pengabdian yang tulus.

Dari seorang anak kampung di pesisir Lhoknga hingga menjadi profesor di Universitas Syiah Kuala, Tarmizi membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih melalui ketekunan dan semangat untuk terus belajar.[]

Media Online